Mendengarkan Curhatan Dengan Empati, Bukan Dengan Simpati

Mendengarkan Curhatan Dengan Empati, Bukan Dengan Simpati

Saya gak tau kenapa banyak teman-teman mempercayakan sebagian rahasia mereka pada saya. Dari zaman saya duduk di bangku SMP memang sudah menjadi tumpahan tempat bercerita oleh teman-teman. 

Mungkin karena saya juga senang (ngumbar *?? etdaaahh!!*) curhat ke orang lain, jadinya timbal balik yang terjadi. Banyak teman-teman saya baik perempuan atau laki-laki yang senang bercerita tentang apa saja pada saya.

Ketika duduk di bangku SMA, kuliah, jadi emak-emak hingga sampai detik ini, sudah tak terhitung curhatan yang mampir di telinga, hati dan pikiran saya. 

Ada beberapa curhatan yang benar-benar "nancep" di hati dan pikiran saya, dan kadang jika sudah demikian, saya jadi ikut-ikutan membawa rasa (baper) atau feeling.

Dari begitu banyak waktu (baca: tahun-tahun) saya mendengarkan berbagai curhatan teman-teman itu, saya belajar untuk tidak terlalu bersimpati dengan apa isi curhatan itu sendiri. 

Saya belajar untuk mendengarkan curhatan dengan empati, bukan dengan simpati. Meskipun seperti kata saya di atas, jika konten dari curhatan itu bener-bener "nancep" di hati saya, kadang emosi saya juga ikut berperan. Wajar karena saya toh manusia.


Kadang saya tak bisa mengontrol emosi saya walau saya berusaha seminimal mungkin untuk tidak main perasaan di sini. Tidak terjebak dalam rasa simpati, kasihan, dan rasa-rasa lainnya.

Kadang saya bertanya-tanya kenapa mereka begitu mempercayakan rahasia mereka pada saya. Padahal kadang saya membuat note (khayalan) terinspirasi dari curhatan-curhatan mereka juga lho.. *hehehe, tapi kan gak dikasih tau itu milik siapa*. 

Dan tak jarang saya pun juga tak bisa memberikan solusi yang tepat dan bagus untuk setiap curhatan itu, tapi mungkin teman-teman memang tidak menginginkan solusi, hanya ingin mengeluarkan kesesakan dan kesumpekan yang (coba) mereka bagi bersama saya, agar batin mereka (mungkin) bisa lebih "plong" karenanya.

Saya berusaha mencoba untuk menjadi pendengar yang baik dalam setiap curhatan-curhatan mereka. Sekalipun saya tidak setuju dengan segala isi curhatan itu, saya pantang menghakimi teman-teman yang sudah mempercayai saya itu. 

Mungkin karena tak ada penghakiman itu, saya jadi tidak bisa memberikan solusi yang bagus dan tepat. Entahlah..

Yang jelas, saya suka mendengarkan curhatan teman-teman saya dan saya senang mereka mempercayai saya. Semoga saja saya tetap amanah dalam memegang kepercayaan mereka. Baiklah.. terima kasih buat yang mempercayakan sebagian rahasia mereka pada saya dan buat teman-teman yang kadang saya curhatin, terima kasih juga ya. :D

Empati ini selalu siap saya bagikan kepada kalian semua, tapi simpati saya, biar saya sendiri yang tahu saya tujukan pada siapa saja. huehehehe.

27 April 2010
Penulis: Retrispur 


Mendengarkan Curhatan Dengan Empati, Bukan Dengan Simpati
----------

Masih belum tau bedanya Simpati dan Empati?

Simpati dan Empati sama-sama berurusan dengan emosi dan juga berasal dari istilah yang sama pula, yaitu "pathos", kata dalam bahasa Yunani yang maknanya berkaitan dengan penderitaan dan perasaan.

Simpati menggambarkan perasaan belas kasih dan sayang atas kejadian yang menimpa seseorang, sedangkan empati dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan berbagi secara langsung kesedihan mereka tersebut.

Bersimpati bisa diartikan sebagai orang yang berbagi keprihatinan (ikut prihatin) dan belasungkawa, namun mereka secara terbuka mengakui bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan langsung bagaimana perasaan mereka tentang kejadian itu.

Sedangkan empati artinya satu perasaan di mana seseorang benar-benar tahu perasaan dari suatu kejadian karena ia pernah berada dalam posisi itu. Sederhananya, orang yang bersimpati atas kehilangan seseorang yang dicintai, berarti ia merasa belas kasih dan prihatin atas kehilangan itu tanpa mengetahui pasti bagaimana rasanya kehilangan, sedangkan berempati berarti seseorang mengetahui perasaaan dan bisa merasakan karena pernah mengalami hal yang serupa tersebut.

Salam :)


Baca Juga

Artikel ini memiliki 4 Komentar

  1. Memang harus ikut berempati saat mendengar curhatan orang lain supaya orang yang curhat pun merasa punya perasaan yang sama dengan yang dicurhatinya. Atau turut membantu dalam peran perasaan dari si pencurhat dalam menyampaikan keluh kesahnya. Karena kalau cuma sekedar hanya simpati, kayaknya malah jadi miris orang sudah capek-capek curhat tapi gak ada peran empati dari si pedengar yaa. Betul begitu kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya idealnya sih gitu kak :) empati emang lebih susah dan perlu kecerdasan emosional untuk bisa berempati

      Hapus
  2. Klo da mslh aq milih curhat sma sang pncipta om, lbh ddgar & insya allah dberikan solusi jg.

    BalasHapus