-->

Sedikit Cerita Tentang Lebaran di Kampung Sembilangan

Sedikit Cerita Tentang Lebaran di Kampung Sembilangan

Hari yang ditunggu hampir datang, puasa 30 hari telah selesai. Malam takbir akan terdengar, hal itu akan menjadi malam puncak dari segala perbuatan kita selama 1 bulan. Berkesan atau tidak bulan baik ini, semua tidak akan terulang atau 2 kali terjadi kecuali, kita sabar menunggunya dalam 1 tahun ke depan. 

Di Kp. Sembilangan kue atau jenis manisan lainnya menjadi salah satu pelengkap hari raya IdulFitri. Seperti sengaja dibuat agar saat lebaran tamu tidak hanya datang lalu pergi, duduk tanpa makan-makan, dan nanti saat pulang balik tidak membawa tentengan. Ya walaupun mungkin sang tamu hanya menginginkan pertemuan tanpa mengharapkan hal lain, silaturahmi, ngobrol-ngobrol, mencicipi makanan atau kue yang dibuat oleh tuan rumah, dan ada yang hanya ingin sekedar bersalaman untuk meminta maaf. 

Mengenai kue-kue lebaran berikut macam-macam nama kue yang sering dibuat warga Sembilangan. 
Ada kue karcis, kue bakar, kue nastar, kue kembang goyang, kue biji ketapang, kue umpet, kue akar kelapa, manisan kolang-kaling, kacang goreng, rengginang, keripik bawang, dan masih banyak lagi. 

Pada hari raya kami datang dan bertukar kue, bertamu lalu mencicipi hidangan yang terlihat begitu menarik. Semua terangkum begitu sangat manis, dan terjadi ketika hari lebaran semakin dekat. 

Semua akan dirindukan orang-orang yang sekarang sulit pulang ke kampung halaman, apalagi jika mereka menyukai kue-kue ini. Dan jika pada tahun sebelumnya mereka ikut membuatnya, rasa rindu dan keinginan untuk pulang semakin besar. Selain kue saat lebaran, terdapat satu jenis hidangan khas yakni ketupat. Makanan yang paling diminati saat lebaran yaitu ketupat. Bahkan ini sudah menjadi salah satu ciri khas Kp. Sembilangan. 

Dalam istilah jawa, ketupat diartikan dengan ngaku lepat alias mengakui kesalahan. Ketupat menjadi makanan di hari raya setelah sholat ied, atau menjadi sarapan pagi untuk orang rumah. Ketupat bisa disajikan dengan lauk dan sayur santan, menambah rasa gurih dan kesan lebih menarik. Akan seperti ini setiap tahunnya, seperti tradisi yang tidak pernah terputus dari generasi ke generasi. Malam takbiran adalah waktu tepat untuk menyiapkan sajian pelengkap ketupat.
kue kembang goyang betawi
Kue Kembang Goyang
Tidak sedikit orang yang menangis ketika mendengar suara takbir, mengingat nama-nama yang sudah tiada, merindukan kebersamaan yang telah usai, dan mengharapkan pertemuan yang panjang. Banyak yang sudah mengatur jadwal di malam itu, bepergian, menetap di rumah, keliling kampung untuk takbiran atau mempersiapkan kue lebaran atau ketupat untuk pagi harinya. 

Tahun ke tahun keramaian selalu ada di tengah Kp. Sembilangan. Saya begitu mengingat moment beberapa tahun lalu, bahagianya saya berkumpul bersama orang-orang yang ikut menyambut hari raya dengan mengadakan acara keliling kampung sambil membawa benda yang bisa dipukul. Perbedaan begitu terasa pada tahun ini, jika tidak sekarang, semoga besok kita semua mendapatkan kabar baik atas sembuhnya dunia, Aamiin. 

Malam takbiran adalah malam paling berkesan bagi setiap keluarga, perkumpulan menjadi mimpi agar paginya seluruh sanak-saudara berkumpul. Malam yang paling ditunggu selama 1 bulan penuh, malam di mana pesta kembang api ramai di langit. Menyiapkan dan merapikan baju lebaran, membungkus kue-kue dengan rapi, dan tidur dengan harapan bisa bangun kembali. 

Semua terjadi di Kp. Sembilangan, berbagai nuansa manis cepat berlalu pada malam bahagia ini. Orang-orang begitu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena, malam takbiran adalah malam paling mengharukan. Apalagi jika harus mendengar suara takbir dari masjid dan mushola-mushola. Entah, ada banyak hati yang menangis mendengar ini semua. 


"Pandemi cepatlah berlalu, kami semua tidak ingin menghilangkan kegiatan yang rutin diadakan setiap tahunnya, teruntuk malam itu saja kau mengerti dan pamit dari semesta"

Hari raya adalah hari mohon maaf dan memaafkan. Siapapun yang bersalah harus meminta maaf, dan yang bersangkutan juga harus memaafkan. Bersalaman, mengucap dan menyadari kekhilafan, dan menangis setelah saling maaf-maafan. Akan begitu seterusnya, sampai satu persatu orang berdatangan ke rumah. Yang muda datang kerumah yang tua, yang tua berdiam diri didalam rumah. Memang tidak ada kata yang bisa diucapkan untuk menyambutnya kecuali, sebuah permohonan maaf dan doa-doa baik. Silaturahmi, menengok saudara yang jauh, memastikan keadaan sama-sama baik dan sehat. Semoga semua bisa kembali normal, agar harapan kita bisa terwujud di lebaran tahun ini. 

Di Kp. Sembilangan saat hari raya tiba semua berkumpul dengan keluarga, menjadikan hari itu sebagai moment paling tepat untuk menebus segala kesalahan. Hari Raya Idulfitri adalah hari yang suci, semua orang seperti baru lahir kembali, dalam keadaan ini kita tak seharusnya membuat kesalahan dengan membiarkan hari ini lewat begitu saja. Semua harus ada kesannya, bahkan untuk sesuatu yang sekarang terlihat begitu menyedihkan. 

Ramadhan hampir usai, puasa sudah kita jalankan dengan seharusnya dan dalam keadaan seperti ini. Lebaran akan tiba, semoga perkumpulan dibolehkan, jalan bersama-sama diizinkan, duduk, ngobrol dan bersalaman tidak dibatasi. Tetap pada pendirian dan pengetahuan, bahwa yang kemarin kita lakukan sudah cara paling baik untuk mengisi bulan penuh berkah ini dengan semestinya. Maaf memang tidak akan mengubah masa lalu, setidaknya itu akan memperbaiki masa depan. Fajar kemenangan akan menyambut, membawa sinar terang rasa damai dan kesucian. Mohon maaf lahir dan batin. [Iphii]



Artikel Lainnya:

2 komentar

Posting Komentar

Berlangganan Via Email