Passengereng Mappuralaloe

Passengereng Mappuralaloe

"Kamu naik saja ke rumah temani Fu Belahang, nanti saya buatkan kopi."

Kalimat itu yang paling melekat dalam ingatan saya dari alm. Fung Emmang. Jika sudah mendengar kalimat itu, saya dengan gembira meniti tangga rumah panggung dengan perlahan dan mendapati senyum khas Fu Belahang yang sedang santai di ruang tengah rumahnya sambil menonton televisi. Tidak lama beliau akan mematikan televisi lalu mengajak saya duduk di ruang tamu untuk menikmati kopi yang sudah disuguhkan Fung Emmang.

Fung Emmang yang memiliki nama asli Rahmawati ini adalah anak dari adik kakek saya, ya beliau adalah bibi saya dari jalur kakek. Usianya hanya beda 4 tahun lebih tua dari saya.

Kata "naik ke rumah" berarti masuk ke rumah, karena rumah yang dimaksud adalah rumah panggung seperti pada umumnya rumah-rumah di pelosok Sulawesi. Fu Belahang yang saya temani ngobrol adalah istri dari adik kakek saya yang juga merupakan ibu dari Fung Emmang.

Obrolan santai dua bahasa yang kerap tidak nyambung ini tidak menghalangi keakraban kami. Fu Belahang paham bahasa Indonesia tapi tidak fasih menggunakannya, sebaliknya saya hanya paham sedikit bahasa Bugis dan gak berani mengucapkannya, takut salah bicara atau bahasa, apalagi yang saya temani ngobrol adalah orang yang lebih tua, perlu penyesuaian tata bahasa sebelum bicara. Semacam Kromo Inggil kalau dalam bahasa Jawa.

Saya hanya lebih banyak mendengar cerita-cerita yang saya juga kurang paham karena dituturkan dalam bahasa Bugis halus. Kalau ada Fung Emmang dan Santi (sepupu) barulah percakapan akan nyambung karena mereka yang akan menerjemahkan obrolan kami. Menerangkan banyak maksud cerita serta nasehat-nasehat yang terkandung di dalamnya. Dari obrolan santai seperti inilah saya banyak belajar segala hal termasuk gegar budaya yang saya alami dan bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungan keluarga besar yang masih kental memegang tradisi ini.

Sepulang saya dari kebun cokelat kakek pagi ataupun sore. Fung Emmang paham betul kalau saya sudah mondar-mandir di dekat rumahnya dan sengaja mengganggunya. Beliau juga paham saya gak akan berani meminta rokok kepada Fu Tabuttu ayahnya, karenanya beliau menyarankan saya menemani Fu Belahang ngobrol sambil minum kopi di rumahnya, dengan begitu Fu Belahang pasti akan memberikan saya rokok sebatang dua batang. Sesuatu yang kurang elok sebenarnya, tapi mereka sepertinya memaklumi saya.


Hal yang seperti ini juga sering saya lakukan ke adik kakek saya Fu Becce yang merupakan neneknya Santi. Saya membuat kopi di rumahnya lalu menemani beliau sekadar ngobrol atau hanya mendengarkan saja cerita-cerita beliau. 


Menemani atau ngobrol dengan orangtua bagi saya mengasikkan, kita bisa tau kisah-kisah masa lalu dan banyak belajar dari opini-opini mereka. Lagipula, ternyata mereka senang diajak ngobrol walau kadang saya gak paham apa yang diceritakan.


Kalo Fung Emmang... terakhir komunikasi dengan beliau saat beliau masih di Samarinda via telpon saja sekitar tahun 2017-2018. Ya memang sudah sangat lama tidak bertemu, karena beliau pindah ke Samarinda sekitar akhir tahun 90-an dan saat beliau pulang ke Bila Ugi saya sudah kembali ke Bekasi.

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa 'aafihaa wa'fu 'anhaa.

Selamat jalan Fung Emmang yang dengan caranya banyak menasehati dan memberi pelajaran, semoga husnul khotimah, amiin.

4 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama