A Child Called 'It', Kisah Pahit Seorang Anak

Maraknya pemberitaan soal korban dan aksi perisakan (bully) ini menurut saya sebenarnya bukan karena aksi perisakan baru ada sekarang, tapi karena meningkatnya kesadaran masyarakat (termasuk media) atas buruknya efek akibat aksi perisakan ini. 

Saya kira tinggal menunggu waktu saja aturan-aturan hukum terkait aksi perisakan ini akan ditegakkan dengan tegas. Tanpa hukuman yang tegas, saya kira aksi-aksi perisakan tidak pernah benar-benar hilang.

Terkait bully membully ini saya kutipkan catatan seorang teman setelah ia membaca buku-buku yang penulisnya mengalami penyiksaan dari ibu kandungnya sendiri. Mungkin dari buku itu kita bisa sedikit sadar bahwa kekerasan kepada anak dapat terjadi di mana saja.

***

Pernahkah kalian membaca trilogi buku karya Dave Pelzer yaitu A Child Called 'It', The Lost Boy dan A Man Named Dave?.

Semuanya adalah kisah nyata dari si empunya pengarang yaitu David Pelzer yang mengalami penyiksaan secara brutal dari ibu kandungnya sendiri sejak dia kecil.

A Child Called 'It'
oleh Dave Pelzer
Alih bahasa: Danan Priatmoko
Gramedia Pustaka Utama, 2001
184 hlm.; 21 cm
ISBN 979-686-400-2

A Child Called 'It' sendiri menceritakan runtutan waktu ketika Dave berumur 4 - 12 th, hingga akhirnya ia terselamatkan dari cengkraman keganasan ibu kandungnya sendiri.

Yang akan banyak kubahas adalah buku pertama dari Dave Pelzer ini karena ketika aku membelinya pada tahun 2002 yang lalu dan membacanya, mataku tak dapat ku alihkan dari buku yang tengah kubaca. Dan emosiku larut dalam alur cerita dalam buku tersebut. Marah, sedih, tak percaya, hingga menangis terguguk-guguk selalu kualami ketika aku dengan konsentrasi penuh membaca buku itu. 

Bagaimana mungkin seorang ibu begitu tega terhadap anak yang dikandungnya, anak yang membawa setengah darahnya dan dibesarkannya, mampu begitu rupa menyiksa anaknya dalam batas ketidakwajaran.

PENDISIPLINAN ANAK

Atas dasar apa dia melakukan semua itu, apa hanya untuk dalih "pengasuhan untuk pendisiplinan anak" mengakibatkan si ibu dari Dave ini melakukannya, begitu inginnya dia agar anak-anaknya berdisiplin dan membabi buta menerapkannya. Atau memang dia begitu mabuknya karena dia memang seorang pecandu alkohol? Atau memang dia sudah bisa dikategorikan sebagai orang dengan kecenderungan "kewarasan dipertanyakan" ?...

*penggalan pertama:

...........
Begitu ayah dan kedua saudaraku berangkat bermain, Ibu mengeluarkan sebuah popok yang sudah kotor oleh kotoran serta air kencing Russell. Ibu mengusapkan popok kotor itu ke wajahku. Aku berusaha tetap duduk diam, sebab aku tahu kalau aku bergerak, aku akan mendapat perlakuan yang lebih buruk lagi. Wajahku tetap kutundukkan. Aku tidak bisa melihat Ibu yang berdiri di depanku, tetapi aku bisa mendengar desah nafasnya yang berat.

Setelah memperlakukan aku seperti itu --yang bagiku rasanya lama sekali-- Ibu berlutut di sebelah kursi tempatku duduk, lalu dengan suara pelan ia berkata, "Makan ini."

Aku terkejut. Kutegakkan kepalaku, tapi tak kupandang mata Ibuku. "Tidak mau!" kataku dalam hati. Seperti semua kejadian sebelumnya, menolak perintah Ibu berarti kesalahan besar. Ibu menempelengi aku. Dengan erat kupegang kursi tempatku duduk, berusaha untuk tidak jatuh, sebab bila aku jatuh aku takut Ibu akan menginjakku. 
"Kubilang makan ini!" bentaknya dengan suara tertahan.
............................................................................................................................ 
"Makan ini!" Kutahan nafasku. Bau sekali kotoran itu. Ibu menekan tengkukku sehingga wajahku jatuh di atas popok kotor itu. Ibu menggesek-gesekkan kepalaku ke kiri ke kanan di atas popok kotor itu.
...........


*penggalan kedua:

..............
Tetapi rupanya Ibu paling senang mencekoki aku sabun cair pencuci piring. Ia memaksaku menelan sabun pencuci piring cair berwarna pink itu dengan langsung menuangkannya dari botolnya, lalu menyuruhku berdiri di basement. Mulutku terasa kering sekali, sampai-sampai aku meminum air banyak-banyak dari selang keran di situ. 

Tak lama kemudian aku sadar telah membuat kesalahan besar. Perutku jadi sakit sekali. Aku berteriak kepada Ibu, mohon diizinkan menggunakan toilet di atas. Ia tidak mengizinkan. Aku berdiri saja di basement, takut bergerak sebab kotoran cair mengalir keluar dari celana dalamku, terus mengalir sepanjang kakiku, lalu ke lantai.

Aku merasa hina sekali, aku menangis seperti bayi. Aku merasa tidak lagi punya harga diri. .........
Kuraih sebuah ember, lalu aku jongkok di atas ember itu untuk mengeluarkan sisa kotoran. Aku merasa lebih rendah daripada anjing.
..................


*penggalan ketiga:

..............
Ibu juga punya permainan lain untuk aku yang menjadi kegemarannya pada saat Ayah tidak di rumah. ia menyuruhku membersihkan kamar mandi dengan batas waktu seperti biasanya. Tetapi kali itu ia membawa sebuah ember berisi campuran amonia dan Clorox. Di kamar mandi ada aku dan ember tadi, pintu kamar mandi ditutup. 

Ketika pintu ditutup, udara di kamar mandi cepat berubah. Aku merangkak ke pojok kamar mandi untuk melihat isi ember tadi. Uap tipis berwarna abu-abu melayang ke langit-langit kamar mandi. Ketika kuhirup udara di dekat situ, aku merasa pusing dan mual. Tenggorokanku terasa seperti terbakar. Beberapa menit kemudian tenggorokanku menjadi sangat sakit. Gas yang dihasilkan oleh campuran amonia dan Clorox membuat mataku berair.

Beberapa menit kemudian aku mulai merasakan mual, seperti mau muntah. Aku berbaring di lantai kamar mandi, kuregangkan badan ku, lalu dengan kaki kugeser ember itu sampai ke dekat pintu kamar mandi. Aku berguling ke sisi lain kamar mandi sambil menutupi mulut, hidung dan mataku dengan kain lap. Rasanya aku sedang berada di kamar gas. 

Setelah setengah jam, Ibu membuka pintu kamar mandi dan menyuruhku membuang cairan di ember itu ke saluran air di garasi. Di basement, selama lebih dari satu jam, aku batuk-batuk darah. Dari semua bentuk hukuman Ibu, permainan kamar gas paling aku benci.
.....................


Di atas adalah segelintir saduran yang sudah aku penggal-penggal karena aslinya begitu panjang dan penuh detail. Asalkan maksudnya tercapai, cukuplah kiranya bagian dari segelintir penyiksaan yang dialami oleh Dave Pelzer ini aku sertakan di sini. 

Bagi yang sudah membacanya, aku yakin sependapat denganku, bahwa ketika mula membaca, kita berpikiran ini tidak mungkin terjadi, ini amat sangat memprihatinkan dan membuat kita sebagai manusia pasti merasa terusik hati nuraninya.

Tapi memang kenyataannya, child abuse memang nyata!!! dan kadang mungkin ada dan terjadi di sekitar dan sekeliling kita. 

Coba saja kita tengok, ketika berita di televisi mengatakan bahwa seorang anak dianiaya oleh ibunya sendiri atau oleh ayahnya hingga badannya babak belur, penuh sundutan rokok, giginya rontok dan kepalanya botak. Apa yang kita lihat di televisi memang benar-benar terjadi di kehidupan nyata ini, kawan!!

Dan semoga kita bukanlah subyek dalam hal ini. Naudzubillah min dzalik yaa!!! Karena bukankah seyogyanya seorang anak adalah titipan dan rahmat dari Allah swt yang wajib kita jaga, kita didik dan kita sayangi dengan setulusnya. 

Kalau dia bersalah atau melakukan kenakalan, sebagai manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran.. aku tak memungkiri, bahwa ketika hati tidak sabar, pasti jeweran akan mampir di telinga buah hatiku. Tapi ketika mendengar tangisannya, hatiku pun menangis pilu, dan segera aku memeluknya dan meminta maaf atas ketidaksabaranku.

Ketika membeli buku A Child Called 'It' pada tanggal 21 Juli 2002, kutuliskan beberapa goresan tintaku di halaman ketiga buku itu.. bunyinya adalah:

"Anak-anakku, membaca kisah ini akan menyadarkan kami --orang tuamu-- bahwa tidak seorangpun dari kalian yang harus mendapatkan perlakuan berlebihan dengan dalih PENGASUHAN UNTUK PENDISIPLINAN ANAK. Tidak akan!! dan tidak seorangpun!! "

Semoga diberi kesabaran yang tak terbatas untuk para ibu-ibu dalam menghadapi ulah anak-anaknya.. hehhee.. 

*terutama ditujukan pada diri sendiri*

5 Juni 2009. 
Penulis: Retrispur



komentar

Lebih baru Lebih lama