Kepada Hujan

solilokui Kepada Hujan

Love sometimes it makes us cry
Forgive me when I get it wrong
Sometimes it`s hard
To be that strong
And… I would do anything
For you I`d turn the stars around
I`d find the way somehow
This time you`ll see I`ll build
A bridge to you again
Love shines to sweep away the past
Were more than lovers more than friends
(Bad English)

Sosok dia sudah sangat merasuk dalam keseharianku. Aku tahu bahwa aku jauh dari sempurna baginya. Tuturku terkadang gagap, hatiku terkadang tak hangat, perilaku ku pun masih berhias duri dan kerikil. Namun rasa sayang ini sudah sedemikian menjalar dan benturan antara hati dan kekuranganku selalu berdenting, mengaum, memekik, dan gaduh.

Tapi aku begitu menikmati segala bentuk kebingungan itu. Ada sekelumit kesejukan ketika hatiku tercabik baik oleh keindahan maupun kekalutan. Seperti hujan yang membasahi tanah. Ada aroma yang khas, bukan harum tapi kesahajaan yang indah dan menyejukkan.

Aku dan dia jarang bertatap dan berhadapan dalam satu waktu kebersamaan. Sering kurindukan sosoknya ketika curahan hujan turun dan airnya memercik dibalik kaca. Dalam imajinasiku, indah dan sejuknya hujan tentu sebanding dengan sosok manisnya. 

Ada suara halus yang menyapa, ada sentuhan yang meraba, ada sejuk yang membalut. Akan kugandrungi dan kuelukan hujan, sama seperti begitu sayangnya aku pada sosok dia.

Pagi ini hujan mengguyur dan aku ingin sekali bergandengan dengan hujan agar kendala rentang jarak antara aku dan dia bisa terwakili olehmu, hujan. Gerimis perlahan menetes seperti sebuah kecupan yang membangkitkan semangat dan senyumku pagi ini.

Rinduku belum kunjung terpuaskan, kusampaikan hal itu pada hujan. Tapi hujan tak menjawab. Namun aku tahu bahwa dia tersenyum dan mengenggam tanganku, seperti ketika dia ada didekatku. 

Kau adalah representasi dari dirinya, dia yang menggayut dalam benak dan hatiku. Tentu kau kenal dengannya, suaranya merdu sepertimu. Aku berkata pada hujan tentang sosok dia, seseorang di sana yang kuharap dekat.

Ini hari yang istimewa bagi kami, wahai hujan. Telah kuakrabi malam, kutembus dinginnya dini hari, kujalani kabut tebal yang ada, berlari, terseok, terjatuh, namun aku harus sampai pada titik itu. Hari istimewa baginya. Kupersembahkan sesuatu yang terbaik bagi hatinya.

Telah kurancang dalam hatiku pagi yang dihiasi oleh beberapa kupu-kupu yang beriringan menuju lembah padang rumput yang hijau dan luas. Di situ aku berharap bisa menemui dirinya dalam balutan kehangatan hati dan senyum mengembang, lalu akan kusodorkan rindu dan pelukan erat dari seorang yang sederhana sepertiku ini. Lalu kubiarkan beberapa tetes airmata menuruni pipi sebagai simbol dari pelepasan rindu yang indah dan bersahaja.

Namun apakah dia akan berdiri di sana, wahai hujan? 

Bisakah dalam segala keterbatasanku ini, aku dapat meraih hatinya di hari istimewanya? Aku bergumul terus dalam kekumalan hidup, namun ada satu ruang yang berusaha kubersihkan dari debu. Agar dia dapat melongok dan merasa betah untuk mengunjungi. Ya, hati inilah yang aku upayakan. Seperti kupersembahkannya hati yang bahagia ini ketika menyambut kedatanganmu, wahai hujan.

solilokui Kepada Hujan

Hujan terus memandangiku......

Ada perasaan kikuk yang kerap datang, ketika dia memandangku dengan tatapan seperti yang kau lakukan sekarang, hujan.

Apakah hati ini punya kesempatan untuk memberi warna yang indah dalam sosoknya, sedangkan duniaku terasa begitu sempit......apakah hati ini bisa mengupayakan terang yang tak menyilaukan diantara dunia sekelilingnya yang nampak hijau dan berkilau-berpendar mengagumkan?

Katakan wahai hujan, apakah hati ini cukup berharga untuk bisa merapat dalam sosok dia? Aku beranjak mendekat hujan. Kupeluk hujan dengan penuh harap. Kurasakan belaiannya menyapu seluruh tubuhku. Kubiarkan hujan untuk merasakan kebingungan yang hinggap dihatiku. 

Lalu hujan turun semakin deras dan terasa tubuhku terguncang-guncang, namun hatiku tak tersakiti oleh guncangan hujan.....kubiarkan diriku histeris seiring dengan suara derasnya air hujan yang turun.

Sesaat kemudian, aku mulai lemas dan aku mulai terduduk. Hujan pun sudah mulai beranjak pamit untuk datang lagi kemudian. Kuhirup aroma tanah yang ditinggalkan hujan. Begitu eksotis dan menenteramkan. 

Kulihat beberapa tangkai bunga tersenyum lebar dengan cantik. Kuingat senyum itu. Senyum yang sangat aku kenal. Senyum yang membuat kepercayaanku tumbuh dan kebahagiaanlu merangkak naik. Semoga senyum itu tak akan pernah punah dari sosok dia, seseorang yang sangat aku kagumi dan aku sayang. 

Semoga hati yang kupunya ini bisa membuat senyum itu makin arif, dewasa, ikhlas, dan kubungkus hati ini sebagai persembahanku. Semoga dia mendapat yang terbaik dalam kehidupannya. Kutunggu kabar cerita dari kupu-kupu di lembah itu, bunga warna-warni, rumput, tanah dan tentu saja hujan. 

Kutunggu berita yang menggembirakan: bahwa dia di sana selalu bahagia dan mempunyai hati yang kuat di hari istimewanya, di hidupnya, selamanya.......

SOLILOKUI karya erik priabollywood
Januari 2009


Klik untuk komentar