Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan

Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan
Orang memanggilku  Dean, lengkapnya Deandrea. Aku selalu takjub dengan proses terjadinya hujan. Bagaimana air pada jemuran yang terkena terik matahari berubah menjadi uap sehingga dapat terbang mengangkasa. Berkumpul dan menyatu dalam awan di langit lalu kemudian menjadi tetes air dan tercurah turun membasahi bumi kembali.

"Kalau nanti sore hujan, jangan pulang dulu sebelum aku datang menjemput kamu," ucapku sambil menatap matanya sungguh-sungguh.

Ia membalas tatapanku seperti biasa, lembut dan damai. Ia mengangguk sambil memberiku senyum tertahan, tanpa kata berbalik dan berjalan masuk ke gerbang sekolah, melewati lapangan basket lalu hilang di koridor kelas yang berjejer. 

Aku pun meninggalkan tempat itu setelah puas memandangi rambut hitam panjang kepang dua yang berjalan cepat tanpa pernah menengok. Satu-dua kali membalas sapaan dari teman-temannya yang kukenal, melewati tukang-tukang dagang dan obrolan anak-anak tongkrongan langkahku semakin menjauhi lokasi sekolahnya.


Aku suka dengan istilah "September Ceria" yang diambil dari judul lagu Vina Panduwinata, meski September sudah berlalu dan hampir setiap hari hujan datang, tapi hujan juga berarti ceria, yah Oktober, November, Desember kapan pun itu, hujan selalu berarti ceria

Ceria karena hujan adalah saat menjemput pujaan hati pulang sekolah dengan hanya berbekal payung seadanya, lalu menyusuri aspal basah bersamanya.

"Kamu tahu apa yang aku suka dari hujan?" tanyanya waktu itu.

"Suasana jadi gak panas?" jawabku.
"Bukan, kalau gak hujan pasti kamu gak menjemput aku kan?"
"Iya, kalau tidak hujan kamu kan bisa pulang bersama teman-teman kamu, gak perlu aku jemput kan?"
"Iya juga sih, tapi kenapa kalau hujan kamu menjemput aku?"
"......"
Pertanyaan yang tidak pernah aku jawab.

Ya benar, jika sedang tidak hujan, baik saat sedang sendirian atau sedang bersama teman, aku memilih mengawasinya dari jauh, menjadi secret admirer yang cukup merasa puas saat ia tahu aku ada, mengawasinya, mencoba hadir.. walau jauhEntah siapa yang memberi ide menjemputnya setiap hujan datang. 

Ada tatapan heran kala pertama, bukan tatapan marah sepertinya, ia seperti enggan menerima payungku. Atau mungkin ia ingin berbasah-basahan bersama?, kubuang kesimpulan prematur itu jauh-jauh.

"Bilang aja ojek payung" memberinya alibi agar ia tidak canggung menerima payung yang aku tawarkan.
"Maksudmu?" kudengar tanyanya di antara suara gemericik hujan.
"Ya bilang aja ojek payung langganan, kalau ada yang nanyain"
"Emang akan ada yang nanyain?"
"Kan aku bilang kalau ada yang nanyain hahaha" sambutku dengan tetap mengambil posisi di belakangnya.

Selanjutnya tidak ada lagi pertanyaan, aku hanya memantau cuaca. Jika mendung dan hujan maka aku hanya tahu untuk membawakannya payung. Apakah perlu alasan untuk hal sesederhana itu?.
_____

"Kamu lucu, basah-basahan padahal membawa payung," katamu suatu ketika sambil menerima payung yang aku sodorkan. 

Kata-katanya memecah hening saat aku tak bisa berbicara banyak, hanya mematung yang bisa aku lakukan menyadari ia sedang menatapi sekujur tubuhku yang basah dengan sedikit senyum simpul.

Aku pikir dia marah waktu itu, sepertinya dia perlu memikirkan beberapa saat skenario dadakan yang aku tawarkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Jika yang dia bayangkan kami akan satu payung berdua di tengah hujan dan disaksikan puluhan pasang mata yang berteduh saat itu... terlalu manis untuk menjadi kenyataan

Dengan cepat ia mengembangkan payung dan mulai melangkah anggun menerobos hujan yang tidak terlalu deras lagi.

Tak banyak kenangan yang tersimpan dari aksi konyol spontanitas seperti itu, situasi dan kondisi yang menentukan, waktu merupakan barang mahal. Terlambat mengambil tindakan karena terlalu lama berpikir hanya memberi angin kepada keraguan untuk mengambil alih keadaan. Lalu semua segera akan menjadi serba terlambat dan berubah menjadi prasasti penyesalan. Aku tidak akan izinkan itu terjadi, setiap detik bersamanya terlalu berharga.

Benar kata orang, hujan bukan hanya menyebabkan genangan tapi juga bisa menghadirkan kembali kenangan. Semua akan baik-baik saja asal kita tidak terlalu lama berendam dalam genangan kenangan itu 😊
Terlambat mengambil tindakan karena terlalu lama berpikir hanya memberi angin kepada keraguan untuk mengambil alih keadaan. Lalu semua segera akan menjadi serba terlambat dan berubah menjadi prasasti penyesalan. Aku tidak akan izinkan itu terjadi, setiap detik bersamanya terlalu berharga.
____________

Namaku Anandra, teman-teman memanggilku Ana. Aku tidak terlalu suka hujan tapi aku percaya hujan selalu membawa kebaikan, bukankah kita diajarkan membaca doa untuk menyambut turunnya hujan?.


Memasuki awal November hujan tidak terlalu sering, namun setelah pertengahan November hujan deras hampir setiap hari mengguyur. 


Aku selalu siap payung dan jas hujan serta kantung plastik untuk melindungi isi tas, tapi setiap kali bertemu Dean dengan payungnya aku dengan senang hati menerima payung yang ia sodorkan. Kadang ia mandi hujan, kadang juga kami berdua dalam satu payung ,walau akhirnya ia selalu basah kuyup karena mengalah untukku.


Dean yang kutahu hanya lulusan SMA dan tidak mempunyai pekerjaan tetap, banyak yang tidak ku tahu tentangnya selain kelakuannya yang aneh: selalu muncul membawa payung saat hujan
Kalau tidak hujan ia tidak tampak, tapi pernah kupergoki ia mengawasi dari jauh. Berbaur dengan geng yang sebagian besar berasal dari sekolah yang sama denganku.

"Na, tadi itu siapa yang nganterin elo?" tanya Wati memecah lamunan.
"Biasa ojek payung, ada apa yah?" jawabku mencoba tenang.
"Ojek payung khusus buat elo kali? soalnya gue lihat setelah ngantar elo dia langsung pulang kok, gak seperti ojek payung lain, lagi pula kayaknya gue kenal deh"
"Elo kenal di mana?"
Sebuah pertanyaan percuma setelah aku tak dapat menjawab rentetan pertanyaan teman sekelasku ini. Wati pasti tau aku sedang mengelak.
"Hei, udah ngelamunnya!, disambung nanti saja, tuh Bu Guru sudah masuk kelas" ujar Wati mengagetkanku.

Tidak mengherankan sebenarnya kalau Wati dan beberapa teman mengenalnya. Selain adiknya juga bersekolah di sekolah ini, beberapa teman juga berasal dari wilayah yang sama. Paling tidak rumah kami masih 1 kelurahan walau beda RW apalagi dia cukup luas pergaulannya dengan banyak orang.

Ah aku masih saja melamunkannya walau setelah beberapa mata pelajaran silih berganti.

_____________

"Ana, ngapain lo ngeliat-ngeliatin mereka Na? Itu anak-anak bandel, cuekin aja!" kata Yeni menyadari aku yang agak tertinggal.

"Ah enggak tadi kayaknya ada yang manggil, gue kira mereka" jawabku menghindar.
"Ya mungkin aja sih, mereka emang suka usil, di sekolah juga suka bikin masalah, udah yuk ah, cuekin aja" timpal Sofi sambil menarik lengan Yeni. Kami bertiga kembali berjalan bersama sambil bercerita apa saja.

"Itu di sana ada Ivan, dulu waktu SD gak nakal kayak sekarang, suka bolos dan gak pernah rangking kelas lagi" Sofi mulai bercerita.

"Kok elo tau si Ivan suka bolos? Kalian kan gak sekelas, yang sekelas sama Ivan kan Ana" tanya Yeni.
"Rumahnya Ivan kan dekat rumah gue, ibunya suka nanya-nanya kalau gue lewat depan rumahnya" jelas Sofi dengan santai.

"Oh kirain elo suka sama Ivan hehehe" ledek Yeni, aku juga ikut tersenyum.
"Dulu sih iya, sekarang sih enggak lah" jawab Sofi sambil tersenyum. Kami bertiga masih terus bercanda.

"Ivan di kelas baik-baik aja kok, nanti gue salamin deh" godaku.

"Ih Ana jangan dong, gue kan malu" jawab Sofi dengan memasang mimik muka memelas yang disengaja sehingga mengundang tawa.

Saat kami tertawa bertiga Ivan dengan sepeda motornya menghampiri kami.

"Hai Sofi, hai Yeni, hai Ana, oh iya Ana elu dapet salam dari Dean". Setelah mengucapkan itu Ivan meninggalkan kami yang bingung.

"Idih apaan sih? Gue kirain mau nawarin gue pulang bareng" ucap Sofi ketus. Yeni dan aku tertawa mendengar ucapan Sofi. Sepertinya Sofi tidak serius, karena ia kemudian tertawa juga.


"Tumben banget tuh si Ivan lewat paket negor kita-kita, biasanya nyelonong aja kayak gak kenal" ucap Yeni. 

"Terus Dean itu siapa Na?" tanya Yeni.
"Gak tau" jawabku sambil tertawa, kemudian Yeni dan Sofi juga tertawa mendapat jawaban seadanya.

Kelak aku tahu Ivan ternyata memang mendapat pesan untuk menyampaikan salam kepadaku. Entah maksudnya apa tapi saat itu aku senang, tapi juga grogi menjawab pertanyaan Yeni.

_________

Bel istirahat berbunyi, aku keluar kelas bukan mau ke kantin atau lainnya, hanya ingin menghanti suasana saja agar tidak jenuh. 

"Hai Ana, salam dari Dean" ucap Ivan yang baru keluar dari ruang kelas.
"Terima kasih" jawabku.
"Elo emang udah jadian yah sama Dean?" tanya Ivan datar.
"Kalo iya emang kenapa?" jawabku memancing
"Yah gapapa sih, cuman heran ajah"
"Heran kenapa?" cecarku.
"Eh enggak deh, udah yah aku mau ke kantin dulu" jawab ivan meninggalkan aku yang kesal. 
Bagaimana tidak kesal, dia yang memulai pembicaraan lalu sekarang pergi begitu saja.

"Tumben elo ngobrol sama Ivan" tanya Wati mendekatiku.
"Elo gak apa-apa kan?" lanjutnya.
"Eh gapapa kok, gak tau, iseng aja kali" jawabku.
"Iya sih dia emang suka iseng, ayo bareng kalau mau ke kantin" ajak Wati.
"Gak deh, makasih, gue cuma mau cari angin aja kok" jawabku.
"Ok deh" jawab Wati sambil berlalu.


sunset di pantai indrayanti jogja

Hujan mulai reda, seiring kesadaran yang mulai hadir dan mengusir kenangan dalam lamunan.

"Asik bener ngelamunnya Na" sapa Mas Iwan yang kemudian duduk di dekatku.
"Hujan yang tidak terlalu deras, angin yang sejuk ini bikin lamunan kemana-mana mas." jawabku meraih gelas kopi yang sudah dingin.
"Kopi sudah dingin begitu kok diminum, ini masih hangat" Mas Iwan mengambil gelas kopiku dan menyodorkan kopi hangatnya. 

Aku terima mug putih bertuliskan "Jika Ingin Pelangi, Kau Harus Menerima Hujan" berisi kopi hangat yang menebar aroma bunga. Kesegaran mengalir mengusir suasana dingin dan menggantikan kenangan yang dingin dengan obrolan hangat kami. Mataku menangkap kilatan sisa sinar matahari senja memantul dari ombak yang berkejaran menepi di pantai. Semakin redup hingga benar-benar hilang tenggelam tanpa jejak.


Artikel ini memiliki 10 Komentar

  1. Balasan
    1. :) trims sudah mampir dan meninggalkan jejak

      Hapus
  2. Balasan
    1. Masukannya dong kak, endingnya agak maksa soalnya :D

      Hapus
  3. Dimanakah kau simpan
    Jejak Pelangi mu
    Dimanakah kau simpan
    Jejak hujan mu
    Supaya aku pun bisa bertemu pelangi mu
    Supaya aku pun bisa bertemu
    Hujan mu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua jejak tersimpan rapih dalam kenangan yang manis, kadang butuh kunci yang pas untuk mengaksesnya kembali, bisa hujan, kopi, pantai dan lain-lain pak :)

      makasih sudah mampir

      Hapus
  4. Bagus ini cerpennya... Endingnya bikin berkhayal menikmati senja di tepi pantai... Apalgi pantai pasir putih hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi pengen ke Pantai uh uh uh hehehe Pantai Babelan :D

      Hapus
  5. Kenangan Ana ini bikin emosi tercampur aduk. Uhuk!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Flashback masih kasar Teh, musti sering-sering latihan lagi :D

      Hapus