Ketoprak Humor dan Lenong

KETOPRAK HUMOR

KETOPRAK HUMOR


Penonton TVRI di akhir 1990an dan RCTI mulai tahun 1998 pasti tahu Ketoprak Humor. Program acara yang dibesut Pak Timbul Srimulat ini meraih 3 kali berturut-turut Panasonic Awards sebagai Program Kesenian Tradisional Paling Populer, yaitu pada 2000, 2001, dan 2002.

Ceritanya menghibur, dan lucu tentu saja karena diselipi dengan humor. Ratingnya tentu saja tinggi, sehingga pengiklan pun berebutan mengisi slot. Karena itu, masa jayanya cukup panjang, sekitar 10 tahun.

Setelah itu, program ini diberhentikan karena kabarnya ada ketidakcocokan konsep dengan pihak televisi. Televisi ingin menambah versi humornya dengan mengorbankan pakem-pakem sebuah ketoprak.

Pilihannya terbatas, para pemain yang idealis tentu tidak mau melacurkan konsep ketoprak demi keinginan "pasar" yang diwakili oleh keinginan pemilik televisi.

Ketoprak sebagai kesenian tradisi, meski diberi label humor, tetap harus mengikuti pakem, misalnya harus ada cerita, alur yang jelas dan biasanya dikaitkan dengan fakta sejarah mainstream.

Selain itu juga tetap ada sopan-santun yang harus dijaga terkait posisi peran para pemain. Tidak mungkin misalnya, seorang prajurit ngomong kasar apalagi sampai nunjuk-nunjuk seorang raja di muka umum.

Kalo sekadar nggerundel di rumahnya, yang didengerin oleh istrinya, atau maksimal mbok embannya, boleh-boleh saja, tetapi ketika di depan orang lain, dia tidak akan mungkin melakukannya, kecuali dia memerankan prajurit majnun/setres.

Sedemikian ketatnya, masalah sopan santun ini dijaga, karena para pemain sadar bahwa apa yang mereka mainkan ditonton orang banyak, dan tidak semuanya waras dan mampu mengambil jarak dengan apa yang dilihatnya.

Ada sebagian yang mengidap psycho-freak, alias penyakit mental tidak stabil, yang setelah menonton ketoprak menganggap dunia nyata seolah dunia ketoprak.

Jika di dunia ketoprak ada prajurit dibolehkan menghina rajanya, jangan-jangan mereka yang miskin imajinasi atau sekadar just stupid akan menghina pimpinannya di dunia nyata!

Sesuatu yang sangat sulit dibayangkan akan terjadi di negara Indonesia yang memiliki budaya luhur dan penduduknya rajin sahur.

Penulis: Heri Winarko
Selasa, 19 Maret 2019

-------------------


KETOPRAK HUMOR


Catatan Tambahan: 

Sejak Oktober 1998, RCTI menyiarkan Ketoprak Humor setiap Sabtu Malam pukul 22.30. Grup lawak Ketoprak Samiaji ini beranggotakan Pak Bendot, Tessy, Timbul, Tarsan, Eko, Nurbuat, Topan, Lesus, dan lain-lain.

Ketoprak (kethoprak dalam bahasa Jawa) merupakan seni pentas drama tradisional. Kerap disebut sebagai ketoprak Mataram, karena berkembang di daerah Ngayogyakarta. Diyakini asal muasal kesenian ini dari daerah Surakarta.

Konon berawal dari larangan berkumpul karena disinyalir sebagai sarana penggalangan semasa penjajahan, melahirkan kreativitas. Melalui wadah kesenian, masyarakat berkumpul menggelorakan semangat perjuangan. Dengan kemasan hiburan, pembelajaran disampaikan secara halus tersirat.

Penggunaan sarana alat keprak melalui pukulan pada kentongan bambu. Dikethok prak prak prak.... jadilah kethoprak. Melahirkan istilah ketoprak, terdengar serasa ketoprak-prak. Pak dalang selaku sutradara pemegang keprak dan narasi penghubung antar adegan. Perkembangannya melibatkan iringan gamelan jawa.

Cerita yang dibawakan beragam. Ada cerita keseharian, tanpa naskah komplit, sutradara hanya memberikan garis besar cerita. Improvisasi pemain menjadi andalan. 

Berkembang menjadi cerita sejarah, ataupun lakon Panji bagian cerita rakyat. Bahkan mengusung cerita roman bersetting luar negeri semisal lakon Sampek Engtay.

Kemasan ketoprak kolaborasi seni

Menonton ketoprak serasa menonton opera versi Jawa. Kolaborasi seni tari, seni suara, seni peran dan seni karawitan berpadu. Tanpa rekaman, tanpa pengisian suara semuanya langsung berlakon di panggung.

Kepiawaian pemain berkesenian total. Tidak sekedar melafalkan dialog namun 'menghidupkan' dialog. Olah bahasa tubuh menghantarkan hiburan dan pesan cerita.

Sekali pementasan ketoprak biasanya terdiri dari 5 babak. Meliputi pembukaan berupa pasewakan agung di kedatonan, dagelan (lawak), roman (langen), perang (laga) serta penutup (ampak-ampak). Mengimbangi bahasa pakem dan lumayan berat di pasewakan, pesan ringan kekinian disisipkan melalui dagelan.

Di samping soal lucu-lucuan dan humor ini, munculnya Ketoprak Humor di televisi secara tak langsung telah memperkenalkan kembali ''budaya yang hilang" ditelan ekspansi budaya asing, khususnya kepada remaja dan generasi muda Indonesia.


LENONG

Lenong dari Betawi menurut saya banyak memiliki kesamaan dengan kethoprak. Lenong sendiri merupakan salah satu bentuk teater peran yang konon mulai berkembang di akhir abad ke-19. Sebelumnya, masyarakat Betawi sudah mengenal komedi stambul dan teater bangsawan. 

Komedi stambul dan teater ini dimainkan oleh bermacam suku bangsa dan menggunakan Bahasa melayu. Orang Betawi meniru pertunjukan itu. Hasil pertunjukan mereka inilah kemudian yang disebut lenong.

Musik pengiring Lenong adalah gambang kromong, yang memperlihatkan adaptasi pengaruh luar yang dikembangkan ole masyarakat Cina Peranakan. Terutama dengan adanya instrument rebab berdawai dua yang terdiri dari tiga jenis : tehyan, kongahyan, dan sukong. 

Sebagaimana Gambang Kromong, lenong pun di masa awal perumbuhannya berkembang karena dukungan masyarakat Cina Peranakan. Selain alat musik gesek tersebut, lenong gambang kromong dilengkapi dengan alat musik yang diduga berasal dari Betawi, seperti gambang, kromong, kendang, gong, kempor, ningnong, dan kecrek.

Dalam pertunjukkannya lenong menggunakan panggung berbentuk tapal kuda. Panggung ditata dengan baik dan menggunakan dekorasi yang disebut Seben

Seben terdiri dari beberapa layer selebar 3 x 5 meter yang bergambar berbagai macam corak. 

Pemain Lenong disebut panjak dan ronggeng. Panjak artinya pemain laki-laki dan Ronggeng pemain perempuan. Jumlah pemain lenong tidak terbatas, tergantung kebutuhan.

Pertunjukkan lenong dibagi atas 3 bagian. Sebagai Pembukaan dimainkan lagu-lagu berirama Mars (Mares) secara instrumental untuk mengundang penonton datang. Juga dimainkan Acara Hormat Selamat dengan membawakan lagu Angket Selamet. 

Setelah itu dimainkan lagu-lagu hiburan yang terbagi dalam 2 Jenis: Lagu dalem dan lagu sayur. Lagu dalem dapat disebut jenis lagu klasik yang sangat sulit dinyanyikan. Lagu Sayur adalah lagu gambang kromong masa kini atau modern, yaitu stambul, jail – jail, cente manis, dan persi. 

Di antara 4 jenis lagu tersebut, Stambul lebih sering dimainkan. Karena stambul lebih cocok untuk mengiringi dan mengisi perasaan sedih, gembira, kecewa, dan lain-lain. Terakhir lakon. Pada awal perkembangannya lenong memainkan cerita-cerita kerajaan, baru kemudian memainkan cerita-cerita dari kehidupan sehari-hari.




komentar

Lebih baru Lebih lama