Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi

Sanggar Tari Cinong Bekasi
Sanggar Tari Cinong Bekasi | Foto: Roron Urip Pratomo
Balai Desa Babelan Kota di Kecamatan Babelan Bekasi saat Minggu sore kini tidak sepi lagi. Puluhan anak-anak berkumpul untuk berlatih kesenian dan keterampilan seperti latihan menari, seni bela diri silat dan lain-lain.

Yuni Widiasari atau yang akrab disapa Bunda Yuni sudah setahun belakangan ini memiliki kesibukan mengajarkan beberapa jenis tarian, antara lain tari Ondel-Ondel untuk anak-anak dan Sirih Kuning untuk remaja putri.

Dalam kegiatan belajar menari di balai desa ini Bunda Yuni tidak sendirian, ia dibantu putrinya Nurul Rahmadani dan beberapa gadis remaja yang sudah lebih dahulu belajar menari kepadanya.

"Kalau latihan menari di balai desa  itu hanya Minggu sore, kalau ada lomba atau mau tampil bisa latihan tambahan di rumah Bunda Yuni," jelas Miranti salah satu pengajar tari yang membantu Bunda Yuni sore itu.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Sanggar Tari Cinong bukan bagian terpisah dari Perguruan Silat Cinong Bekasi, masih satu kesatuan sebagai wadah pelestarian budaya dan pengembangan bakat seperti juga Sanggar Lukis Cinong, Grup Palang Pintu, Ujungan, Lenong dan lainnya.

"Awalnya saya diminta Bang Jamal (ketua perguruan silat Cinong Bekasi) dan Bang Rusli untuk mengajarkan tarian untuk anak-anak dalam rangka mengisi acara milad Cinong," ungkap Bunda Yuni.

"Selanjutnya saya mulai fokus mengajarkan tari-tarian untuk keperluan mengisi acara waktu itu. Alhamdulillah saat tampil cukup memuaskan," lanjut Bunda Yuni yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Bekasi.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Para Penari Sanggar Tari Cinong Bekasi Babelan
Menurut Bunda Yuni, setelah acara milad ternyata antusiasme anak-anak untuk belajar menari tidak surut, bukan saja anak-anak dari Kecamatan Babelan yang ingin belajar menari, bahkan ada beberapa anak dari Kecamatan Tarumajaya dan Kecamatan Sukawangi yang datang untuk belajar.

Penampilan anak-anak yang mempersembahkan tarian tradisional ternyata menjadi perhatian karena jarang ada penampilan tari tradisional kecuali dalam acara berskala besar. Saat itu dibawakan 3 tarian yaitu Tari Ondel-Ondel, Tari Sirih Kuning dan Tari Bajidor Kahot.
"Mungkin image bahwa tari tradisional itu susah dan jarang yang bisa, karenanya untuk penampilan tari tradisional butuh biaya mahal. Padahal kalau mau ayo kita belajar sekaligus melestarikan tari tradisional" ungkap Bunda Yuni.
Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Bunda Yuni
Untuk kostum saat ada acara atau memenuhi undangan menari, Bunda Yuni mengaku dirinya masih menyewa kostum karena masih belum terlalu sering digunakan. Sedangkan untuk make up atau merias penari ia dibantu oleh keluarga besar Cinong.

Selain tari Sirih Kuning untuk hiburan saat acara, untuk remaja putri juga diajarkan tari Lenggang Nyai untuk keperluan lomba. Walau pun belum ada prestasi dalam kompetisi, Bunda Yuni mengaku sudah bahagia dapat berperan serta melestarikan dan mengajarkan tari tradisional kepada generasi muda.

Dalam kegiatan mengajar tari Bunda Yuni juga dibantu oleh Nurul Rahmadani, Miranti Dwi Putri, Dinna Yulianti, Adinda Khumairoh, Diana Nurita dan Nada Nirmala. Sanggar Tari Cinong Bekasi rutin berkegiatan pada hari Sabtu sore di aula kantor kepala desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi dengan materi Tari Tradisional dan Tari Modern. Adapun untuk pembagian kelas dibagi berdasarkan usia penari.

Kelas Menari Sanggar Tari Cinong Bekasi:
Kelas A - Usia 5-10 tahun;
Kelas B - Usia 10-15 tahun;
Kelas C - Usia 15 tahun ke atas.

Bagi teman-teman yang berminat bergabung atau ingin informasi lebih lanjut dapat menghubungi Sanggar Tari Cinong Bekasi melalui telepon: 0852 1690 3519 / 0812 1165 2566 atau chat melalui WA: 0812 839 21080.

Belajar Memahami Tari Bersama Sanggar Tari Cinong Bekasi
Seni tari jelas berbeda dengan olahraga, jika olahraga memiliki jiwa kompetisi dengan motto Citius, Altius, Fortius (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat) maka seni tari menghadirkan pengalaman estetik dalam bentuk olah gerak sebagai ekspresi, kreasi, serta apresiasi. Bahasa mudahnya; tari lebih mengutamakan keindahan dan keseimbangan gerak yang menyatu dengan musik pengiringnya.

Sama seperti olahraga, pada akhirnya seni tari memiliki peranan dalam pembentukan karakter sang penari secara fisik maupun psikologis untuk mencapai Kecerdasan Gerak atau Kecerdasan Kinestetik.  

Kecerdasan Gerak adalah kemampuan mengontrol gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.  Untuk anak-anak seni tari dan olah raga sama-sama mengasah keterampilan motorik halus dan kasarnya dengan lebih baik.

Lebih dari itu, seni tari juga mengembangkan sikap estetis sehingga dapat membentuk manusia Indonesia dengan karakter yang seimbang, baik dalam perkembangan pribadi, lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, serta hubungan pribadinya dengan Sang Pencipta.

Hari sudah semakin petang dan sebentar lagi sore. Saya tinggalkan keceriaan dan keakraban dalam gerakan tari serta canda tawa yang mengisi aula salah satu gedung di dalam komplek balai desa Babelan Kota itu. Suara musik Gambang Kromong yang mengiringi latihan tari semakin jauh terdengar. Dalam perjalanan pulang saya berdoa, semoga semangat itu terus terjaga demi mengenal, mencintai, melestarikan kekayaan seni budaya Indonesia yang kaya ragamnya ini. Amiin.

Artikel ini memiliki 17 Komentar

  1. Mantul ini mah mantep betul

    BalasHapus
    Balasan
    1. Elo gak belajar nari le? butuh penari cowok biar bisa pasangan kalo tari sirih kuning hehehe

      Hapus
  2. Jadi ingat zaman SD nari alaia dogema. Salah satu tari persembahan. Jadi pengen bljar hari lg tapi uda kaku haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat semangat :) biar gak kaku persendian hehehe

      Hapus
  3. Dibaca dari awal sampai akhir, kok tak ada satupun peserta cowok penarinya.
    Kesemuanya cewek.

    Nah itu gimana tari traditional nantinya,ya masa penari tokoh cowoknya diganti dengan penari cewek ? .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, sampai saat ini gak ada penari cowok, untuk tari sirih kuning yang berpasangan aja ada yang memerankan cowok, cowoknya pada belajar silat, belom ada yang mau belajar nari :D

      Hapus
  4. Senangnya masih ada yang terus berupaya melestarikan budaya tradisional kita, terutama tari...selama ini kita hanya disuguhi tarian yg populer saja seperti saman dan jaipong, sehingga sebagian kita lupa betapa Indonesia ini kaya dengan berbagai tarian daerahnya...semoga kedepannya bisa lebih dapat perharian pemerintah agar semakin dipopulerkan tarian cinong bekasi ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin terima kasih support dan doanya kak :)

      Hapus
  5. Semoga terus lestari! Terimakasih Bunda Yuni untuk semangat dan pengorbanannya. Harapannya semoga ada remaja lelaki yang mau ikutan belajar nari, nggak silat saja, hhahaha jadi lebih ramai :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin, iya nih kak, gak ada penari cowok, mungkin nanti dipikirkan bagaimana formulanya supaya cowok juga tertarik belajar menari :)

      Hapus
  6. Jadi kepingin belajar menari juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setahu saya orang Ende pasti bisa menari, banyak sekali acara-acara di Ende dimana masyarakat ikut menari :)

      Hapus
  7. Jadi kepingin belajar menari juga..

    BalasHapus
  8. bagus ni, biar generasi muda gak hanya kenal tarian modern saja hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat :) mengenal, mencintai, melestarikan. mending menari deh daripada liat jogat joget gak jelas hahaha

      Hapus