Akeyla Naraya, Batik Bekasi dan Homeschooling

Diplomatic Spouses Association of Lebanon (DSAL) International Charity Bazaar dan Indonesian Days di Lebanon
Batik Bekasi di Indonesian Days, Antonine University Lebanon


"Pemuda adalah harapan bangsa" itu merupakan sebuah slogan yang sudah bosan saya dengar. Bosan karena semua orang juga sudah tahu dan menjadi hambar rasanya kalau terlalu sering digembar-gemborkan tanpa ada tindakan lanjutannya.

Pemuda itu siapa?

Organisasi Kesehatan Dunia WHO yang berkantor pusat di Jenewa, Swiss melalui studi tentang kualitas kesehatan dan harapan hidup rata-rata manusia di seluruh dunia menetapkan kriteria baru yang membagi kehidupan manusia ke dalam 5 kelompok usia.

Pertama, ‎ usia 0 – 17 tahun adalah anak-anak di bawah umur. Kedua, 18 – 65 tahun pemuda. Ketiga, 66 – 79 tahun setengah baya. Keempat, 80 – 99 tahun orang tua. Kelima, 100 tahun ke atas orang tua berusia panjang‎. 

Ini berbeda dengan definisi pemuda dalam Pasal 1 Ayat (1) UU Nomor 40 Tahun 2019 tentang Kepemudaan yang menyatakan batas usia muda dimulai dari 16-30 tahun. Di lain pihak UNESCNO dalam halaman web-nya yang berjudul What do we mean by “youth”? mengkategorikan pemuda dalam rentang usia 15 hingga 35 tahun.

Dari definisi pemuda itu setidaknya sudah jelas bahwa usia 9 tahun masih dalam kategori anak-anak di bawah umur. Nah ngomong-ngomong soal pemuda harapan bangsa, mari kita (yang masih masuk dalam kategori pemuda) mengenal seorang anak di bawah umur yang sudah memiliki berbagai prestasi gemilang. 

Mudah-mudahan bisa menjadi penyemangat yah :) Amiin

Akeyla Naraya, Desainer Cilik dari Bekasi di Libanon
Akeyla Naraya, Desainer Cilik dari Bekasi

Akeyla Naraya, Siapa dia?

Bernama lengkap Akeyla Naraya Aliandina, putri dari Ibu Ina Raya kelahiran 4 Februari 2010 ini bukan anak perempuan biasa. Di usianya yang belum genap berusia 9 tahun ini Akeyla Naraya sudah memiliki berbagai macam prestasi luar biasa dalam dunia fashion, baik dalam dan luar negeri. Soal prestasinya silahkan cari nama "Akeyla Naraya" di Google, akan panjang kalau saya catat semua di sini.

Menurut beberapa media, untuk menampung karyanya, desainer cilik yang tinggal di perumahan Wisma Asri Bekasi Utara ini memiliki sebuah butik di Gedung Smesco Jakarta Selatan. Jadi mau lihat butiknya nih, kapan-kapan deh yah :)

Nah teman-teman tahu gak? belum lama ini, Akeyla Naraya bersama sejumlah desainer asal Kota Bekasi, Jawa Barat, memperkenalkan batik khas Bekasi dalam kontes busana internasional di Beirut, Lebanon tanggal 2-4 Desember 2018.

Selain itu, Akeyla juga ikut berpartisipasi dalam misi budaya Indonesia di acara Diplomatic Spouses Association of Lebanon (DSAL) International Charity Bazaar dan Indonesian Days di Antonine University, Lebanon. DSAL International Charity Bazaar adalah kegiatan sosial yang berlangsung di Hotel Phoenicia, Beirut, Lebanon. 

Nah Lebanon itu di mana? Jauh lah, naik pesawat saja bisa 10 jam lebih, Lebanon itu sebuah negara dengan ibukota Beirut yang terletak di tepi pantai Laut Tengah - Timur Tengah, terletak di antara Palestina dan Suriah. Ok, pelajaran Geografinya cukup yah.
Akeyla Naraya, Batik Bekasi dan Homeschooling
Batik Bekasi dalam kreasi desainer cilik Akeyla Naraya

DSAL International Charity Bazaar sendiri diikuti 37 negara ditambah enam pegiat seni asal Lebanon. Indonesia sebagai salah satu sponsor DSAL International Charity Bazaar ini berkesempatan memamerkan produk-produk khas Indonesia, termasuk fashion berbahan batik Bekasi yang dirancang oleh tangan mungil Akeyla Naraya.

Bakat Akeyla Naraya jelas menurun dari ibunya, Ina Raya yang juga seorang desainer yang sudah sering melakukan acara fashion show di mana-mana. Salah satu karya Ibu Ina Raya adalah Batik Gotik yang bercirikan kreasi warna hitam pekat dengan motif batik.

Saya mendapatkan foto-foto Akeyla dari seorang warga Tarumajaya Kabupaten Bekasi yang sedang kuliah di Libanon. Menurutnya acara Indonesian Days dilaksanakan di Antonine University, Senin (3/12/2017). Dari informasi media, acara Indonesian Days semula direncanakan akan dilaksanakan di University of Beirut, berbeda lokasi dengan acara DSAL International Charity Bazaar yang dilaksanakan di Hotel Phoenicia.
Indonesian Days di Antonine University Lebanon
Batik Bekasi di Indonesian Days, Antonine University Lebanon


Kembali ke Akeyla Naraya, bagaimana anak seusia Akeyla dapat mengatur jadwalnya yang padat dengan kewajiban belajarnya?

Soal pendidikan Akeyla Naraya yang padat itu jawabannya adalah dengan Homeschooling atau Sekolah Rumah. Peraturan Homeschooling di Indonesia terdapat pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 129 Tahun 2014 tentang “Sekolah Rumah” (homeschooling). 

Pada Pasal 1 Ayat (4) disebutkan: yang dimaksud sekolah rumah adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain. 

Sementara bisa dalam bentuk tunggal, majemuk, dan komunitas dimana proses pembelajaran dapat berlangsung dalam suasana kondusif. Ini bertujuan agar setiap potensi peserta didik yang unik dapat berkembang secara maksimal.

Kemudian pada Pasal 7 Ayat (1) disebutkan: kurikulum yang diterapkan dalam sekolah rumah mengacu pada Kurikulum Nasional. Berikutnya, Ayat (3): kurikulum yang dimaksud sebagaimana Ayat (1) yang digunakan dapat berupa kurikulum pendidikan formal atau kurikulum pendidikan kesetaraan, dengan memperhatikan secara lebih meluas atau mendalam bergantung pada minat potensi dan kebutuhan peserta didik

Saat ini saya hanya mencatat mengenai kedudukan homeschooling menurut peraturan, untuk lebih jauh saya belum pernah mendalami bagaimana praktek homeschooling ini.

Berkaca dari Akeyla yang masih belia ini, saya sebagai pemuda (berdasarkan kategori WHO) jelas banyak ketinggalan. Ini baru Akeyla, belum lagi adik-adik yang berprestasi di bidang lain, banyakkkk....

Huffttt walaupun masih mengaku muda, tetap saja saya tidak bisa kembali muda lagi untuk benar-benar memahami dunia ini dalam pandangan para pemuda saat ini. Jadi inget kutipan Oscar Wilde: ‘I am not young enough to know everything’,  saya tidak cukup muda untuk mengetahui semuanya... karena; mereka sebagai pemilik masa depan memiliki mimpi yang saya tidak mampu memimpikannya.

:) 


Artikel ini memiliki 8 Komentar

  1. Si cilik yang menginspirasi. Sekecil itu prestasinya sudah mendunia. Hebaaat. Mana batik pula, jadi ada upayanya untuk menjaga kelestarian budaya. Homeschooling jadi ingat anaknya Mas Bukik ya, Om.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk orang tua yang memiliki kapasitas untuk mengadakan homeschooling maka itu salah satu solusi untuk anak-anak dengan kesibukan kegiatan seperti ini. Repot kan kalau sekolah biasa, harus meninggalkan pelajaran maka akan ketinggalan pelajaran oleh teman-teman sekelasnya :)

      Hapus
  2. Mantap dan dapat menjadi cerminan untuk belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, cerminan bahwa pemuda gak bisa leha-leha, generasi di bawahnya dengan segala kemudahan teknologi dan dukungan orang tuanya akan melesat jauh meninggalkan standar-standar umum. Semoga terpacu untuk memaksimalkan waktu :)

      Hapus
  3. Nah, Om sudah reply, saya pakai Disqus sekarang hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha yah itu bisa dipertimbangkan :)

      Hapus
  4. salut, bnr2 salut dengan Akeyla, msh kcl tp berprestasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali sob, kisah ini menginspirasi dan memotivasi :)

      Hapus