Selamat 1 Tahun Perjuangan Untuk Perpusjal Bekasi

Menghadiri ulang tahun pertama Komunitas Perpustakaan Jalanan Bekasi tadi malam (Sabtu 28/7/2018) bagi saya seperti menemukan oase, menghilangkan dahaga setelah sekian lama "dipaksa" mengkonsumsi kampanye-kampanye pilpres, pilgub hingga pilkades saat ini.
Selamat 1 Tahun Perjuangan Untuk Perpusjal Bekasi
Bertemu anak-anak muda yang "tidak normal" ini membuat saya sejenak melepas topeng-topeng sosial, menyimpan segala perbedaan di dompet dan berbaur dalam tawa, riuh tepuk tangan apresiasi dan perbincangan yang menghidupkan kembali harapan akan masa depan.

Ya, harapan, bukankah harapan adalah salah satu faktor pendorong untuk berbuat?, karena menurut saya hanya orang bodoh yang berani berharap tapi tak berbuat apa-apa untuk mewujudkan harapannya. Kalau kamu gak setuju pendapat saya, yah silahkan saja, tulis pendapatmu itu di blogmu sendiri :D

Selamat 1 Tahun Perjuangan Untuk Perpusjal Bekasi

Selain memang ingin hadir, alasan lain yang membuat saya nimbrung karena saya diposisikan sebagai narasumber cadangan, sebagai pengganti jika ada narasumber yang berhalangan hadir. Tapi kesempatan itu saya percayakan kepada M. Yasin, seorang tenaga pengajar di salah satu SMK swasta di Kota Bekasi dan juga relawan di Rumah Pelangi Bekasi. Jadilah Yasin yang tidak siap itu menjadi salah satu dari 3 narasumber diskusi soal pendidikan dalam gelaran "Sekadar Mensyukuri 1 Tahun Pelaksanaan Perpusjal Bekasi".

Diskusi itu lumayan untuk membuka wawasan dan memotret lebih detail mengenai wajah pendidikan yang ruwet, setidaknya kalau kita tahu apa yang sedang kita hadapi maka kita akan lebih mampu mempersiapkan diri dan mengambil strategi. Selain M Yasin, hadir sebagai narasumber yaitu Nana Praja selaku pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Warna Bekasi di Desa Pantai Harapan Jaya juga Mbak Ira dari TBM Terasuka, kedua TBM ini terletak di Kecamatan Muaragembong, pesisir Bekasi. Bertiga inilah narasumber dalam diskusi dengan topik "Melihat Sudut Pandang Pendidikan".

Yang susah itu kalau kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita hadapi... Paling pakai jurus SWAG - Selow Woles Anti Galau kalo kata Choky yang malam itu sempat open mic bersama MC, Resky Hariansyah, menghibur sambil menunggu panitia mempersiapkan kolaborasi pembacaan sajak oleh Vrandes dari Langit Tjerah Cikarang berjudul "Sajak Jalanan Bertanya" dan Goden (Arif Rahman) dan Andy Nurwanto dari Perpustakaan Jalanan Atap Usang yang mengiringi pembacaan sajak dengan alunan karinding, alat musik tradisional Jawa Barat.

Selama di jalanan, 
kami membaca pesan-pesan yang ia katakan 
bahwa ia memberikan pilihan 
kepada semua orang

Mau berlanjut atau menyerah
Mau jadi pengecut atau pencerah
Mau berbagi atau menjarah,
Mau berbakti atau berulah
Stagnasi, atau bergerak,
Partisipasi, atau sekedar sorak-sorak

Setiap orang bebas memilih,

Menjadi samudra yang menerima segala beda,
Atau menjadi kandang yang menolak 
siapa pun yang bukan ternak
.......
Ikhlas bernyanyi atau pamer eksistensi,
Menyampaikan isi hati atau memuaskan birahi
.......
Jalanan terus berbicara
Dan jelasnya, jalanan bertanya 
dengan sedikit penekanan 
dan nada yang ditinggikan: 
MENJADI INSPIRASI KEHIDUPAN 
ATAU SEKADAR RONGSOKAN PERADABAN?

Jalanan mempertanyakanmu, kawan!

Itu hanya sebagian kutipan dari keseluruhan sajak yang berhasil merangkum banyak pertanyaan, menggambarkan perjalanan Perpustakaan Jalanan Bekasi selama setahun ini. Selengkapnya sajak ini saya posting di Sajak Diiringi Karinding Persembahan Langit Tjerah dan Perpustakaan Jalanan Atap Usang.

Jika sebelumnya diskusi banyak menggambarkan masalah-masalah di lapangan hingga apa yang narasumber lakukan untuk menghadapi masalah berdasarkan macam sudut pandang mereka, maka sajak ini seperrti menegaskan pertanyaan kepada masing-masing hadirin. Akan "MENJADI INSPIRASI KEHIDUPAN ATAU SEKADAR RONGSOKAN PERADABAN?", seperti itu rasa yang saya tangkap malam itu.


Selamat 1 Tahun Perjuangan Untuk Perpusjal Bekasi

Perhelatan syukuran 1 tahun perjalanan Perpusjal Bekasi tetap ceria dan lancar, selain pengenalan Jabaraca oleh Meita Eryanti dalam tajuk "Berliterasi Digital ala JABARACA", pembacaan puisi oleh Iwan Bonick dan Cahyo dari Taman Baca Tanjung, dimeriahkan juga dengan live musik dari Kirana (Violint Cilik), Next Voice Street, Unklflynn dan Ridwan Rau-Rau. Di salah satu dinding juga tampak hiasan kolase foto-foto kegiatan Perpusjal Bekasi dan koleksi foto "Bekasi Tempoe Doeloe" dari Komunitas Historika Bekasi.

Acara ini juga menggalang berbagi buku dan menerima donasi buku untuk Taman Baca Apung di Muaragembong serta memamerkan pojok kreasi yang berisikan karya-karya dari; Egerr Art, Kreasi flanel dari Murnisfelt dan juga karya dari Maryo Pratama.



Ok, selamat 1 tahun perjuangan untuk Perpustakaan Jalanan Bekasi :) tetap semangat dan tetap cair agar selalu dapat mengalir dan membasahi bibit-bibit yang tersudut situasi serta menghidupkan akar-akar yang mencoba bertahan menegakkan idealismenya.

Bagian kritiknya nanti aja yah, siap-siap mau ke Pekuning Tambelang, Ada kabar duka dan saya harus ke sana. Nanti kita sambung lagi.

Salam

Allan Maulana, Suami dari narasumber Meita Eryanti juga mendokumentasikan acara ini dalam tulisan berjudul: Menghadiri Syukuran Perpustakaan Jalanan Bekasi.



2 komentar

avatar

Pos ini membikin saya merindukan perjuangan-perjuangan gila dulu, sampai dianggap kurang kerjaan dan pura-pura menyibukkan diri gara-gara jomblo ... EDAN! Hahaha.

Selamat untuk Perpustakaan Jalanan Bekasi, seharusnya menjadi inspirasi yang sangat kuat bagi pembaca/orang-orang yang tahu tentang Perpustakaan Jalanan Bekasi. Untuk mengubah wajah pendidikan, butuh orang-orang 'gila' seperti ini, yang membawa dampak lebih baik untuk daerahnya, juga daerah orang lain yang terinspirasi. Semoga, pula, semakin banyak taman baca dan perpus semacam ini di Indonesia.

"Ya, harapan, bukankah harapan adalah salah satu faktor pendorong untuk berbuat?, karena menurut saya hanya orang bodoh yang berani berharap tapi tak berbuat apa-apa untuk mewujudkan harapannya. Kalau kamu gak setuju pendapat saya, yah silahkan saja, tulis pendapatmu itu di blogmu sendiri :D" ===> ini suka sekali saya kalimatnya, Om. Banyak orang hanya tahu mengkritik karena tidak sepaham, tetapi tidak mau menulis sendiri opininya.

avatar

Teh, masa-masa itu sudah lewat, tugas kita mensuport mereka yg punya aktivitas sosial yg baik, membantu mengarsipkan kegiatan mereka melalui blog kita, buzzing dst.

Biar aja mereka berkembang dan belajar secara alami, pengalaman kita belom tentu berguna karena perbedaan situasi dan kondisi, tapi setidaknya kita bisa memberi pandangan dan berbagi pengalaman :)

Klik untuk komentar