pasang iklan

Bahas Santai 3 Quote Haruki Murakami

advertise here
No matter how much suffering you went through, you never wanted to let go of those memories.
Pain is inevitable. Suffering is optional.
It's like Tolstoy said. Happiness is an allegory, unhappiness a story.

Haruki Murakami

Bahas Santai 3 Quote Haruki Murakami

Dari 3 quote Haruki Murakami yang saya pilih ini ada benang merah antara ketiganya. Kita bahas satu persatu yuk, kali aja apa yang saya tangkap dari kalimat ini berbeda dengan apa yang kamu pahami, jadi kita bisa berdiskusi dan menemukan perspektif baru dari kalimat-kalimat ini.

No matter how much suffering you went through, you never wanted to let go of those memories. 

Seberapapun pedihnya penderitaan yang telah kamu lewati, kamu tidak pernah ingin melepas ingatan itu.

Di sini Murakami tidak sedang menghakimi mana yang baik dan yang buruk, dia hanya bilang; kita tidak pernah mau melupakan atau melepas ingatan kita akan sebuah kejadian yang telah menyebabkan penderitaan di masa lalu. "Melepaskan" ini bukan bermaksud menghapus ingatan atau melupakan, itu seakan-akan tidak pernah terjadi, bukan, itu sepertinya mustahil, perhatikan kembali, Murakami menulisnya "...to let go..." bukan "...to FORGET...".

Selain itu, saya tangkap dalam kalimat di atas adalah tentang memaafkan, menerima apapun yang terjadi di masa lalu sebagai sebuah pelajaran, meletakkan "rasa sakit" di bawah rasa syukur akan sebuah pelajaran (pengalaman) yang sangat berharga, seberapapun buruk dan pahitnya itu.

Proses berdamai dengan masa lalu ini juga buka sebuah proses instant seperti menginstall "plugins" atau "add-ons" yang otomatis menambahkan kemampuan atau kelebihan baru, tidak seperti itu. Demi berdamai dengan masa lalu banyak hal yang musti kita lalui. Proses internal dalam diri kita sendiri dan proses eksternal yang melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masa lalu kita. 

Dari dalam diri sendiri kita harus melalui proses-proses memikirkan kembali, merekonstruksi, mendefinisikan ulang dan mereview efek ingatan itu agar memiliki efek positif pada diri kita dan lingkungan. Sedangkan proses eksternal adalah bertanggungjawab, meminta maaf, melakukan kebaikan-kebaikan sebagai jalan untuk menjaga keseimbangan atau menebus kesalahan. Soal ini setiap orang tentunya berbeda tergantung sifat dan karakternya masing-masing.

Dari sudut pandang seperti ini maka kutipan "Pain is inevitable. Suffering is optional" memiliki makna yang mirip dengan penjelasan di atas, setidaknya menurut "im my sotoy opinion".

Pain is inevitable. Suffering is optional.

Rasa sakit itu tidak bisa dielakkan, penderitaan karena rasa sakit itu adalah pilihan.

Terlepas dengan kepada siapa quote di atas disandingkan, karena ada beberapa versi saya di sini hanya bahas maknanya menurut saya saja, gak mencoba mengkonfirmasi quote ini dari mana, yang saya tahu yah dari Haruki Murakami, kalau ada pendapat quote tersebut berasal dari tokoh lain yah silahkan :). Selain mirip dan senada dengan kutipan sebelumnya, "Pain is inevitable. Suffering is optional" menurut saya punya banyak makna, antara lain sebagai ungkapan bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dielakkan hadirnya, namun ada kebebasan bagi kita untuk memilih respon atas kejadian itu. 

Ada proses "pengolah data" atau penyaring untuk memberikan pilihan-pilihan yang dapat kita pilih berdasarkan kebebasan kita untuk memilihnya, apakah kita memilih yang terbaik atau terburuk itu akan tergantung dengan nilai diri kita sendiri, bukan tergantung pada pihak lainnya.

Kalau dikaitkan dengan quote "No matter how much suffering you went through, you never wanted to let go of those memories." maka ini tentang bagaimana melepas apa yang telah menjadi ingatan dan menyaring ingatan baru atas apa yang terjadi. Ibaratnya dengan melepas ingatan negatif masa lalu maka kita akan siap dengan pengalaman apapun, apapun yang terjadi hanya akan mengakibatkan respon yang positif bagi orang-orang proaktif karena mereka ini digerakkan oleh nilai-nilai, berbeda dengan orang reaksioner.

It's like Tolstoy said. Happiness is an allegory, unhappiness a story.

Seperti kata Tolstoy. Kebahagiaan adalah kiasan, kekecewaan adalah cerita.

Kutipan terakhir ini lebih luas lagi, Kebahagiaan adalah kiasan dan kekecewaan hanyalah sebuah cerita. Paling mudah memahami maksud kata alegori itu adalah dalam pelajaran Bahasa Indonesia dimana dikenal majas alegori, sebuah majas perumpamaan yang menggunakan kiasan, contoh: "Seorang bayi adalah kertas kosong yang masih bersih". Kata kertas kosong itu adalah alegori perumpamaan yang menggambarkan kesucian seorang bayi.

Lalu bagaimana memahami maksud dari Murakami dan Tolstoy yang menyatakan bahwa kebahagiaan itu adalah kiasan?

Dalam pengertian saya alegori adalah sebuah kiasan atau perumpamaan dari sebuah kenyataan yang ada, sedangkan sebuah cerita adalah sebuah kisah fiksi atau khayalan. Kiasan adalah sebuah perumpamaan yang dengannya diharap orang akan dapat memahami dengan cara atau sudut pandang lain, sedangkan cerita adalah sebuah khayalan atau fiksi, yang mungkin berdasarkan kenyataan namun sebenarnya tidak pernah ada sebagai kenyataan, intinya, cerita sebagus apapun adalah hasil imajinasi.

Perlu pembahasan lebih panjang kalo yang dibahas adalah soal kebahagiaan dan kekecewaan. Padahal yang saya bahas saat ini adalah kutipan populer dari  seorang Haruki Murakami. Dia lebih tahu apa yang ia maksud dalam kata-katanya, saya hanya memahami sebatas apa yang saya bisa pahami, kalaupun pemahasaman saya salah semoga Anda dapat belajar darei kesalahan saya dan tidak mencontohnya :)

Salam

Tulisan awal di tahun 2018 kenapa jadi receh begini yah? 
Ya karena saya suka yang receh-receh, dangkal dan sekilas ajah biar yang baca gak pusing, yang nulis juga santai-santai ajah :)










Klik untuk komentar