Lebaran Ketupat | #NulisRandom 14

"Sot udah punya baju lebaran?"
"Udah"
"Beli dimana?"
"Gak tau, bini gue yang beliin 2 tahun lalu lah"
"Ohhh..., gak beli baju lebaran baru?"
"Gak lah, masih bagus kok, jarang dipakai"
"Ohh..."

Lebaran Ketupat

Saya menunggu kalimat penyambung setelah Ohhh kedua, tapi gak ada lanjutannya. Mungkin itu yang disebut orang kekinian sebagai "speechless'.

Kalo iseng gak ngapa-ngapain coba deh gugling gogle image dengan key word "baju lebaran", secara garis besar yang muncul, yah aneka pakaian busana muslim, baju koko untuk lelaki dan baju kondangan untuk perempuan. Ada yang motifnya seragam untuk keluarga, ada yang kombinasi motif batik dan macam-macam.

Konon budaya baju lebaran ini sudah ada sejak tahun 1596. Katanya, dalam buku Sejarah nasional Indonesia tulisan Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dijelaskan, ketika menyambut lebaran, mayoritas penduduk kerajaan Banten sibuk menyiapkan baju baru.

Namun bedanya waktu itu, hanya sedikit masyarakat yang membeli baju baru. Mayoritas mereka menjahit sendiri, ini lantaran masih terbatasnya teknologi waktu itu. Hanya kalangan kerajaan yang memiliki akses luas mendapatkan baju bagus untuk lebaran.

Mungkin karena memang saya malas menggunakan baju koko jadi baju lebaran sekian tahun masih awet, karena hanya dipakai saat lebaran, saat ada acara seremonial resepsi perkawinan (kondangan) atau acara-acaa resmi lainnya. Bisa dibayangkan sebanyak apa koleksi baju koko saya kalau setiap lebaran beli baju koko baru :)

Kalau buat saya lebaran bukan soal baju baru, tapi soal ketupat, opor ayam, dan dodol (dodol cina atau kue keranjang).

Soal ketupat juga konon terkait dengan dakwah Sunan Kalijaga. Tradisi ketupat (kupat) lebaran menurut cerita adalah simbolisasi ungkapan dari bahasa Jawa ku = ngaku (mengakui) dan pat = lepat (kesalahan) yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam mensyiarkan ajaran Islam di Pulau Jawa yang pada waktu itu masih banyak yang meyakini kesakralan kupat.

Asilmilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan ketupat menjadi tradisi Islami ketika ketupat menjadi makanan yang selalu ada di saat umat Islam merayakan lebaran sebagai momen yang tepat untuk saling meminta maaf dan mengakui kesalahan.

Soal dodol... 
Lebaran dalam kamus hidup saya ada 3, yaitu Lebaran Idulfitri, Lebaran Haji atau Iduladha dan Imlek atau Lebaran Cina. Entah kenapa ketiga hari raya itu sama-sama disebut Hari Raya Lebaran. Lebaran yang identik dengan dodol (kue keranjang) itu yah Idulfiti dan Imlek. 

Mungkin baru belakangan ini saya paham bahwa nama penganan yang sejak saya kecil ini saya kenal sebagai dodol cina atau kue cina disebut kue keranjang atau kue bulan. Masalahnya ada aturan yang mengganti kata Cina dengan Tiongkok. Jadi bagaimana saya mau menyebut kue ini? Dodol Tiongkok atau Kue Tiongok? Jadi males nyebutnya, baiklah... supaya woles sebut saja dodol atau kue keranjang, gak ada ata cina-nya. Puas?

Dodol Buni Ayu Bekasi Bisot
Saya suka sekali  dengan dodol, tapi memakan dodol setiap hari bukan ide yang baik, selain harganya lumayan, kue akan kehilangan maknanya kalau dimakan setiap hari, seakan gak nyambung sama suasana :) Dodol favorit saya dodol ketan hitam Buni Ayu buatan Bu Haji Rodiah dari Sukarukun - Sukatani - Kabupaten Bekasi. 

Saya sendiri belum pernah ke sana, hanya titip dibelikan saja. Kalau di daerah Jawa Barat menyebut dodol maka yang terlintas adalah Dodol Garut, buat saya untuk daerah Bekasi dan sekitarnya, Dodol Buni Ayu buatan Bu Haji Rodiah ini sepertinya cukup terjamin kualitas dan rasanya. So, buat yang di sekitaran Bekasi, jangan berhenti menikmati dodol kalau belum nyobain dodol Buni Ayu ini.


So, apa yang khas dari lebaran mu?


Klik untuk komentar