#1 - Keramas Saat Munggahan Di Bulan Ramadhan

 Keramas Saat Munggahan di Bulan Ramadhan

Dalam diskusi santai saya ditanya mengenai tradisi keramas saat "munggahan". Pada dasarnya saya gak ada masalah dengan tradisi ini, jawaban diplomatis saya berikan, bahwa semua tradisi tidak diciptakan tanpa alasan, ada pesan-pesan yang mungkin saat itu demikianlah cara yang digunakan untuk mengemasnya.

Istilah "munggahan" sendiri secara etimologis berasal dari kata "unggah". Kata "unggah" ini kini digunakan secara umum sebagai translasi dari kata Bahasa Inggris "Upload", yang dalam dunia teknologi informasi komunikasi digunakan untuk menggambarkan proses transfer berkas pemindahan data elektronik. Dalam Bahasa Jawa "unggah" dikaitkan dengan kata "unggah-ungguh" yang artinya tata krama atau sopan santun. Dalam Bahasa Sunda "unggah" berarti kata kerja beranjak dari bawah ke yang lebih tinggi, naik ke tempat yang lebih atas atau berpindah ke tempat yang lebih tinggi.

Jelas istilah "munggahan" yang kami pahami adalah kata "unggah" dalam pemahaman Bahasa Sunda, yaitu naik. Dengan menambahkan huruf "m" pada awal kata "unggah" tidak mengubah makna asal. Sedangkan akhiran "an" sehingga menjadi "munggahan" adalah berfungsi membentuk kata benda seperti umumnya dalam Bahasa Indonesia.

Mengapa menggunakan istilah "munggah"? 
Ini tidak lain karena bulan ramadhan dianggap lebih tinggi derajatnya dengan bulan lain dalam hal pelaksanaan ibadah bagi Umat Muslim. Dalam sistem kepercayaan Islam, Bulan Ramadhan adalah bulan di mana terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Kapankah malam itu? itu adalah rahasia Allah SWT yang seharusnya membuat kita berlomba mencarinya dengan terus beribadah mencari Ridho-Nya.

Penggunaan kata "munggah" juga menyiratkan perubahan, baik secara lahiriyah dan  batiniyah. Secara lahiriyah misalnya, kita harus menahan diri dari rasa haus dan lapar. Idealnya juga diiringi dengan perubahan dalam pemikiran, ibadah, sikap hidup dst. yang tentunya ke arah yang lebih baik sehingga benar-benar menjadi orang dengan sikap lahir dan batin yang berubah menjadi lebih baik saat di hari lebaran.

Sehubungan dengan keramas saya memahaminya sebagai cara membersihkan rambut kepala yang paling ideal. Kepala adalah bagian yang tidak mudah dibersihkan hanya dengan mengguyurnya, jika badan perlu digosok dengan sabun agar bersih dari keringat dan lainnya semacam cat, minyak dll maka keramas juga berfungsi sama, untuk membersihkan dengan lebih bersih bagian kepala beserta rambut.

Mengapa harus dibersihkan? 
Kembali lagi ke pemahaman munggahan itu sendiri, memasuki bulan suci ramadhan yang derajatnya lebih tinggi dari bulan lainnya, maka sepantasnyalah diperlukan persiapan lahir batin. Bebersih diri adalah salah satunya, membersihkan semua kotoran lahiriah (idealnya juga batiniyah) sebelum memasuki bulan puasa yang suci.

Mengenai mandi beramai-ramai di sungai atau di tempat-tepat khusus menjelang ramadhan juga adalah tradisi di daerah lain di Indonesia. Selama manfaatnya lebih banyak dari mudharatnya saya rasa bukan sebuah hal yang perlu untuk diperdebatkan. Sebuah tradisi tentunya memiliki sejarah dan hikmah di dalamnya, mari kita pelajari hingga benar-benar mengerti apa pesan yang ingin disampaikan oleh orang tua kita dengan tradisi itu.

Selamat berpuasa, mari berlomba mengejar Ridho-Nya di bulan suci ini :)

#1 Ramadhan 1438H

Klik untuk komentar