Turun menyusuri lembah kesunyian

 Turun menyusuri lembah kesunyian
  
Kini aku ingin bicara tentang tatap mata kosongmu itu.
Gak perlu dijawab, ini hanya pertanyaan yang tidak butuh jawaban.

Setelah tiba di puncak, kemana lagi kah para pendaki menuju?
Mereka menuruni bukit dengan gembira, 
membayangkan pendakian gunung lain yang telah menunggu.

Mencapai puncak adalah sebuah prestasi. 
Ada tepuk tangan meriah, sanjungan, puja dan puji...
tapi jangan lama-lama diam disana kawan.
Kejenuhan diam dan perlahan akan menghampiri, 
lalu memadamkan api semangat yang semakin kekurangan bahan bakar.

Naik dan turun itu biasa, di bawah atau di atas adalah lumrah. 
Semua hanyalah proses mengenali kesejatian diri.

Banyak dari kawan kita yang setelah berada di puncak enggan turun. Mungkin itulah tujuan dari pendakiannya... mencapai puncak, setelah mencapai puncak ia tidak tahu lagi mau bagaimana. Kehilangan tujuan? mungkin.

Ada juga yang tidak peduli sudah sampai puncak atau belum, baginya yang penting ia berjalan, entah sampai kapan, entah telah tiba dimana, tujuannya adalah berjalan, ia tidak peduli mengenai arah apalagi titik-titik terminal ataupun kata "sampai".

Kita di atas untuk turun, kita di bawah untuk naik. 
Kadang dalam langkah itu kita terjatuh
Terjatuh dalam sebuah proses itu adalah pelajaran berharga, tak mau bangkit untuk kembali mencoba itu adalah pilihan. Kesuksesan bukan dilihat dari seberapa tinggi kita mendaki, namun dari kemampuan selalu bangkit dan membenahi diri. Seberapa tangguh kita menghadapi segala ujian hingga akhirnya sampai ke puncak-puncak lain yang lebih tinggi dari sebelumnya. Jika setiap tujuan selalu mudah untuk dicapai, mungkin kita terlalu manja dan hanya mendaki puncak gunung yang sama.

Kejenuhan adalah titik terjauh yang telah kita tempuh, diperlukan mundur sejenak untuk kembali mendapatkan daya dorong yang cukup. 
Seperti tali busur yang perlu tarikan agar dapat meluncurkan anak panah.
Tidak, kejenuhan bukan alasan untuk menyerah dan pergi meninggalkan pendakian.

Atau kita butuh bahan bakar lain?
Dia sang Maha Sutradara memilih anak panah tanpa pernah salah
Pantaskanlah, tajamkan lah diri kita
Tidak mudah patah dan teguh membelah angin.
Lalu istiqomah, sebagaimana jalan para mustaqim

Kamu tahu apa yang Nabi Yunus AS terima ketika beliau jenuh lalu pergi meninggalkan tugasnya, meninggalkan kaumnya?  
[21:87, 37:139-148]

Karena jenuh itu niscaya, maka diperlukan kerendahan hati untuk bercanda dengannya :)

Salam.

Artikel ini memiliki 6 Komentar

  1. Nah.. udah bisa komentar niiih ^^

    Semalam saya mau komen apa ya? Lupa.. Yang jelas kalimat terakhir itu berkesan banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerendahan hati mementahkan segala tantangan, mungkin berat buat darah muda melihat lebih jernih semua tantangan yang ada, semampunya melawan hingga titik jenuh karena ternyata yang dilawan adalah ego diri sendiri kak :)

      Terima kasih sudah mampir

      Hapus
  2. Renungannya dalem banget Om Bisot..

    BalasHapus
  3. Namanya juga hidup, kadang di atas kadang di bawah. Gitu kan Om?

    BalasHapus