Silaturahim dengan Kelelesa

Aku  membaca kembali alamat di-sms yang kuterima 3 hari lalu. Sebuah undangan dari abang Herman, anak dari pakcikku. Mereka mengharapkan aku dan istri hadir dalam acara syukuran kelahiran anak pertama kemenakan kami Indah Lestari, putri dari bang Herman. Mereka bermukim di kawasan Jakarta Kidul. Daerah  yang belum pernah kami tahu. Sebetulnya kami sudah capek karena istriku Jenni bersama  anakku baru pulang dari  Medan kemarin malam. Dia datang dari sebuah kota kecil ke ibukota propinsi naik bis mini. Mereka naik pesawat kondang   di negeri tercinta ini. Termashur bukan karena pelayanan yang keren dan beken seperti CP, SQ atau JAL. Bukan. Akan tetapi karena sering menunda-nunda keberangkatan, sehingga merusak sistem yang telah diatur dan direncanakan dengan matang. Bahkan oleh siapa pun.

kelelesa mamae bunglon

Dijadwalkan pesawat tiba di bandara Soekarno Hatta pukul  18.30. berangkat dari bandara Kuala Namu, pukul 16.00. "Karena suatu hal pesawat terpaksa ditunda berangkat pukul 18.30," demikian pengumuman tiba-tiba dari pihak pemilik perusahaan penerbangan Kondang. Begitu, kata istriku.
Cobalah bayangkan sahabatku. Undangan dari bang Herman berpesan, kami harus datang. Kalau tidak datang, rasakan akibatnya. Meski halus isi undangannya, tetapi kalimat terakhir seolah-olah mengancam.  Tapi itu sangat jamak dalam dunia persilatan kekerabatan. 
 
Syahdan,  keluar dari jalan tol Pincuran Tujuh menuju selatan, aku pun ingin menancap gas mobilku. Tapi apa lacur, jalanan itu ramai sangat. Meski hari libur, tidak hari kerja, banyak insan di kota ini pergi bersilaturahmi ke handai taulan atau berjalan-jalan, sehingga sepanjang jalan ramai dan macet. Belum lagi sikap pengendara mobil dan motor yang tidak perduli dengan orang lain. Mereka pasti sudah  tahu, bila tidak mengendarai dengan benar, pasti membahayakan dirinya sendiri atau orang lain. Pejalan kaki pun melenggang dengan santai, sesuka hati. Sikap pengendara dan pejalan kaki, minimal mengganggu pikiranku.
 
Panas terik. Tibalah kami di sebuah komplek perumahan. Hebat. Nama  perumahan itu memakai istilah asing. Bahasa luar negeri.   Aku  turun menanyakan kepada tukang buah, kesahihan alamat yang kami tuju. Dengan ragu kakek itu menjawab sekenanya. Lalu kami tanya orang lain. Kami susuri jalan tersebut. Kami turun dan  bertanya lagi sampai 5 kali. “Tanya aja orang itu, pak Rinto namanya. Dia itu pak RT di sini, dia pasti lebih tahu. Maaf kami orang baru,” kata lelaki berkumis, tegap dan santun itu. Pak RT memberi petunjuk. Lurus, terus, belok ke kiri dan tanya lagi di sana, katanya.
 
Di sebuah jalan sempit aku  turun dan kembali bertanya. Seorang lelaki tambun, muka klimis, kumis rapi bak abang Jampang menerangkan dengan santun, “Itu di sebelah sana, sampeyan sudah kelewatan. Gang Anggur itu dekat dengan gang Langgar, gang Hutur Bode. Lihat aja Taman Jati, dekat bengkel motor. Dekat situlah  Gang Anggur,”
 
Tiba-tiba ponsel istriku berbunyi. Istriku Jenni segera menyahut : “Ya bang, masih bertanya-tanya. Katanya di sekitar sini”. Lalu ponsel itu diberikan padaku. “Ya pokoknya dekat bengkel  motor. Cepatlah kalian, acara menyampaikan sepatah dua kata, sudah mau dimulai”, kata abangku itu.
       
Kami pun kembali menyusuri jalan yang kiri kanan dipenuhi dengan pohon rindang. Asri, gitu lho. Setelah bertanya dan bertanya lagi, kami tiba di tempat tujuan. Kakiku pegal, serasa pingin diselonjorkan. Kami memang sudah terlambat. Acara makan siang sudah usai.
 
Rumah itu besar, luas. Tempat parkirnya, bisa menampung 20 mobil sejenis sedan. Lalu pohon-pohon rindang dan tanaman bunga yang indah dan menyejukkan mata. Aneka macam bunga seperti yang pernah saya lihat di Pameran Flona di Lapangan Banteng. Ini sangat beda dengan rumah kami  di desa Pekulonan, dekat Panunggangan, Tangsel. Ukuran sederhana L4. Lu Lagi Lu Lagi.
        
porsi lebih sedikit. Ada ayam “napinadar”, ayam gulai, ada  daging khas, dan sayur “pucuk ubi tumbuk". Ada  juga rumbah dan ulam. Hebatnya lagi ada ada tuak manis atau legen. Terasa nikmat sekali makan.       
 
Di atas meja sudah disajikan  kopi panas, teh, air putih dan, minuman ringan. Ada juga juga  kue bolu, lepat yang kami sebut lampet. Kami segera duduk dekat dengan pihak abangku. Tibalah saatnya acara bersilaturahmi mengucapkan selamat kepada kedua orang tua bayi - baru lahir. Mereka didampingi kedua orang tua  Richard suami Indah Lestari di sebelah timur. Tempat duduk sudah diatur. Indah Lestari memangku bayi itu. Namanya keren,  Puji Handoko Natama ORI. Aku menduga singkatan dari Oeang Republik Indonesia. Karena bayi itu lahir persis pada hari Nagara Danaraksa. Suaminya duduk disampingnya.  Dan orang tua  Richard didampingi kakak dan  adik dari orang tua tersebut. 
 
Di depan mereka duduk ayah dan ibu Indah Lestari, di sebelah barat. Di belakang orangtuanya duduk pula kakak, adik dan saudara yang lain. Aku dan isteri adalah rombongan  dari pihak mereka. Itulah adat, kebiasaaan suku kami. Setiap orang diharapkan berbicara  menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas karuniaNya, segala kemudahan dan berkat yang berlimpah kepada keluarga. Bila setiap orang berbicara masing-masing 3 menit dan yang hadir ada 30 orang, maka acara berkata-katapun  bisa sampai 90 menit. Saat itu aku hitung ada 42 orang. Isteriku bicara 4 menit. Aku pun harus bicara pula. Sengaja kukorting menjadi 2 menit saja dengan maksud agar berhemat kata-kata.
            
bukan hanya sepatah kata, tetapi kata-kata yang berpatah-patah dan patahannya banyak sekali. Aku pun bersyukur apabila ada insan yang mengatakan “Udah sama aja dengan apa yang dikatakan mak Rindu.” Itu berarti akan menghemat kata-kata dan waktu, agar acara berakhir lebih dini.

Diantara kerabat itu, ada yang berbicara dengan semangat luar biasa. Bicaranya kayak ilmuwan, pengamat politik, atau seperti pembicara kondang. Ada yang berlagak bahadur, perwira atau pendekar. Padahal aku tahu dia ini siapa. Dia bisa berubah seperti orang hebat. Orang-orang seperti ini kerap sekali aku temukan dalam acara adat atau kebiasaan di suku  kami, baik dalam acara suka dan duka.
 
Dua jam lebih sudah, acara itu masih berlangsung. Sudah menjelang sore. Maka diam-diam aku melangkah ke mobil. Pura-pura menggenggam ponsel. Aku ingin rehat sebentar karena sedari tadi sudah menguap terus-menerus. Malu di depan kalangan mertua dan saudara-saudaranya. Ketika mau duduk dan selonjorkan kaki, sekonyong-konyong tampak olehku disebelah kiri  seekor kelelesa atau bunglon bertengger di dahan tanaman bunga.
 
Aku tatap binatang berwarna hijau kehitam-hitaman itu. Bunglon itu juga menatapku dengan menggerakkan lehernya. Aku tertarik dan segera kuambil ponselku dan ingin memotretnya. “Kesempatan baik,” pikirku. Tenang saja dia. Aku teringat, 2 minggu lalu aku memotret bunglon-bunglon yang dipamerkan dan dijual di Pameran Flona-flora fauna di Lapangan Banteng. Bunglon itu hijau, seperti daun-daun kangkung yang ada di kurungan mereka.
 
Segera saja kuabadikan  kelelesa bergaya di sela tanaman bunga. Cekrek. Berhasil. Lalu dia berlalu. Secepat  panah kelodan. Aku ikuti pelan, namun dia lebih cepat bersembunyi entah kemana. Sekejap aku tertidur di dalam mobil dengan pintu terbuka dengan udara alam yang sejuk dan bayu berhembus. Tiba-tiba kelelesa itu mengajakku bicara.
“Lagi silturahmi ya?’ tanyanya. Suaranya halus, penuh persahabatan
“Lho kok bisa berbahasa Indonesia,?” tanyaku
“Ya dong, mahluk Indonesia toh.  Teman-teman anda saja yang cepat berubah. Belum pasih bahasa asing, malah bahasanya dicampur-campur bahasa asing. Lihat kan tadi, komplek rumah  penuh dengan bahasa asing? Anda tahu? Kami juga suka membaca Kamus Besar Bahasa Nusantara”
“Kok tahu?’
“Ya pasti tahulah. Wong kami sering dengar di televisi. Kami juga sering  ada di pohon atau tanaman yang ada di komplek ini”
Aku tertunduk,  tergeleng-geleng, seekor kelelesa mengkritikku.
“Mau mendengarkan aku nggak?,” kelelesa itu memohon.
“Kenapa harus bertanya begitu sih?” Aku heran.
“Ya kan manusia biasanya enggan mendengar, tapi maunya didengar aja”
“Ha ha ha ha. Bisa saja kamu lon. Silakan,” kataku
“Aku  ini mau  berdoa bukan berbicara”
“Hah” kataku kaget. “Berdoa? Apa bisa?”
“ Ya bisa dong, kami juga mahluk  ciptaan Tuhan kok. Sama seperti anda ini” “Jadi doa kelelesa atau doa bunglon, gitu?

 
Lalu aku melipat tangan dan tutup mata. Segera saja bunglon itu berdoa. Begini katanya:
“Ya Tuhan. Musuhku kehilangan jejak mencari aku. Mereka kebingungan menemukan aku,  padahal aku ada di sampingnya Tuhan. Engkau memberiku anugerah untuk mengubah warna kulitku. Di pucuk daun  warna kulitku berubah menjadi hijau. Saat merayap di pohon warna kulitku menjadi kehitam-hitaman.

Dengan cara itu aku dapat menghindari musuh yang ingin mencoba menyakiti aku.
Tuhan,  aku sungguh sakit hati. Manusia menyebutku sebagai binatang yang tidak punya kepribadian. Bunglon  binatang yang tidak berani menampakkan jati diri. Bunglon si picik yang pandai untuk mencari keselamatan diri. Pada waktu mengganti warna,  mereka  menuduhku mencari keuntungan pribadi.

Tuhan,  manusia  memang tidak adil. Mereka menuduhku tidak punya kepribadian.
Padahal  ini semua adalah kekayaan anugerah-Mu. Lain halnya dengan manusia sendiri. Mereka tak kau ciptakan seperti aku, tetapi  mereka sangat suka mengubah warna kulitnya hanya demi keuntungan dan egoisme mereka sendiri.

Tuhan, manusia  menghinaku karena aku  binatang lemah. Mereka  tidak sadar kalau mereka justru  sering menjual diri dengan meniru aku. Oleh karena itu, aku berdoa untuk manusia agar dalam hidupnya selalu menerima diri dan selalu dekat pada-Mu sehingga setiap tindakannya menampakkan  Kebijaksanaan-Mu”.

“ Pak … bapak. Ayo pulang. Acara sudah selesai,” tiba-tiba pundakku ditepuk lembut oleh istriku.
“Ya aku ini lagi berdoa lho mamae? “
“Berdoa, kok tidur?”
“Ya tadi berdoa dengan….”
“Dengan siapa?”
“Itu dengan,… dengan kelelesa mamae”
“Binatang apa sih itu?”
“Bunglon hijau eh bunglon yang hijau kehitam-hitaman itu”

*) Terinspirasi dari Doa Seekor Bunglon dari buku N. Wahyu Sulistiyana : Pujian dan Doa 70 Binatang, Penerbit Kanisius, 1996


Oleh Mata Bening B. Parta
TCM 71/2014

Klik untuk komentar