#2 Lapar mengajarmu rendah hati selalu

Lapar mengajarmu rendah hati selalu

Ada anak bertanya pada bapaknya
Buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya
Tadarus tarawih apalah gunanya

Lihatlah langit keampunan yang indah
Membuka luas dan angin pun semerbak
Nafsu amarah terbelenggu dan lemah
Bunga ibadah dalam ikhlas sedekah

Lapar mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi
Tadarus artinya memahami kitab suci

Demikian lirik lengkap lagu "Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya" yang dipopulerkan oleh Grup Bimbo lalu dipopulerkan kembali oleh Band Gigi.

Menarik untuk melihat pertanyaan seorang anak: "Buat apa berlapar-lapar puasa?"
Bukanlah makanan dan minuman ini semua halal?
Mengapa kita tidak boleh memakan dan meminumnya di siang hari saat berpuasa?

Sang ayah hanya menjawab "Lapar mengajarmu rendah hati selalu".
Sebuah jawaban yang mungkin tidak akan menyelesaikan rasa pengetahuan seorang anak, terlebih anak-anak zaman sekarang yang lahir dan tumbuh di era komputasi awan yang akan segera menyediakan jawaban melalui mesin pencarinya.

"Lapar mengajarmu rendah hati selalu", ada apa dengan "rendah hati"?, apa keutamaan dan apa manfaatnya?

“Tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).

Itu rupanya keutamaan sifat rendah hati (tawadhu’), yang dalam lagu ini sifat tersebut lahir karena rasa lapar akibat berpuasa.

Begitu banyak manfaat dari puasa, kenapa Bimbo memilih sikap rendah hati untuk diabadikannya melalui liriknya?

Simak hadis ini:
"Barangsiapa yang menanggalkan pakaian mewah karena tawadhu' kepada Allah, padahal ia mampu membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan sekalian manusia, kemudian menyuruhnya memilih sendiri pakaian iman mana pun yang ia kehendaki untuk dikenakan." [Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan nya no 2481, Imam Ahmad didalam Musnad nya 3/439 dan Imam al-Hakim dalam Al-Mustadraknya IV/183. Lihat juga Silsilatul Ahaadits Ash-Shahihah no 718]

Ya, saat kita menjalankan ibadah shaum (puasa), kita tidak makan dan minum bukan karena makanan dan minuman itu haram, makanan dan minuman tersebut tetap halal secara fisik hanya saja kita memilih meninggalkannya karena kita yakin Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik.

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata bahwa sanad hadits ini shahih).

Jika lapar dan haus adalah efek yang kita pilih sebagai konsekuensi logis ibadah shaum, kiranya apakah yang kita harapkan kelak sebagai penggantinya? Bimbo benar, salah satunya adalah sifat tawadhu', tidak sombong (Takabur). karena "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri (takabur).” [QS 16: 23]

_________________
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, dan aku memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

2 Ramadan 1437 H (2016)

Klik untuk komentar