#17 Sedikit Mengenai Sedekah dan Hadiah

 Sedekah dan Hadiah

Saat Nabi Muhammad SAW dan rombongan hijrah ke Madinah, ada seorang budak dari Persia menemuinya dan memberikan sedekah makanan, beliau kemudian mempersilahkan para sahabatnya memakan sedekah tersebut sedang beliau sendiri tidak menyentuh makanan tersebut. “Makanlah dengan menyebut nama Allah,” kata Rasulullah kepada para sahabatnya. Beliau sendiri tidak ikut memakan makanan tersebut.

Keesokan harinya, budak dari Persia itu kembali menemui rombongan Nabi SAW. “Aku melihat Tuan tidak mau menyentuh makanan sedekahku, kini aku membawa makanan ini sebagai hadiah,” ujarnya. “Makanlah dengan menyebut nama Allah” kata Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Beliau juga turut memakan makanan tersebut.

Demikian saya sarikan dari berbagai sumber mengenai kisah perjumpaan awal Salman Al-Farisi (R.A) bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Saat itu Salman Al-Farisi (R.A) belumlah memeluk islam, ia adalah seorang pencari kebenaran yang telah terdidik secara baik dalam agama Kristiani, karenanya ia mengenal baik apa makna sedekah (eleemosune, derma) dan juga makna hadiah.

Dari blog ini saya mengutip: "di dalam Matius 6:1-4, kita menermukan arti bersedekah yang sesungguhnya. Kata sedekah diterjemahkan dari bahasa Yunani: eleemosune, yang artinya adalah memberikan sesuatu dengan tulus hati bagi orang lain yang sangat membutuhkan. Pemberian dengan tulus hati karena mengasihi Tuhan itulah pemberian secara sedekah. Jika dirunut ke akar kata dari sedekah, maka kita menemukan bahwa asal-usul dari kata sedekah adalah dari bahasa Ibrani: tsedeq yang artinya adalah benar. Jadi orang yang melakukan sedekah adalah orang yang benar, tulus hati karena mengasihi Tuhan, sehingga tergerak untuk memberikan sesuatu (barang atau uang) kepada orang miskin.

Dalam Al-quran juga dijelaskan “Sesungguhnya zakat-zakat (Shadaqhatu), hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengelola-pengelolanya, para mu’allaf, serta untuk para budak, orang-orang yang berhutang, dan pada sabilillah,  dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang telah diwajibkan Allah. Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana”. (At-Taubah: 60) Kata as-Shadaqat (الصَّدَقَاتُ) yang disebutkan pada awal ayat ke 60 surat At-Taubah (9 ayat 60) ini adalah bermakna zakat.

Perlu membaca beberapa referensi lagi untuk tahu perbedaan antara zakat dengan sedekah, beberapa perbedaan yang mencolok adalah:
Zakat (zakat fitrah dan maal) adalah salah satu rukun islam yang wajib untuk ditunaikan bagi setiap muslim yang mampu, sedangkan sedekah adalah sunah.
Zakat telah diatur ketentuan besaran, waktunya dan siapa yang berhak menerimanya dengan syariat, sedangkan sedekah tidak diatur secara khusus karena sunah.

Dari referensi di atas tersebut saya menyimpulkan apa yang pertama kali diberikan oleh Salman Al-Farisi (R.A) kepada Nabi SAW adalah sedekah, tidak mungkin diartikan zakat karena zakat belum diberlakukan saat awal Nabi Hijrah di mana kisah ini terjadi. Baik Salman (R.A) maupun Nabi SAW sama-sama memahami arti sedekah, oleh karenanya Nabi SAW tidak ikut memakannya walau beliau tidak melarang sahabat untuk memakannya.

Kali kedua Salman (R.A) menyatakan pemberiannya adalah hadiah (charis/charity), mengenai hadiah ini beliau menerimanya dan ikut memakannya. Baik Salman dan Nabi SAW paham akan makna hadiah yang Salman (R.A) berikan. Dan Salman Al-Farisi (R.A) sendiri melakukan hal tersebut adalah sebagai ujian kepada Nabi SAW sebagaimana pesan gurunya di Amuria yang saat itu merupakan wilayah Romawi. "Aku tidak menyuruhmu berguru kepada siapapun. Sebab saat ini sudah diutus seorang Nabi. Ia akan datang berhijrah ke sebuah tempat yang dipenuhi dengan kurma. Tempat itu diapit dua bebatuan hitam. Jika kau sanggup, pergilah ke sana. Dia punya tanda-tanda yang jelas. Dia tidak menerima sedekah, tetapi menerima hadiah ... dst", sebuah pesan yang akhirnya membawa Salman (R.A) ke Madinah menemui Rasulullah SAW.

Dari kisah ini saya belajar membedakan makna kata sedekah dan hadiah, terlebih kata zakat. Walau dalam Al-Quran kata Shadaqat bisa juga diartikan sebagai zakat namun dalam pemahaman dan praktek perbedaan sedekah dan zakat telah dipahami secara baik oleh orang awam sekalipun.

Soal hadiah ada satu kisah lain yang perlu juga diperhatikan dalam Al-Quran, yaitu kisah saat Nabi Sulaiman A.S akan diberikan hadiah oleh Ratu Balqis dari Negara Saba. Nabi Sulaiman A.S menolak hadiah dari Ratu Saba karena hadiah tersebut adalah simbol penolakan atas seruan tauhid. Kisah selengkapnya sila cari dan baca sendiri yah gan :) Gak ada habisnya kalau mebicarakan Nabi Sulaiman A.S :)

Dua kondisi berbeda melatarbelakangi pemberian hadiah oleh Salman (R.A) dan Ratu Saba, dua sikap berbeda pula yang diterima si pemberi. Hadiah dari Salman (R.A) diterima dengan baik dan kelak Salman Al-Farisi (R.A) menjadi salah satu sahabat utama yang dihormati baik oleh kalangan Quraisy ataupun Anshar, sedangkan pemberian hadiah oleh Ratu Balqis mendapat respon penolakan dan ancaman dari Nabi Sulaiman A.S. Kiranya kita sudah memiliki dua contoh terbaik dalam menyikapi pemberian hadiah dari siapapun. Semoga berguna :)

Salam

17 Ramadan 1437 (2016)

Klik untuk komentar