Gendis, Srikandi dalam film: 3 - ALIF LAM MIM (2015)

Film 3 (ALIF LAM MIM ) ini menjadi film pertama yang saya tonton di 2016. Gara-garanya membaca tulisan Diaz "Antara Tokoh Lam, Reinkarnasi, dan Krisis Tempat Bagi Kebenaran" yang memotret mengenai tokoh Herlam atau Lam dari trio tokoh Alif (Cornelius Sunny), Lam (Abimana Aryasatya), dan Mim (Agus Kuncoro).

Gendis, Srikandi dalam film: 3 - ALIF LAM MIM (2015)Yah, dibandingkan dengan Alif, aparat penegak hukum yang "jago silat" dan Mim yang nyantri dan "misterius" itu saya juga cenderung tertarik kepada Lam. Seorang wartawan idealis berkeluarga dengan 1 anak, yang paling menderita karena harus kehilangan istri dan hampir kehilangan anak demi idealismenya. Lam juga adalah sang penengah antara dua kutub kebenaran versi kedua sahabatnya; Alif dan Mim.
Film yang naskah skenarionya merupakan karya keroyokan Umbara bersaudara: Anggy Umbara, Bounty Umbara dan Fajar Umbara ini menyisipkan unsur romantis yang pas untuk lebih memperkenalkan tokoh Alif dan Lam. Walau tidak sebanyak Lam, sisi romantis antara Alif dan Laras (Prisia Nasution) disisipkan secara halus dan dikemas dengan baik di bagian akhir film saat menentukan siapakah diantara mereka yang akan tetap hidup dengan 1 ampul penawar racun yang hanya cukup untuk salah satu dari mereka berdua.

Saya suka film drama, dalam film ini unsur drama sebagian besar saya dapatkan dari kisah kehidupan keluarga Lam dan Gendis (Tika Bravani). Masalah Gilang anaknya yang memiliki kecerdasan lebih, sehingga membuat masalah dengan meretas sistem informasi di sekolahnya. Masalah nafkah keluarga, masalah  risiko kerja suaminya yang idealis, sosok ibu yang mengorbankan nyawa demi menyelamatkan anaknya, dst.

Tokoh Gendis ini tampil sempurna saat berdialog dengan Lam mengenai draft artikelnya. Pertanyaan cerdas "Kamu yakin bukan aparat yang taro botol itu?" menunjukkan konflik batin saat Lam membeberkan fakta liputannya yang cepat atau lambat akan melibatkan Mim sepupuh Gendis, hal yang akan menghadapkan secara frontal Alif dan Mim, sebuah situasi yang tidak diinginkan suaminya.

Kata-kata Gendis yang cukup dalam mengusik hati saya itu:
"Lam, Kamu ingat nggak, dulu kamu bilang apa sama Papah waktu ngelamar aku?, Aku gak pernah lupa tuh. Dulu kamu minta izin ke Papah buat ajak aku nemenin kamu berjuang bareng di sisa umur kita, bukan buat jamin aku hidup bahagia lo yah, tapi buat berjuang bareng dan ternyata justru itu membuat Papa memilih kamu...."

"Kalau kamu takut nggak ada uang karena mikirin aku dan Gilang, itu sama aja kamu nggak ngasih kesempatan ke aku dan Gilang buat nemenin kamu berjuang, justru ini kesempatan kamu buat titip tauladan ke Gilang, supaya dia bisa melihat sendiri, bagaimana ayahnya menentukan sikap, bahwa dia punya ayah yang tajam mata hatinya, yang selalu berusaha adil menilai mana yang benar dan mana yang kelihatannya benar. 
"Aku takut jadi istri yang membuat suaminya tuli, gak bisa dengar kata hatinya sendiri". 
"Cuma kamu yang bisa ajarin aku untuk nggak bergantung sama uang. Nggak takut sama dunia."
Itu jawaban panjang Gendis saat ditanya Lam, siapakah yang akan ia pilih jika harus memilih antara Gilang atau dirinya. Sebuah pertanyaan dilematis. Monolog panjang ini sedikit banyak menjelaskan karakter dan kepribadian Gendis yang telah mencuri perhatian saya serta menjadi pemanis film Indonesia pertama bertema campuran atau sebut saja action drama dystopian ini :)

Gendis... ibu beranak 1 ini menjadi istimewa bagi saya mengingat latar belakang film ini berkisah Jakarta di tahun 2036 yang katanya sudah super liberal. Tidak ada sumber yang menjelaskan berumur berapakah Gendis, tebakan sotoy secara kasar dengan mempertimbangkan anak tunggal, Gilang yang masih SD dan hasil diskusi sama Diaz, kami berkesimpulan Gendis berusia antara 30-36, atau generasi kelahiran 2000-2006, antara generasi milenium (milenial) dan platinum. Tapi dalam film ini secara eksplisit digambarkan bahwa tahun-tahun 2015-2026 adalah masa revolusi yang banyak mengubah tatanan sosial Indonesia masa depan. Sehingga kata "perjuangan" yang terdapat dalam monolog Gendis di atas tentunya merujuk pada situasi tersebut.

Gendis, Srikandi dalam film: 3 - ALIF LAM MIM (2015)
 Gambar dari http://www.layar-tancep.com

Lebih jauh memperhatikan semua kemunculan Gendis di film ini, saya juga mengasumsikan keluarga Lam-Gendis-Gilang ini tidak memiliki asisten keluarga. Saat rumah Lam diserang yang mengakibatkan kematian Gendis, tidak ada penghuni lain dalam rumah itu, hanya Gendis dan Gilang. Mungkin di zaman itu semua peralatan sudah serba canggih dalam hal membantu para ibu rumah tangga dalam urusan domestiknya sehingga kebutuhan akan asisten rumah tangga akan banyak berkurang, di lain sisi, ini memberi kesan kemandirian seorang Gendis dalam hal mengelola rumah tangganya.

Gendis, Srikandi dalam film: 3 - ALIF LAM MIM (2015)In short, Gendis ini seorang istri mandiri yang konservatif, tipe wanita pejuang yang selalu mendukung penuh perjuangan suaminya dalam mempertahankan idealisme. Monolog Gendis di atas itu jelas memberi dorongan moril kepada Lam yang sedang galau menerima tawaran liputan ke Bromo agar ia berhenti mengusut kejadian di Jakarta atau resign dari Libernesia tempatnya bekerja. Monolog itu juga menunjukkan kedewasaan Gendis, dia bukan tipe wanita yang membuta memuja cinta di atas segalanya, menjadi istri Lam baginya adalah misi dan amanah dari ayahnya yang mengizinkannya untuk menemani perjuangan Lam.

Menarik untuk mempertanyakan pendidikan seperti apa yang diterima Gendis kecil sehingga memiliki karakter umum srikandi masa-masa perjuangan kemerdekaan. Apakah hubungan kekerabatan Gendis dengan Mim yang bersaudara sepupuh itu dapat sedikit mengungkap latar belakang karakter Gendis ?keibuan, anggun dan jelas bukan perempuan cengeng ketika melawan para penyerang yang menyusup ke rumahnya walau akhirnya dia tewas dalam upaya menyelamatkan anaknya.

Gendis... apakah karakter ibu, istri dan pribadi seperti ini masih akan ada di tahun 2036 nanti? dan apakah karakter srikandi seperti ini masih mendapat tempat dalam tata nilai masyarakat yang super liberal? Apakah hubungan relasional suami istri dalam sebuah keluarga modern di masa depan masih semesra itu? sekarang saja saya "merasa" banyak melihat konsep keluarga yang kurang lebih bersifat hubungan perikatan kontrak hukum perdata.

Melalui film ini jelas Anggy Umbara banyak menyampaikan pesan baik yang jelas dan yang samar. Dia berhasil membuat banyak pertanyaan yang akan mengantar saya pada perenungan-perenungan setelah menonton film bergenre campuran action, drama dan agak religius ini. Salah satu pesan yang disampaikan ada pada gambar latar belakang foto Alif di awal postingan ini. Angka 38: 80-83 bukan sebuah angka tanpa makna. Apapun makna 4 ayat Al-Quran di surah Shad (38) itu dikembalikan kepada kita semua, untuk merenungkannya.

Salam

4 komentar

avatar

Anggy Umbara memang "berdakwah" di setiap filmnya dengan cara dia.

Yang jadi pertanyaan saya kok baru nonton di awal 2016?

avatar

Baru tau juga setelah baca blog teman. Nunggu nobar kopfi area bekasi :)

avatar

Setuju sama review ini. Kalau saya nonton juga, sepertinya saya akan terpaku pada sosok Gendis. Laki2 harus jeli utk memilih istri karena karakter seperti ini yang ada dalam diri seseorang harus diamati dengan baik baru ketahuan atau bahkan setelah berumah tangga belasan atau puluhan tahun baru terbukti. Dan ... laki-laki butuh istri berjiwa seperti itu untuk berjuang di masa depan yang mungkin jauh lebih sulit atau lebih besar tantangannya di banding masa kini.

avatar

:) ada misi besar dalam sebuah keluarga, terlepas dari individu suami dan istri yaitu mempersipkan generasi yang lebih baik, soal manajemennya yah kesepakatan suami istri aja. Gitu sih kalau menurut saya kak :)

Klik untuk komentar