#kopi yang tersisa di SMP/MTs Terbuka

Adi Supriadi bukan siapa-siapa, tidak perlu mencari nama ini dalam Wikipedia atau catatan rekor apapun. Karena: ia tidak terlalu paham Wikipedia dan kedua ia tidak memiliki uang untuk membayar agar namanya tercatat dalam rekor apapun.

Adi Supriadi masih tetap bukan siapa-siapa. Mungkin ada ribuan Adi Supriadi di twitter, namun tak satupun dari mereka adalah Pak Guru Adi, demikian saya dan murid-murid beliau biasa memanggilnya, karena Pak Adi tidak paham gaduh dan ramainya dunia 140 karakter di Twitter.

SMP Terbuka di Kampung Tambun Bulak Desa Samudera Jaya Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi
Pak Guru Adi, Bang Beni dan murid SMP Terbuka
Pak Adi yang saya kenal periang ternyata banyak menyimpan sendiri mimpinya, pernah berbulan-bulan menyembunyikan proposal bantuan pembangunan sekolah dalam tasnya, beliau tidak pernah bercerita kepada saya tentang kesusahan atau kendala dalam pembangunan fisik sekolah impiannya. Dan saya tahu kapasitas saya untuk bertanya terlalu banyak mengenai masalah-masalah yang saya sendiri tidak memiliki solusinya.

Dalam beberapa hal ia juga jarang meminta kepada saya hal-hal yang entah darimana ia tahu saya akan enggan memenuhinya, kalaupun saya melakukannya kemungkinan besar akan bersifat insidentil.

Sudah 2 tahun berlalu sejak saya mengenal Pak Adi, seorang guru sederhana yang merangkap kepala MTs Terbuka di Kampung Tambun Bulak Desa Samudera Jaya Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi.

Sekolah yang ia dirikan di tanah peninggalan almarhum ayahnya kini telah terbangun 3 kelas. Satu diantaranya menjadi kelas inspirasi yang kerap dibajak menjadi ruang serba guna karena lebih luas dari 2 ruangan kelas lainnya.

Kenapa ia membangun sekolah di lahan seluas kurang lebih 300 meter itu? Saya dengan pandangan yang sempit melihatnya sebagai anomali sosial di lingkungan  yang mayoritas profesi petani dan peladang umumnya akan memanfaatkan lahan produktif tersebut menjadi ladang sebagai sumber mata pencaharian.
Manusia macam apa yang mau menggunakan tanah warisan keluarganya menjadi sebuah sekolah? Biaya darimana membangunnya? Bagaimana operasional proses mengajar belajarnya? Bagaimana menggaji tenaga pengajarnya? Zaman sekarang siapa yang mau mengajar tanpa dibayar? dan sejumlah pertanyaan lainnya.
Pak Guru Adi dan sekolahnya ini menjadi anomali karena terlahir dari berbagai ketidakmungkinan, sebuah perjalanan yang bukan hanya menuntut ketahanan fisik tetapi juga membutuhkan ketangguhan mental, untuk sederhananya dapat dirangkum dalam kata "nekad".

Pertanyaan-pertanyaan tadi satu-persatu menguap karena buktinya kini Pak Adi telah mewujudkan impiannya mendirikan TKB yang dahulunya SMP Terbuka sekarang menjadi MTs Terbuka yang terwujudkan menjadi 3 ruang kelas walau tanpa pintu dan tanpa listrik. Soal beralihnya dari SPM Terbuka menjadi MTs Terbuka adalah soal berubahnya sekolah induk TKB ini.

SMP Terbuka di Kampung Tambun Bulak Desa Samudera Jaya Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi
Suasana kelas awal berdirinya gedung
Mungkin saya harus menyelami kembali saat Pak Guru Adi Muda menjadi TKI di Korea atau ke masa-masa pencariannya. Mungkin dari sana saya akan dapat memahami bagaimana Pak Guru Adi merawat mimpinya dapat tetap hidup dan akhirnya terwujud.

Tapi apa benar mimpi beliau sudah terwujud? Apa penting mewujudkan sebuah mimpi? kecuali semua itu berpulang pada sejauh mana kita mempercayai dan mewujudkan mimpi-mimpi itu, atau yang penting itu adalah sejauh mana kita dapat bertahan merawat dan mempertahankan mimpi-mimpi kita? Entahlah... semua menjadi relatif.

Mungkin urgensi masalah di depan mata membuatnya tampak tidak terlalu memikirkan akan izin operasional sekolahnya dan formalitas serta standar-standar yang hanya mengganggu mengabdikan diri dengan totalitasnya. Mungkin ia hanya memikirkan hari ini pengetahuan dan ketrampilan apa yang akan ia pelajari bersama dengan 40an muridnya. Murid-murid yang sebagian besar masih sanak keluarga dan tetangga orang tuanya.

SMP Terbuka di Kampung Tambun Bulak Desa Samudera Jaya Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi
Kondisi Februari 2015
Jika impiannya sudah tercapai mengapa Pak Guru Adi masih terus berkeringat terbakar matahari dan mondar-mandir antara rumahnya di Desa Pahlawan Setia ke MTs Terbuka di Desa Samuderajaya yang jalanannya masih berupa gang pinggiran pematang sawah yang sepi dan perlu konsentrasi tinggi karena kondisi jalan yang rusak. Dengan motor bebek tua yang masih setia mondar-mandir setiap harinya, sapaan hangat Pak Guru Adi selalu terdengar saat berpapasan dengan warga yang ia temui.

Deg... Nama desanya sesuatu banget Pak, Desa Pahlawan Setia. Bagi orang lain mungkin bapak bukan siapa-siapa, tapi bagi anak-anak didik bapak dan keluarganya mungkin bapak layak disebut pahlawan, yang memberi kesempatan bagi warga untuk melanjutkan pendidikan jenjang SMP dengan tanpa beban biaya uang pendaftaran, uang gedung, uang SPP dan lain-lain. Membukakan kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pada para alumni SMP dengan bantuan-bantuan dari berbagai pihak. Dengan tanpa beban mengajak para relawan dan dermawan untuk ikut melihat kenyataan yang selama ini hanya didengar dan dilihat melalui media.... seakan jauh dan hanya berita biasa.

Tapi bagi Pak Guru Adi, ia tidak perduli dengan kata pahlawan, ia hanya mencoba mengambil peran untuk memenuhi janji-janji bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Namun bagaimanapun Adi Supriadi masih tetap bukan siapa-siapa, ia hanya salah satu dari kita, warga negara biasa yang memilih menyalakan sebatang lilin dan enggan pasrah menunggu gelap pergi. Sebuah jalan sunyi yang jauh dari nyaman dan penuh tantangan.

Melihat Pak Guru Adi ini, saya seperti mendengar ajakannya yang tak terucap: "Mari nyalakan lilin dan bangunkan saudara-saudara kita yang terlelap pulas dalam gelap".
Kelas Inspirasi SMP Terbuka Tarumajaya Bekasi
Kelas Inspirasi 09/10/2015
________
Foto 1, 2 dan 3 dari Anazkia.com
Foto 4 dari Facebook MTs Terbuka

4 komentar

avatar

Masya Allah luar biasa ..... semoga Pak Guru Adi senantiasa diberi kekuatan yang luar biasa oleh Allah dan semangat membara.

Bisa dimasukkan beliau ini ke program TV yang sedang mencari sosok pahlawan "yang bukan siapa-siapa" ... aih tapi saya lupa di TV mana ... MNC TV kalo ndak salah

avatar

Amiin :) Makasih kak infonya.

avatar

semakin merasa bahwa aku bukan siapa-siapa. Good luck Pak Adi, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa!

avatar

Amiin, semoga kita semua dapat berkontribusi positif

Klik untuk komentar