Tentang Sekolah Terbuka

Belum lama saya membaca postingan blog Anazkia yang berjudul Belajar Bersama di SMP Terbuka. Timbul pertanyaan: SMP Terbuka itu apa? sistemnya bagaimana? dan pertanyaan-pertanyaan seterusnya saya coba cari jawabannya dan saya catat disini.

Saya sudah lama mengenal istilah sekolah terbuka, SD, SMP dan SMA terbuka, mungkin konsepnya mirip dengan istilah "Kelas Jauh" yang pernah saya dengar saat SMA. SMA saya dahulunya SMA 1 KJ dimana "katanya" merupakan Kelas Jauh dari SMA 1 Boedoet (Budi Utomo Jakarta Pusat) lalu kemudian saat saya masuk SMA sudah menjadi SMAN 54, iya SMAN 54 Rawabunga Jakarta Timur. Kembali ke sekolah terbuka, khususnya SMP Terbuka, SMP Terbuka ternyata merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak berdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari SMP Induk yang dalam menyelenggarakan pendidikannya menggunakan metode belajar mandiri.

SMP Terbuka Tarumajaya Bekasi
Foto by: Anazkia
Idealnya SMP Terbuka merupakan satu alternatif subsistem pendidikan formal yang menerapkan prinsip pembelajaran secara mandiri dengan menggunakan modul sebagai bahan ajar dan peran serta masyarakat.

Latar Belakang SMP Terbuka

Kenapa ada model SMP terbuka? Sebagian wilayah Indonesia memiliki kondisi geografis yang sulit dijangkau moda transportasi umum. Kondisi ekonomi sebagian masyarakat yang masih lemah dan berbagai faktor lainnya berakibat pada keterbatasan akses pendidikan bagi anak-anak usia 13-18 tahun selepas lulus dari jenjang sekolah dasar. Melalui SMP terbuka, mereka dapat memperoleh layanan pendidikan yang diperlukan. Contoh nyata adalah SMP TKB Terbuka di Desa Samuderajaya Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi. Letaknya di pelosok, Kampung Tambun Bulak dengan akses jalan yang hanya cukup dilalui 1 mobil, kurang lebih lebar jalannya 4-5 meter. Foto situasi dan kondisi ada di [album Facebook survey SMP Terbuka]

SMP Terbuka bertujuan memberikan kesempatan belajar yang lebih luas kepada anak-anak lulusan SD/MI atau sederajat yang tidak dapat mengikuti pendidikan SMP Reguler karena berbagai hambatan yang dihadapinya. SMP Terbuka memiliki satu atau lebih Tempat Kegiatan Belajar (TKB) dan dalam operasionalnya menginduk pada SMP Negeri.

TKB yang dikelola langsung oleh SMP Induk disebut TKB Reguler, sedangkan TKB yang dikelola oleh masyarakat yang peduli terhadap pendidikan disebut TKB Mandiri (TKBM). Jadi dalam hal ini SMPN 1 Terbuka Samuderajaya sepertinya masuk dalam kategori setengah TKBM karena sebagian guru dan gaji (walau seadanya) masih dikelola sekolah induk, sedangkan sebagian guru adalah relawan yang juga mengelola berbagai donasi seperti buku, pelajaran tambahan dan dana donasi untuk pembangunan fisik maupun operasional sekolah.

Lulusan SMP Terbuka adalah sama dengan lulusan SMP reguler, dengan menerima Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) SMP yang dikeluarkan oleh sekolah induk.
Hal ini berarti bahwa lulusan SMP Terbuka mempunyai hak dan kesempatan yang sama dengan lulusan SMP reguler. SMP Terbuka diakui eksistensinya dengan dasar hukum Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nomor 053/U/1996 Tentang Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Terbuka. Baca lebih lanjut peraturan tersebut di SINI.

Di beberapa wilayah Kabupaten Bekasi khususnya 3 Kecamatan bagian Utara seperti Muaragembong, Babelan dan Tarumajaya sekolah-sekolah terbuka merupakan alternatif ideal karena faktor terbatasnya sekolah-sekolah negeri, kurangnya angkutan umum, faktor geografis dan berbagai kondisi lingkungan sosial.

Wilayah Kecamatan Tarumajaya lebih beruntung dari 2 kecamatan lainnya, karena berbatasan dengan wilayah Jakarta Utara sehingga akses ke berbagai pelosok relatif lebih dekat dan mudah dijangkau. Sepanjang yang saya ketahui ada beberapa SD dan SMP alternatif yang sudah menerapkan sistem sekolah terbuka mandiri dengan memiliki sekolah induk.


SMPN 1 Terbuka di Desa Samuderajaya

SD Alam Dhuafa Anak Soleh (Sekolah Dhuafa) dan SMP/MTs TKB Terbuka di Desa Samuderajaya.


Saya kerap berkunjung ke SD Alam Anak Soleh adalah sekolah mandiri, apa adanya, belajar dari senin hingga sabtu dengan guru-guru yang sudah ditentukan oleh sekolah induk. Khusus sabtu atau minggu maka akan diisi dengan kegiatan belajar yang diisi oleh para relawan dari berbagai komunitas atau profesional.

Sekolah gratis ini tidak dapat menjanjikan bayaran kepada komunitas ataupun profesional yang bersedia mengisi kelas akhir pekan, kegiatan ini sepenuhnya bersifat swadaya non profit, pengadaan konsumsi dan peralatan kegiatan yang digunakan menjadi tanggung jawab para relawan yang mengandalkan sumbangan dari donatur ataupun kegiatan-kegiatan fundrising. [Video profil SD Alam Anak Soleh bisa dilihat di liputan IMS Net. TV KLIK di SINI].

Di Sekolah Dhuafa (PAUD & SD) ada Bang Agustian sebagai motor penggeraknya, di SMP/MTs Terbuka Samuderajaya ada Pak Adi sebagai pengurus hariannya. Dari keduanya saya banyak belajar berbagai macam, dari dua sumber yang tentunya memiliki perbedaan ini saya tetap bisa melihat kesamaan visi dan misi yang sama-sama berangkat dari keprihatinan dan menolak berpangku tangan dengan kondisi yang ada.

Saya kenal Pak Khair sebagai Kepala Sekolah SD/Paud Anak Soleh, beliau open minded dan selalu support kegiatan para relawan. Lain hal dengan SMPT/MTsT, saya tidak kenal Kepala Sekolahnya yang juga Kepala Sekolah Induk, saya hanya kenal Pak Adi yang dalam lingkup kecil bertugas semacam plt kepala sekolah dan humas.

Akankah ada SMA Terbuka? khususnya untuk menampung lulusan SMP Terbuka.... kita lihat saja nanti :)

Demikian yang saya pelajari mengenai kedua sekolah ini, relawan yang membantu kedua sekolah ini kemudian membuat komunitas Sekolah Raya yang lebih lanjut bisa dipelajari di web http://sekolahraya.net

Salam.


Reff: http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/berita/1697

Artikel ini memiliki 5 Komentar

  1. Terima kasih banyak tulisannya, Om. Sebelum ke Bekasi, berkunjung ke SMP Terbuka, di Pasar Minggu juga ada SD dan SMP Terbuka untuk kalangan anak-anak pemulung. Sayangnya Anaz belum pernah berkunjung ke sana, hanya singgah ke saungelmunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau lebih dekat kesana ayo Kanaz, semangat hehehe

      Hapus
  2. kalau dah seperti ini seharusnya gak ada lagi alasan untuk tidak ke sekolah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idealnya begitu bang, sayangnya ada juga dari mereka yang mengambil peran ayahnya menjadi kepala keluarga saat sang ayah sakit dll :)

      Hapus
  3. Apakah mungkin ya kalau sekolah terbuka berbadan hukum koperasi?

    BalasHapus