[kesan awal] Anak Bukan Kertas Kosong

John Locke (lahir 29 Agustus 1632 – meninggal 28 Oktober 1704 pada umur 72 tahun) adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Empirisme adalah sebuah aliran filsafat yang memberikan tekanan atau pengalaman (empiris) sebagai sumber pengetahuan [Susanto, 2011 : 37]. Istilah empiris berasal dari kata emperia (bahasa Yunani) yang berarti pengalaman inderawi. Empirisme merupakan antitesis dari filsafat rasionalisme yang sangat mementingkan rasio dalam mengembangkan pengetahuannya, tokoh rasionalisme yang terkenal adalah Descartes. [Wikipedia]

Salah satu pemikiran Locke yang paling berpengaruh di dalam sejarah filsafat adalah mengenai proses manusia mendapatkan pengetahuan yaitu teori Tabula Rasa.

Anak Bukan Kertas Kosong
Gambar dari: http://www.h23bc.com
Teori tabularasa [dalam Sardiman, 2003:97-98] kurang lebih menyatakan: Jiwa seseorang bagaikan kertas putih. Kertas putih ini kemudian akan mendapatkan coretan atau tulisan dari luar. Terserah kepada unsur dari luar yang akan menulis, mau ditulisi merah atau hijau, dlsb. [Referensi :Sardiman, A.M. 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. RajaGrafindo Persada]

Teori Tabula Rasa mengatakan bahwa manusia yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan sebagai kertas putih yang belum ditulisi (a sheet of white paper avoid of all characters)”. Sejak lahir manusia itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa. Manusia dibentuk oleh lingkungan sosialnya. Di sini kekuatan ada pada lingkungan. Lingkungan berkuasa atas pembentukan perilaku bahkan kepribadian manusia. Pembelajaran yang dialami oleh manusia didapatkan dari proses pengindraan dan pengolahan pemikiran (sensation and reflection).

Lebih jauh, ide tabula rasa sudah ada pada karya Aristoteles, De Anima atau tentang Jiwa. Aktualisasi intelektualitas itulah sebagai bentuk ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pengenalan pembiasaan empiris dengan objek di dunia ini, yang kemudian diolah menjadi konsep melalui metode silogistik pemikiran. Filsafat tabula rasa tidak memberikan ruang bagi paham yang berpendapat bahwa seseorang, dilahirkan dengan darah seniman, darah pengusaha, atau darah pekerja, atau darah-darah lain yang menggambarkan bahwa manusia sudah di takdirkan untuk menjalani profesi tertentu sejak lahir. Manusia dapat menjadi apa saja dengan pengkondisian dan pembelajaran / pelatihan sesuai dengan profesi atau keahlian yang ingin mereka dalami.

Jika Anda merasa kesulitan memahami rangkaian kalimat di atas, maka Anda bersama saya hehehe. Kita kembali ke kata Tabula Rasa yang berarti Kertas Putih atau Kertas Kosong inilah yang ditentang oleh Bukik dalam bukunya "Anak Bukan Kertas Kosong". 

Anak Bukan Kertas Kosong
Gambar dari: https://vsebayang.wordpress.com
Bukik? mungkin seorang filsuf dengan gelar Profesor pendidikan pada kehidupan sebelumnya, itu jika Anda percaya reinkarnasi. Tapi Bukik dengan bangga menjelaskan dirinya sebagai: Ayah, Blogger, Fasilitator, dan akhirnya penulis buku. Deretan peran yang menunjukkan peran aktif, keterlibatan dalam proses, bukan dari kalangan yang selalu bergelut dengan buku dan teori-teori sakti.

Saya bersyukur Bukik dengan buku Anak Bukan Kertas Kosong ini lebih menempatkan dirinya sebagai seorang ayah dst, seorang ayah yang gamang dan galau memikirkan masa depan anaknya, buku yang dia tulis ini juga bukan untuk menggurui, karena ia jelas paham bahwa para pembaca bukunya bukan pula kertas kosong. Buku ini mengajak saya untuk kembali mempertanyakan, sudah tepatkah cara saya mendidik anak saya? dan banyak kegelisahan lain yang diulas dengan cara pandang yang solid bahwa Anak Bukan Kertas Kosong.

Buku dengan total halaman 250+30 catatan-catatan ini bukan buku yang tebal, berdasarkan pengalaman, buku Anak Bukan Kertas Kosong ini hanya akan memakan waktu sehari dua hari akan selesai saya baca, pas untuk mengisi weekend.

Baiklah, untuk memahami sitematika buku ini, seperti biasa saya akan membaca daftar isi guna memetakan alurnya. Tapi buku ini tidak memiliki daftar isi, buku yang berisi 10 bab ini benar-benar menantang kreatifitas Anda. Posisikan saja buku ini sebagai "apa saja yang menurut Anda asik", karena  Bab 1 akan segera menyambut Anda dengan judul yang "nakal menggoda": Tantangan Zaman Kreatif.

Anak saya tergoda ikut membaca buku ini karena banyak ilustrasi dan gambar-gambar yang banyak didapati di buku anak, gaya bahasa dan pembahasan yang seakan mengajak kita berdiskusi membuat buku ini memancing banyak diskusi batin yang ujung-ujungnya kembali dibaca ulang dan sukses membuat saya gagal memenuhi target sehari dua hari selesai membacanya.

Demikian sedikit kesan kesan awal membaca buku "Anak Bukan Kertas Kosong", lain kali saya akan mencatat beberapa hal dari buku itu, tapi karena saya belum selesai membacanya, saya ingin mengenal buku ini lebih lengkap dahulu :)

Terimakasih Mas Bukik yang telah menuliskan kegamangan para ayah yang juga saya rasakan, buku ini banyak mengingatkan saya dalam berbagai hal. Semoga kehadiran buku ini tidak terlalu terlambat untuk me-review dan menguatkan cara keluarga kami mendidik anak-anak kami :)

Salam

Artikel ini memiliki 5 Komentar

  1. Keren bukunya, pengen baca juga, apalagi kata2 KH Dewantaranya dalam banget, kita hanya bisa merawat dan menuntun anak-anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. memperluas wawasan dan mereview paradigma yang kita terapkan dalam berinteraksi dengan anak-anak pada umumnya mas :)

      Hapus
  2. kayaknya bagus, apalagi sy kebetulan juga seorang ayah untuk anak yang masih umur 2 tahun,
    wajib masuk daftar belanja ini :)

    BalasHapus