Awal Dialog #Kopi

Black Gold, demikian istilah yang digumamkan para peracik kopi, kamu menyebutnya Barista... pelayan bar dari negara La Cosa Nostra.

Black Wine, demikian para "pencinta" menyebut minuman halal penguat zikirnya... kopi membuatnya dapat terjaga hingga fajar dalam cumbuan ghaib cinta vertikal.

Aku menyebutnya kopi saja, sebuah nama yang aku dan kamu pahami tanpa perlu bertele-tele memikirkan segala tentangnya, bukankah kita tak ingin sedetikpun terbuang?.

Awal Dialog #Kopi

Kamu pernah bilang:"menyendiri lebih baik ketimbang terjebak hingga muak pada keramaian yang sejatinya kosong", tatkala kita bosan mengenang. Pada saat itu kubisikkan keheningan, karena aku tak mau kesendirian yang sedang kamu nikmati terganggu kata-kata.

Apalah yang dapat kulantunkan saat kamu sedang asik menyelami kesendirian milikmu, karena sejatinya untuk berbagi dibutuhkan "rasa memiliki", bagaimana kamu akan berbagi jika kamu tidak memiliki?

Aku tak pandai menerjemahkan keheningan, pun bagimu tak ada yang perlu untuk diterjemahkan, kita terlalu keras kepala untuk menerjemahkan keheningan dan kesendirian, seakan-akan dengan menerjemahkannya kita menang, sudah berhasil memenjarakan hening dan sepi dalam kata.

Aku hanya ingin kamu mengerti, apa-apa yang sepertinya kita terjemahkan sejatinya adalah dialog, kata-kata kita sendiri yang mungkin hanya kita sendiri pula yang paham, terlalu intim dan dalam untuk dipahami oleh orang lain, bahkan oleh orang-orang yang kita sayangi.

Akupun kadang sering berfikir, apakah kita sedang bertransaksi? kata menjadi mata uang dari rasa yang kita "beli", namun pada saat berbeda kata dan rasa menjadi hampa, lalu apalah arti dari semua ini? Dan saat segala tanya terjawab, seakan tersadar telah terlalu banyak kata beredar, memicu devaluasi dan krisis makna... aku bankrut, kelu... bukankah ini lebih menyedihkan dari kesendirian yang katamu kosong?

Kamu tertawa... akupun tertawa... kita tertawa, bahagianya kala itu :)
Aku menertawakan diriku, mungkin demikian pula dengan kamu.
Adakah hiburan yang sesederhana dari menertawai diri sendiri?

Dan bodohnya kita, tanpa bosan bertengkar dengan kata, diam lalu tertawa, selalu saja begitu, tanpa sadar tahun berganti, sebagian memuji kita sebagai pasangan serasi.... sebagian aku lihat melakukan hal yang sama, tentu saja dalam konteks mereka sendiri.

Itu sedikit yang bisa kuambil saat menyelami kopi yang “sehangat cinta dan sepahit maut” demikian istilah dari Pak Heru Hikayat.

Salam, selamat menikmati kopimu :)

Klik untuk komentar