Kopi Kita

Suka black coffee atau coffee latte?
pertanyaan ringan yang memulai obrolan kami sore itu melalui chating Blackberry Messenger (BBM).
"Latte" jawabku.
"Aku suka black coffee, latte membuat lambungku perih" sanggahnya.
"Black coffee bikin gue sakit pinggang" sambungku.

Perbincangan dilanjutkan dengan membahas berbagai jenis kopi mulai Espresso, Americano yang menurutmu hanyalah kopi espresso ditambah air, masih menurutmu Caffe Latte adalah espresso yang ditambah susu dan buih susu, tidak berbeda dengan Cappucino karena buih susu itu menyerupai topi (cap) maka kopi itu dinamakan Cap-pucino  dan seterusnya. Heran saja setelah 20 tahun tidak bertemu pemahaman kamu tentang kopi jauh melebihi aku yang hanya tahu kopi hitam dan kopi susu :)

Apa hebatnya sih chating soal kopi?
Gak ada yang hebat, kecuali ini perbincangan pertama setelah sekian lama tidak berbincang, ini seperti menyambung kembali obrolan-obrolan kosong kami sekian tahun lalu, obrolan kosong yang kami nikmati dan kami masing-masing asik dalam pemaknaan sepihak dan tidak ada konsensus mengenai apa hasil dari bincang-bincang kami selain mengisi waktu dan mengubur kecanggungan anak belasan tahun yang pertama mengenal asmara.
"Ada kata yang dirahasiakan kopi dan tak bisa diungkapkan puisi" 
@agus_noor

Imaji akan mengembara kemana saja tanpa mengenal batasan logika, kopi hanya mengantar, menemani kembara imaji dan tiba-tiba saja kami bersama saling terbang dalam dunia makna, waktu dan jarak menguap, yang ada hanya kamu dan kamu, bertemu dalam dunia imaji masing-masing.

Kemana perginya kata? kami saling diam sibuk dalam derasnya rasa, jangankan kata, batas antara aku dan dia saja sudah hilang entah kemana. Entahlah kami ini apa, menyatu dalam keheningan sedemikian sempurna, keheningan yang tidak butuh apapun selain dirinya. 

Rasa, fenomena atau pengalaman seperti ini kawan, tidak akan pernah kami alami tanpa meninggalkan wadah "aku" diantara kami. Nikmati saja kopinya, lupakan wadahnya...

Dilain sisi, kopi adalah bahasa alam, simbol kesetaraan yang alergi pada situasi dan kondisi yang mematikan ruang-ruang perbedaan. Dalam segala perbedaan kopi menguapkan bentuk-bentuk luar formalitas dan mempertemukan simpul-simpul yang sama, lalu asik bercanda disitu, perbedaan sebesar apapun akan terasing dan terlupakan. Sejenak tenggelam melupakan kebuntuan yang beku karena perbedaan, larut berbincang hangat dalam topik-topik bergairah.

Kopi juga menjadi jalan keluar bagi keterasingan... 
Keterasingan.... jauh darimu.
Duduk di depan komputer dan mengetikkan kata demi kata yang mengalir begitu saja.
Tidak banyak yang dapat disampaikan, toh sebanyak apapun kata yang dapat mengalir makna keheningan tadi hanya dapat ditemukan dengan tingkat kesadaran yang harus melalui prosesi tertentu, minimal ada kopi, kenangan tentang kamu dan luruhnya keakuan diri ini.

Daripada semakin banyak kata yang mengalir entah kemana, aku tunggu bayangan kamu di ruang hayal imaji, mari menikmati kopi... bukan cangkir dan yang lainnya.



http://preloaders.net/preloaders/143/Coffee%20cup.gif

Artikel ini memiliki 6 Komentar

  1. Aduuuh, jadi teringat Filosofi Kopi nih mas Bisot :D Manis tulisannya :)
    Saya suka minum kopi, gak terlalu ambil pusing ama jenis-jenisnya. Yang penting enak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. :) selamat menikmati kopi dan mari bercerita tentang pengalaman di dunia imaji

      Hapus
  2. Balasan
    1. hahahaha kalo sekali-sekali gak apa-apa kok kak :p

      Hapus
  3. Halo Oom penyuka kopi...
    Benar2 kopi pun telah menjadi bagian hidup saya, sampai saya tulis di bio twitter saya, Kopi, Jazz dan Twitter adalah sebagian dari anugerah dalam hidup ini...

    Mari ngopi Oom... #TossKopi

    Salam,

    BalasHapus