RPMG 2014 dan harapan ke depan

7-8 Juni 2014, saya berkesempatan mengikuti kegiatan  RPMG2014 Restorasi Pesisir Muaragembong 2014. Dari sejak awal, saya sudah mulai mencari tahu, gerangan apa yang mendasari penamaan kegiatan ini dengan kata serapan RESTORASI.

Hasil dari perbincangan marathon dengan para penggagas aksi ini secara sotoy saya menyimpulkan sendiri bahwa kata RESTORASI bermakna gerakan yang mencakup 3 gerakan utama yaitu untuk memulihkan, mengembalikan, serta memajukan. 

Mendengar kata RESTORASI ingatan saya kembali ke istilah Restoras Meiji di Jepang, dimana kekuasaan para Shogun dikembalikan (dengan paksa atau suka rela) kepada Kaisar. Penjelasan singkat soal Restorasi Meiji bisa baca di SINI.


Semua berawal dari obrolan dini hari bersama Bang Agustian, Mas Anwar, Mbak Nana, Bang Komar Ibnu Mikam, Epoy dan Uci Yusuf di teras rumah saya Minggu dini hari 25/5/2014 sepulang menghadiri pentas seni warga di Pulo Timaha Babelan pembukaan acara nonton bareng pertandingan Final Liga Champions antara Real Madrid versus Atletico Madrid mengalirlah berbagai wacana dan rencana kegiatan yang semakin jelas konsep dan modelnya.


Ide untuk kegiatan, Camping, Jaming, Mangroving sudah mulai terdengar sejak awal bulan Mei untuk memperingati hari Lingkungan Hidup Dunia, Ide Kemping sudah diusulkan oleh Bang Ojek Sufi, Mas Anwar menjawab permintaan Bang Komar untuk turut serta menyiapkan relawan-relawan baru yang akan direkrut, Jaming ini ide iseng untuk mempertemukan musisi lokal dan sebagai hiburan, ide mangroving adalah ide belakangan sebagai bentuk aksi yang paling cepat untuk dilaksanakan.

Social Engineering muaragembong kabupaten bekasi

Saya sendiri lebih tertarik dengan ide Social Engineering (pembangunan desa) dari Bang Agustian dan Mas Anwar yang lebih menitikberatkan pada ideologi,  keterampilan menganalisa, maping, sensitifitas dll yang wajib dimiliki para relawan (softskill), Saya, Uci dan Bang Komar lebih menitikberatkan pada agenda kegiatan berupa aksi nyata yang mungkin lebih pragmatis namun lebih menggugah. Kombinasi ini tentunya akan melahirkan banyak kemungkinan-kemungkinan positif.

Lalu bagaimana dengan aksi restorasi yang mencakup memulihkan, mengembalikan, serta memajukan?.

Sulit menjawab pertanyaan di atas tanpa tahu, tanpa paham, tanpa memiliki potret yang lengkap, pemetaan (maping) yang tepat. Dari sharing malam hingga dini hari tanggal 7 - 8 Juni itulah banyak hal diungkap, menggali informasi segala macam unsur yang ada di analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).

Dari brainstroming, sharing dst diharapkan ada aksi-aksi lanjutan hasil inisiatif dari peserta, khususnya peserta lokal untuk berani dan tidak pesimis untuk memiliki harapan, mimpi, visi untuk muaragembong ke depan. Teman-teman siap membantu, hanya saja pemberdayaan itu harus inisiatif relawan lokal, sepanjang belum ada respon, kemungkinan agenda yang akan dilaksanakan adalah agenda-agenda yang umum dilakukan, mangroving, ekowisata mangrove dst.

Diharapkan dari selesainya acara RPMG akan terbentuk wadah komunikasi, sekelompok relawan lokal atau apapun yang akan menjadi motor penggerak, teman-teman relawan dari luar akan berupaya menjadi katalisator dan membantu sekuatnya. RPMG adalah sebuah inisiasi pemberdayaan berbasis warga, relawan lokal adalah motornya.

RPMG2014 dan harapan ke depan muaragembong
Foto: Urban Cikarang

Agendanya minggu depan teman-teman IALI Jakarta akan survey ke Muaragembong untuk menentukan pemberdayaan apa yang dapat dilakukan bersama-sama dengan warga dan relawan-relawan lokal yang baru terbentuk itu. Sebuah program jangka panjang yang memerlukan keseriusan dan komitmen, bentuknya? belum tahu, mudah-mudahan hasil survey akan memberi ilham :)
_____________________
Tulisan terkait:

Klik untuk komentar