Sedikit catatan tentang KOASI - Kongko Anak Bekasi




KOASI a.k.a Kongkow Anak Bekasi, kongkow jika diterjemahkan secara bebas berarti ngobrol, berbincang-bincang, komunikasi 2 arah dan seterusnya.

Saya sendiri sudah 2 kali berkesempatan mengikuti acara yang digagas oleh Ikatan Alumni SMAN 1 Bekasi ini.

Koasi pertama mengambil tema tentang Air Tanah, Tanah Air Jumat, 14/3 mengingat Bekasi belum lama terkena musibah banjir.

Tema Koasi kedua mengambil tema Vox Populi Vox Dei 18/4 karena tanggal 9 lalu Indonesia baru saja melakukan pemilihan legislatif.

Bertempat dipelataran ruko beralamat Jalan Mayor Hasibuan 12D suasana malam yang sesekali diisi suara raungan knalpot racing pengendara motor alay berbagai komunitas di Bekasi duduk beralaskan terpal. Sebut saja Kang Ending yang menyanyikan lagu tentang banjir pada Koasi pertama, lalu pada Koasi kedua Komunitas Pencinta Iwan Fals atau OI yang dengan senang menghibur peserta Koasi malam itu dengan lagu-lagu Iwan Fals, peragaan silat dari Gerakan Moral Silat Bekasi.

Jeals dari segi kuantitas saya melihat adanya kenaikan jumlah peserta Koasi. Sejak awal acara hand out atau semacam abstrak materi sudah disebarkan tanda kesiapan panitia, walaupun kadang diskusi mengembang kemana-mana :)

Dari dua kali Koasi ini selalu ditutup semacam rangkuman dari Bu Decy C Hasan yang sudah 2 kali saya saksikan mampu merangkum dan mengambil benang merah yang cukup baik, walaupun resikonya beliau harus terus hadir hingga acara selesai.

Saya melihat acara ini sebenarnya momen informal yang sangat baik untuk semua komunitas Bekasi untuk memperkenalkan dirinya, memperluas wawasan dan jaringan komunikasi dengan komunitas lainnya. Pada Koasi pertama ada Komunitas Earth Hour Bekasi yang memperkenalkan diri sekaligus menginformasikan agenda Switch Off yaitu mematikan lampu selama 1 jam pada 29 Maret 2014 yang berpusat di Bekasi Square yang segera saja mendapat sambutan dari semua komunitas yang hadir saat itu.

Sayang sekali materi yang bagus-bagus kadang hilang karena faktor teknis pengeras suara, kadang moderator juga sulit mengendalikan jalannya acara karena kendala pengeras suara yang tidak berfungsi dengan baik. Dilain hal saya sendiri mengharapkan notulensi yang baik untuk mendokumentasikan ide-ide yang spontan muncul dari peserta Koasi, entah bagaimana caranya mungkin suatu saat akan menjadi dokumentasi yang berharga untuk digali kembali. Itu saja masukan kecil dari saya yang gak tau diri, sudah dapet makan gratis, minum kopi gratis, sekuteng gratis, ilmu gratis masih aja kritik panitia :)


Ok lah, bagaimanapun keadaannya, saya gak sabar menanti Koasi 3 :)

Semangat!

Sedikit catatan tentang KOASI

Klik untuk komentar