for you




Salam
Semoga keselamatan dan kesejahteraan senantiasa tercurah padamu, keluarga dan kita semua.

Telah lama kita tidak bertukar cerita, membahas berbagai masalah hingga malam berakhir.
Bagaimana kabarmu kini, adakah dengan berlalunya hari, semakin banyak cerita yang dapat mengisi waktu saat kita bertemu kembali nanti?

Ah, aku masih selalu ingat pertanyaan manismu yang sempat membuatku kehabisan kata menjelaskannya padamu. Itulah awal perkenalan kita, itulah awal dari berbagai macam dialog yang mengisi kenangan kita bersama.

Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan pendek yang telah kau ajukan pada suratmu terakhir.
"Mengapa aku selalu mendoakanmu dalam Bahasa Indonesia dan apakah aku sholat juga menggunakan Bahasa Indonesia?."

Baiklah sahabat, pertanyaan pendekmu ini bukan sebuah pertanyaan sederhana dan jika kita membahasnya dengan bertatap muka langsung, mungkin akan membuat kita tak tertidur lagi hingga fajar.

Sahabatku, semua surat yang aku tulis kepadamu adalah surat yang bersifat pribadi, mungkin hanya aku, kamu dan Allah yang mengetahui surat ini. Semua doa dalam surat-suratku, aku ucapkan dalam Bahasa Indonesia karena jelas antara aku dan kamu dapat memahami maksudnya dengan baik, dan Allah maha mengetahui dan semoga mengabulkan semua doaku. (Dalam hati aku menutup doa ini dengan berkata "amin").

Sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Sempurna, sehingga hakihat doa dan ibadah kita akan berpulang manfaatnya kepada kita, atau dengan kata lain, kitalah yang membutuhkan doa dan ibadah kepada-Nya. Dengan keyakinan seperti ini aku mengucapkan doa dengan Bahasa Indonesia agar lebih bersifat pribadi karena lahir dari hatiku. Aku selalu menggunakan Bahasa Indonesia dalam hati dan pikiranku saat berdoa secara pribadi kepada-Nya.
aku selalu mendoakanmu dalam Bahasa Indonesia



Lain hal jika dalam pergaulan sehari-hari, dimana kita berhubungan dengan pribadi lain sehingga kita membutuhkan sebuah kode etik atau seperangkat aturan sosial yang dimengerti dan dipahami bersama. Sukurlah, karena kode etik dan aturan itu telah terangkum dalam syariat, sehingga memiliki pula nilai ibadah kepada-Nya.

Sholat yang telah diatur sedemikian rupa dalam syariat, sesungguhnya adalah demi kebaikan dan kemudahan kita untuk beribadah kepada-Nya. Dalam sholat, sekalipun aku sholat sendirian, aku menggunakan Bahasa Arab sebagaimana juga dilakukan oleh seluruh Umat Islam dibelahan dunia manapun mereka berada. Apakah saat kau sholat sendiri menggunakan Bahasa Indonesia sahabatku?

Doaku kepadamu adalah sebuah doa yang berskala "person to person", namun pada saat kita sholat, walaupun dilakukan sendiri di kamar pada saat tengah malam tanpa ada seorangpun yang mengetahui, kita wajib untuk tetap menggunakan Bahasa Arab sebagaimana dicontohkan oleh Nabi, karena sholat bukan saja merupakan doa yang berskala universal, namun juga sebuah ibadah yang memiliki pesan sosial.

Sebagai seorang pribadi yang telah diberi karunia berupa kesempatan untuk mengunjungi negara lain, tidakkah kau merasakan bagaimana pesan sosial sholat?
Kau pernah ke Pakistan, sebuah negara yang juga mayoritas berpenduduk Muslim, pernahkah kau coba sholat berjamaah saat berada di sana?

Bayangkan jika Muslim di sana sholat dengan menggunakan Bahasa Pakistan, tidakkah kau merasa kesulitan untuk mengikuti sholat berjamaah dengan saudara kita tersebut?
Atau bagaimana jika saudara kita yang datang dari berbagai belahan dunia berkumpul bersama dalam kesempatan ibadah haji, kemudian melakukan sholat berjamaah, siapakah yang akan menjadi imam mereka?, dari negara mana dan bahasa apa yang akan sang imam gunakan?.

Bagaimana jika sholat yang akan dipimpin sang Imam adalah Sholat Subuh, Maghrib atau Isya yang ketiganya merupakan sholat yang bacaannya harus diperjelas dan diperkeras untuk menjaga makmum tetap khusuk?, karena saat-saat tersebut adalah saat-saat menjelang atau sesudah istirahat bagi kebanyakan orang.
Menggunakan Bahasa Arab saat melaksanakan sholat tidak lantas membuat Agama Islam hanya menjadi milik orang arab. Pada tataran praktis aku lebih melihatnya sebagai alat pemersatu untuk seluruh umat Islam di dunia. Bukankah menggunakan Bahasa Inggris di forum internasional seperti PBB adalah untuk tujuan yang sama? adakah anggota PBB yang mengatakan bahwa PBB hanya milik orang Inggris karena menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama? (CMIIW).

Oh yah, salah satu hikmah dari diperjelasnya bacaan surah pada Sholat Subuh, Maghrib atau Isya adalah dapat terpeliharanya Al-Quran dalam ingatan, karena saat itulah hafalan Al-Quran seorang Imam mendapat ujian yang sesungguhnya, jika ada kesalahan hafalan maka adalah tugas makmum untuk mengoreksi hafalan sang imam. Ini berlaku universal, tak peduli sang imam atau makmum berkebangsaan atau warga negara manapun. Sedangkan bagi makmum dapat menyegarkan kembali ingatan mereka akan surah-surah Al-Quran yang mungkin tidak dipahami maknanya namun dihafalnya diluar kepala, sungguh salah satu mukjizat Al-Quran yang disepelekan oleh sebagian dari umat Islam.

Semua merupakan kesatuan yang saling berhubungan satu sama lain, dan kamu mungkin dapat membayangkan apa akibatnya jika saja aku mendirikan sholat dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Yah, selain aku mempersulit diriku sendiri aku juga telah keluar dari sistem yang sudah didesign sedemikian sempurnanya oleh Allah demi kemudahan manusia memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya, dalam hal ini adalah beribadah kepada-Nya. Apakah kamu pikir aku lebih pintar dan lebih mengetahui dari Allah? Maha Suci Allah karena aku hanyalah seorang hamba-Nya.

Apakah aku mengerti bahasa arab? Aku jawab tidak, aku tidak mengerti sepatah katapun dari televisi berbahasa arab seperti Al Jazirah atau lainnya, namun entah bagaimana aku mengerti jika kau baca surah Al Fatihah misalnya, aku mengerti dan paham maknanya, dan atas ijin Allah aku dapat mengembangkannya menjadi sebuah kajian berbahasa Indonesia mengenai Surah Al Fatihah tanpa menggunakan kamus Bahasa Arab. Bagaimana kau menjelaskan fenomena ini saudaraku? Tidakkah kau mengalami fenomena yang sama?, atau jika ini bukan fenomena, bagaimana kau menjelaskan pengalaman ini?.

Itulah pertanyaan yang kuingin agar kau jawab saat membalas suratku ini. Semoga jawabanmu nantinya dapat memberi pencerahan kepadaku mengenai masalah tersebut.

Hanya itu yang dapat kutuliskan kepadamu saat ini, mohon maaf atas kesalahan yang pasti ada dari pendapat pribadiku ini. Sudilah kiranya mengoreksi saudaramu yang bodoh ini, dan untuk itu, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan kasih sayangnya kepadamu dan kepada kita semua.

Selamat malam sahabat.
Jika umur panjang menjadi nikmat yang di anugrahkan-Nya kepada kita, tentu kita akan bertemu lagi.
Semoga Allah memberikan kesabaran kepadaku untuk menunggu suratmu.

Salam



Inspired from "Help Me, God" Monday, October 1st, 2007.
I respect the author, so I dont want to mention the name and where to find that article.
Some how, some people feel honoured to be unknown or some way.

Klik untuk komentar