sudah waktunya?

Jumat, 18 Juli 2008 @ 18:28 WIB

“memang sudah waktunya”

Yah sudah waktunya menyadari bahwa rumah tangga bukan sebuah arena menang-menangan, sebuah medan laga yang sepenuhnya bisa didesign dengan 1 kepala, sebuah wadah untuk eksploitasi demi kepentingan pribadi, entah itu memakai nama perkembangan pribadi atau term egosentris lainnya.

banyak orang termasuk saya, sebelum benar-benar memasukinya, memandang rumah tangga adalah sebuah ikatan yang mengandung hak untuk menguasai pasangan kita seutuhnya, 1x24 jam. Sebuah godaan yang cukup menggiurkan, mengingat betapa indahnya waktu-waktu bersama kekasih yang walapun hanya sebentar. wow bukankah fantastis jika keindahan itu kita miliki selamanya?

seiring waktu, evolusi pikiran membawa saya pada kekecewaan yang tidak ada habisnya. Kekecewaan akan absurdnya hidup, apalah lagi sebuah pernikahan, saya merasakan kesia-siaan yang menarik saya dalam keputus-asaan tiada berakhir.

sedikit demi sedikit kegelapan disinari, cahaya ini awalnya berupa sebercik sinar yang dapat saya abaikan, namun keputus asaan jua lah yang membuat saya dekat dengan cahaya itu.

Manusia memiliki misi, diciptakan bukan dari kekosongan dan bukan tanpa tujuan. Tujuan prinsipil penciptaan manusia bukan kebenaran semu yang relatif tergantung evolusi, tapi prinsipil. Kebenaran itu sebuah mercusuar, kita dapat memilih untuk mengabaikannya dan tersesat dilautan kegelapan, atau juga menabrakan sampan kecil kita kemercu suar itu, toh yang hancur dan tenggelam adalah sampan kita, bukan mercusuar itu. Cepat atau lambat, kita akan menyadarinya, suka atau tidak suka, begitulah adanya. Terserah pada diri kita untuk belajar menerimanya, atau membencinya.

Seorang teman bertanya pada saya, "apakah saya pernah "menyukai" orang selain istri saya setelah saya menikah?"
Tentu saja saya pernah menyukai bahkan mencintai orang lain setelah saya menikah, saya sepenuhnya tidak dapat mengontrol hati saya mengenai masalah ini, karena saya percaya, cinta adalah rahasia sang pencipta "hati", sang pencipta "rasa". Saya tidak punya kuasa dan kontrol akan apa yang akan datang kepada saya. Namun saya memiliki kontrol penuh atas respon yang akan saya pilih dan akan saya ambil. Drama kehidupan saya tidak menarik dan tidak seheboh telenovela dan drama-drama aneh yang mengeksploitasi hubungan keluarga dengan segala macam intrik hasil imajinasi sutradara.

Setiap manusia, setiap pasangan keluarga memiliki caranya amsing-masing untuk menyelesaiakan masalahnya. Cara yang satu dengan yang lainnya tidaklah selalu sama, karena setiap pribadi adalah unik, namun sepanjang kita tahu dan paham bahwa keluarga adalah amanah, sebuah titipan yang dapat berwujud "petaka" atau "berkah", maka segala masalah dapat mencair dan selesai dengan tetap berusaha menjaga agar "titipan" berbentuk keluarga itu tidak menjadi "petaka".

Orang yang tidak pernah tahu kemana tujuannya tentu saja tidak akan pernah merasa tersesat jalan. Apapun kendaraan yang ia gunakan, senyaman atau secepat apapun kendaraan yang ia gunakan. Hal yang aneh jika tujuan kita naik kendaraan adalah untuk menikmati kendaraan tersebut, berputar-putar hingga habis waktu tanpa ada tujuan yang pasti. Begitu pula hidup, begitu pula berkeluarga.

yah memang sudah waktunya kita kembali
kembali ke awal
tanpa bisa menarik kembali waktu yang telah kita lewatkan
semoga waktu yang telah terlewatkan memberi bekal
untuk kembali memulai
kembali
ke hati

sebuah renungan setelah membaca tulisan ini.

Artikel ini memiliki 2 Komentar

  1. Purpleeeeeeeeeee

    hehehe
    ini om bisot versi seriosa nya yakkk :p

    BalasHapus