I vote

Jika kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai, apakah kamu rela mempunyai anak dengannya tanpa rasa cinta

Senin, 4 Agustus 2008


Jika kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai, apakah kamu rela mempunyai anak dengannya tanpa rasa cinta?

Itu polling yang saya baca di blog bubu_chan
Pilihannya hanya 2, ya atau tidak. Saya tidak sedang berbicara mana pilihan yang benar atau salah. Namanya saja pilihan, kita bebas memilih mana yang paling sesuai dengan kita. Kalaupun ada kesalahan di sana, toh kesalahan adalah guru yang paling baik dalam proses pembelajaran.

Jika kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai, apakah kamu rela mempunyai anak dengannya tanpa rasa cinta?

Ada tiga hal pokok dalam pertanyaan itu. Masalah pernikahan, cinta dan masalah menjadi orang tua (saya tidak memilih kata "mempunyai anak" karena anak bukanlah sesuatu yang padanya melekat hak kepunyaan atau hak milik).

Menikah, terlepas itu dengan orang yang kita cintai atau tidak, adalah sebuah perikatan antara dua manusia. Menikah adalah membentuk sebuah keluarga, sebuah komponen terkecil tapi terpenting dalam masyarakat bahkan negara. Oleh karenanya negara bahkan agama mengatur bagaimana sebuah pernikahan sah atau tidak. Jika menikah bukan urusan penting, negara atau agama tidaklah merasa perlu mengatur hal ini. Sepakat? :)

Cinta. Ah, topik ini adalah topik yang paling enggan saya bahas. Semakin banyak kata untuk mengungkapkan makna cinta, akan semakin jauh dengan pemahaman dan penghayatan saya sendiri mengenai cinta, yah seperti seekor ikan yang mencoba menjelaskan tentang air, adakah cara yang mudah untuk menjelaskan topik ini?.

Sebuah kutipan dari Sayap-sayap patah, Gibran:
"Cinta yang sempit ingin memiliki apa yang dicintainya, cinta yang tak terbatas hanya menginginkan cinta itu sendiri. Cinta yang datang diladang kenaifan (kebodohan) pada jiwa muda, memuaskan diri dengan memiliki, dan tumbuh dalam pelukan-pelukan. Tapi cinta yang dilahirkan dalam pangkuan cakrawala dan diturunkan bersama segala rahasia alam tidak pernah puas dengan apapun selain kebenaran dan keabadian, karena cinta itu tidak pernah tunduk dan hormat kecuali kepada Sang Penciptanya; Tuhan".

Menjadi orang tua.
Seorang anak adalah manusia utuh yang memiliki jalannya sendiri. Seperti kata Gibran (lagi), kita dapat memberikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya. Karena jiwanya adalah milik masa depan, sebuah masa yang kita mungkin tidak akan alami. 

Menjadi orang tua, dengan seorang atau beberapa orang anak yang menjadi tanggung jawab adalah sebuah kemewahan yang menjadi impian beberapa keluarga tanpa anak.
Pernahkan kita bertemu dengan sepasang suami-istri, yang telah membina rumah tangga puluhan tahun, namun tidak dikaruniai anak?
Mereka mungkin saling mencintai, namun menjadi orang tua sungguh bukan perkara rela atau tidak rela. Kehadiran anak dalam sebuah keluarga bukan sebagai pelengkap rumah tangga itu sendiri, walau tanpanya keluarga akan serasa tidak lengkap. Anak adalah subyek ketiga dalam sebuah keluarga. Banyak orang tua yang tidak siap menghadapi fenomena ini memutuskan untuk tidak memiliki anak pada awal mereka menikah, dengan kontrasepsi dlsb.

Akhirnya pada polling tersebut saya memilih "YA".

Karena menurut hemat saya, justru pernikahan dengan orang yang tidak dicintai itulah yang masih bisa diperdebatkan. Walau saya tahu tidak semua pernikahan berdasarkan pertimbangan cinta atau tidak. Karena banyak pasangan menikah dan bertahan hingga sekarang bukan berdasarkan cinta. Yah, walaupun saya tidak tahu mana yang lebih banyak bercerai, pasangan yang menikah dengan dasar cinta atau dasar lainnya, belum ada penelitian mengenai ini, Namun kenyataan bahwa pasangan yang awalnya saling mencintaipun pada akhirnya akan bercerai, apapun alasannya.

PiIlihan-pilihan itu terlalu mewah, banyak orang yang tidak memiliki kesempatan untuk memilih.
Dan semoga kita sadar, setiap pilihan memiliki konsekuensinya

be well

Klik untuk komentar