Dumelan Senin siang





Orang Menggigit Anjing

Ini adalah adagium kuno dalam sejarah jurnalistik. Anjing menggigit orang bukanlah berita, tetapi kalau orang menggigit anjing - AHA, ini baru berita!. Maknanya sederhana saja, semua orang tahu bahwa anjing biasa mengigit orang, jika sekarangpun terjadi apa yang aneh dari hal itu, tidak membuat orang tertarik. Tapi jika terjadi suatu yang istimewa atau ironis orang pasti ingin tahu.

Adagium dan pola pikir seperti ini menggiring media pada sebuah bias; bias terhadap sesuatu yang tidak biasa dan aneh. Itu wajar; kebanyakan orang ingin mendengar sesuatu yang aneh dan istimewa. Tetapi jarang atau bahkan tidak pernah mau memberitakan fakta yang wajar, yang setiap hari terjadi, yang biasa dan lazim, media yang mempunyai kekuatan untuk memperkuat gaung berita, akan menciptakan sebuah dunia lain, akan menyajikan citra atau gambaran dunia yang tidak akurat. Kita menonton televisi, menyaksikan tindak kejahatan, bencana dan prestasi, dan membentuk sebuah dunia yang hampir tidak berkaitan dengan pengalaman hidup kita sehari-hari.

Yang menjadi masalah adalah, hidup dengan gambaran dunia yang tidak akurat akan menyesatkan kita.

Gagasan di balik ide "kebebasan berbicara" yang diusung dalam konsep tambal sulam bernama demokrasi adalah bahwa jika semua ide diberi kesempatan yang sama untuk bersaing dalam semacam pasar bebas gagasan, maka kebenaran akan muncul sebagai pemenang. Sialnya, hal ini tidak terjadi.


Anda tentu berfikir bahwa berita yang berat sebelah pasti akan terkoreksi dengan sendirinya mengingat ada banyak wartawan di negeri ini, dan masing-masing punya sudut pandang sendiri. Benarkah begitu?

Pertama harus di akui bahwa setiap reporter yang berhasil adalah mereka yang bisa menggali berita yang "tidak biasa". Mengapa? Karena tidak seorangpun mau membaca berita yang hanya memberitakan "setiap hari segalanya berjalan dengan baik". Orang akan mengabaikannya, koran tidak laku dan bangkrut, matilah sang wartawan.
Suatu media paling tidak harus menilai dan menentukan apa yang penting dan dapat disebut "berita", dan penilaian itu sudah merupakan bias yang kesekian kalinya sebelum berita itu anda telan. Bukankah itu tugas dewan redaksi?.

Pihak media telah berupaya menyingkirkan bias ini dengan menyediakan kolom bertajuk opini, kolom pendapat dan sejenisnya, guna membedakan mana artikel yang merupakan pendapat pribadi (subyektif) dan mana berita yang ditulis dengan tingkat obyektifitas tertentu yang sama sekali tidak berkaitan dengan latar belakang kehidupan pribadi sang wartawan. Apakah itu berhasil? Bacalah kolom-kolom itu, karena justru kolom opini dan sejenisnya itulah yang kerap membuka dengan jelas subyektifitas sang wartawan dengan mengumbar berbagai pandangan-pandangan dan gagasan-gagasan yang melatar belakangi tulisan reportase mereka yang katanya sih obyektif.

Mau lebih jelas lagi? Bacalah koran-koran yang menegaskan "Tajuk rencana" mereka, karena itulah visi dari semua berita yang akan anda dapat dalam media tersebut. Tidak mungkin anda dapat membaca berita yang tidak sesuai dengan visi (tajuk rencana), karena berita mengemban misi itu, berita yang tidak sesuai dengan visi dan tidak membawa misi itu sudah mengisi tempat sampah dewan redaksi. Ingatlah kebenaran silahkan mengantri dibelakang, keberlangsungan hidup media harus lebih diutamakan.

Blogger
Saya sangat menghormati segala macam jenis blogger, mereka tidak sok obyektif, malah menonjolkan subyektifitas masing-masing, segala pendapat pribadinya dituangkan dengan mengandalkan kepercayaan akan terjaminnya hak seorang warga negara untuk bebas mengungkapkan pendapat yang bertanggungjawab. Yak, blogger tidak memiliki undang-undang blog, apakah undang-undang pers mencakup para blogger? saya kira tidak, undang-undang pers diciptakan untuk menjamin keberlangsungan hidup dan usahanya, mereka ingin agar undang-undang pers itulah satu-satunya yang diterapkan jika mereka berhadapan dengan hukum.
Begitukah yang terjadi di dunia blogger??? Blogger akan berhadapan dengan segudang pasal yang mungkin saja salah satunya dari undang-undang pers.

Blog adalah media alternatif?
Kenapa para blogger tidak membalik paradigma sesat ini?
Para blogger membuat tulisan subyektif, mereka mengalami, mereka merasakan, apa yang lebih otentik dari cerita yang ia alami sendiri? Apakah kita akan menunggu cerita itu ditulis ulang oleh seorang reporter yang dikejar deadline dan menyusun berita dengan kewajiban menyamakan visi para dewan redaksi? Jika ya, saya pastikan anda akan mendapat cerita yang jauh lebih menarik dari pada apa yang anda dapat dari sang blogger. Karena anda tertarik maka anda akan senang membacanya, menyerap segala opini dan pandangan titipan dari media. Saat anda kembali membaca berita yang sama dari sang blogger. Anda akan heran, karena kesan yang berbeda akan anda dapatkan, anda bahkan mungkin akan mencemooh sang blogger, padahal dialah sumber berita itu.
Siapa yang aneh? Sang blogger, Insan Media atau anda?

Ratusan bahkan ribuan blog lahir setiap harinya dengan kontent yang beragam, salahkan diri anda sendiri jika hanya membaca blog dengan kontent yang hanya membuang waktu dan memperbodoh anda. Berbagai tugas saya selesaikan dengan lebih baik karena informasi dari berbagai blog, saya mengembangkan minat dan ketrampilan saya dalam berbagai bidang juga dengan referensi dan tutorial dari blog.

Sudah lama saya memutuskan untuk tidak menyentuh televisi kecuali dalam hal-hal tertentu, saya mengandaikan, jika media seperti koran sudah pula dapat dibeli per-artikel, sehingga pastinya saya hanya akan membeli artikel yang saya ingin baca, tidak seperti saat ini, membeli keseluruhan koran itu, dan hanya mendapat manfaat dari sebagian kecil artikel, dan saya benci mendapatkan koran yang ada satu halaman penuh berisi iklan. Saya menggunakan uang saya untuk membeli sesuatu yang saya butuhkan, bukan deretan iklan tidak jelas dan artikel-artikel sampah.Jika saya membutuhkan iklan, saya akan mencarinya sendiri, dan jikapun harus membeli, saya kan membeli deretan iklan itu.


Sekian dumelan senin siang
Dumelan ini ditulis minggu malam, Saat gw nemenin anak gw nonton televisi yang bener-bener makin tidak jelas tayangannya.

Klik untuk komentar