ya gitu degh

"Upiiiiiilllllll banguuuunnnn" teriak gue dikuping manusia kamar yang tergolek pasrah dikamar kostnya.
Gelagepan si Upil bangun
"Uahhhh nopo sooot, sampeyan gendeng opo?" sambil mencari kacamata pantat botolnya.
"Kunci motorlo sama STNK-nya mana Pil?" sambut gue sambil memeriksa seisi kamarnya.
"Tuh dalem laci rak CD, STNK dalem dompet, tuh dicelana panjang yang di atas tipi" jawab Upil tanpa perlawanan.
"Eh, lo mau ngapain Sot, pagi-pagi nanyain kunci motor sama STNK-nya segala" sambil berdiri membenahi sarungnya.
"Gue mau kerumah Ki Somad, mau ikut loh?" jawab gue sambil ngacak-acak isi dompetnya si Upil.
"Terus apa hubungannya sama kunci motor dan STNK gue???".
"Yah gue mau pinjem montor elo sayaaaangggg" sambil mencium kunci motornya didepan muka si Upil.

Dah pokoknya gue pagi itu make Rat Bike nya si Upil yang aslinya adalah Honda GL 100 dibikin jadi kayak BSA warna item buluk dan dekil kayak gak pernah dicuci. Yah si Upil sih sempat protes karena nanti siang dia mau jalan-jalan menikmati weekend sama si Teki yang tercinta. Tapi gue dagh bilang ke dia
"Dah Pil, kali ini jangan elo jemur si Teki, gak sayang luh punya pacar cakep mulus gitu dijemur di atas motor, emangnya ikan asin apah??? nah mending sekali ini lo naek taksi aja yah pil, biar gak bau keringet yah!!!, dah ah gue mau cabut, bubbye Upil".

Minggu pagi emang enak buat santai di atas motor, banyak cewek pada lari pagi, jalan-jalan santai dan tentu aja mejeng, gue sih menikmati suasana aja dari atas motornya si Upil yang bergaya HD Softtail mirip di pilem Renegadenya Lorenzo Lamas, tapi motornya Upil ini Softtail yang di bonsai wkkkkk.

Sesampai di rumah Ki Somad gue langsung sungkem dan mesen air jahe, yah anggep aja warteg gratis, mumpung ditawarin sama Nyi Somad.

"Tumben sendiri, mana si Buset?" Kata Ki Somad membuka perbincangan.
"Saya gak ajak Ki, karena dia terlibat dengan masalah yang ingin saya konsultasikan ke Aki"
"Hmmmm itu sebenarnya hanya salah paham saja Sot" Lanjut Ki Somad.

Tuh, blogger, Ki Somad mah emang gak perlu diceritain masalahnya, dia juga nanya si buset pasti hanya basa-basi, dia khan sakti, dagh gak perlu diceritain apa-apa, dia dah tahu semua masalah begitu kita duduk didepan dia, kalo blogger gak percaya tanya aja murid illegalnya Ki Somad, iya si Ochep, yang cuma mau belajar ilmu pelet doang sama Ki Somad, yah chepot yah...

"Jadi gimana Ki, mohon arahannya Ki"
"Hmmmm..." Ki Somad meneguk air jahe
"Coba kamu jelaskan tentang pohon kelapa itu kepada Saya" kata Ki Somad sambil menunjuk pohon kelapa yang ada di samping rumahnya itu.
"eeeee tinggi, batangnya keras, buahnya sedikit Ki" jawab gue
"Hanya itu saja, coba kamu lihat lagi"
"eee daunnya jarang, buahnya kalo yang muda enak buat es kelapa muda, buahnya yang itu kayaknya sudah tua Ki, eee apa lagiyah Ki?"

"Hmmm cukup, apa kamu tidak sadar, kamu sebenarnya sedang menceritakan dirimu sendiri, bukan pohon kelapa itu"
"Hah, maksud Aki gimana?"
"Kamu katakan bahwa pohon itu tinggi, sebenarnya yang kamu sampaikan adalah bahwa pohon itu lebih tinggi dari kamu, kemudian batangnya lebih keras dari daging kamu dan seterusnya"
"eeee gak ngerti ah Ki" Gue makin bingung jadinya

"Masalah yang sedang kamu hadapi itu adalah sebuah konsep yang kamu bangun mengenai sebuah fakta yang sedang kamu hadapi, padahal fakta itu belum tentu masalah dan persepsi kamu tentang fakta itu belum tentu benar"
"Tapi Ki, saya di fitnah Ki, itu menyakiti hati saya, terlebih fitnah itu disampaikan ke buset ahhh kesal sekali rasanya"
"Fitnah?, Hmmmm teman kamu itu sebenarnya memiliki sifat agak tertutup, sehingga walau kamu telah lama kenal dengan dia, kamu tidak mengenal dia secara lebih dalam, kamu hanya mengenal kulitnya"
"eee iya sih, memang gitu Ki, secara saya kan gak mungkin juga mengenal akrab semua rekan yang saya kenal Ki"
"Jika saja dia berani menanyakan langsung kepada kamu, tentu kamu tidak akan tersinggung seperti ini, dan apa yang menjadi opini dia itu sebenarnya karena keterbatasan informasi yang ada padanya, sayang dia tidak menanyakan langsung kepada kamu yah"
"Nah itu dia Ki yang bikin saya kesal, dia kan sudah kenal cukup lama dengan saya, kok gak mau nanya langsung kesaya saja, apa susahnya sih nanya, huh sebel"
"Kebetulan dia lebih akrab dengan buset, dan sebenarnya yang dia sampaikan kepada buset bukan sebuah tuduhan, tapi sebuah kesimpulan yang ditarik berdasarkan informasi yang terbatas, sebuah wacana yang terputus ditengah jalan, itu kembali kepada sifat dasarnya yang agak tertutup dan tidak asertif seperti kamu, dia cenderung untuk menghindari konflik fertikal, dia seorang yang biasa menyelesaikan masalahnya sendiri, bekerja sendiri dan penyendiri"
"Loh Ki, itu sih masalah dia Ki, yang jadi persoalankan dia memfitnah saya Ki"
"Kamu rupanya masih emosi, tidak biasanya seperti ini"
"Iya Ki, saya kesal banget sama dia, dah gitu kayak gak ada dosa aja dia lewat-lewat depan saya, seperti tidak ada apa-apa, sungguh pandai benar dia bersandiwara"
"Dia tidak bersandiwara, dan dia juga tidak tahu kamu sedang menganggap dia bersalah, tapi dia sadar kamu sedang marah kepadanya, dan menurut dia kamu itu seperti anak kecil yang tidak jelas marah karena apa"
"Ah Aki, sudah jelas dia memfitnah saya, buset saksinya" kesal juga mendengar Ki Somad seakan membela si pemfitnah itu
"Dia tidak menganggap apa yang dia katakan kepada Buset sebagai fitnah, benar dia bersalah, karena terlalu cepat mengambil kesimpulan dari informasi yang terbatas, namun kesimpulan dia itu sebenarnya dapat dijelaskan dan dia akan mengakui itu sebagai kesalahannya, tapi soal fitnah, dia tidak tahu jika kesalahannya itu kamu anggap sebagai fitnah".
"Ah Aki tidak memberi saya solusi" jawab gue lemah putus asa
"Aki tahu kamu keras kepala, namun Aki sarankan kamu bicara langsung dengannya...."
"Ghossss, You've gotta be kidding me Ki, dia yang salah kok saya yang harus menyelesaikannya, bicara ke dia lagi, melihat mukanya saja emosi saya sudah naik, apalagi harus bicara dengan dia, hufff" potong gue dengan senyum sinis
"Kamu berharap dia yang akan bicara padamu?, Hmmm itu rahasia Ilahi, namun dari apa yang saya lihat, dia tidak akan pernah menemui kamu untuk membicarakan masalah ini, dia yakin bahwa masalah ini akan berlalu begitu saja, seperti masalah-masalah yang sering dia hadapi dalam kehidupan pribadinya"

"Yah yang waras ngalah, gitu yah Ki?"
"Ha..ha..ha, bisot.. bisot"
"Kok tertawa Ki?"
"Buset pun saat ini sedang merasa serba salah, dan beberapa teman kamupun serba salah menghadapi masalah ini, ada yang tidak mengerti masalah namun mencoba untuk menjembatani antara kamu dan dia, namun malah kamu marahi, ha..ha..ha hati-hati Sot, emosi itu membuat hati buta, saat hati buta, nafsu yang bicara, maka pikiran akan sulit mencerna niat baik dan kebenaran, hati-hati"

"Oh yang Aki maksud si Kirun yah, dia mah temennya Ki, pasti sekongkol dia tuh"
"Ha..ha..ha, bisot bisot, nanti saja jika emosi kamu sudah mereda baru kembali lagi kesini"
"Yah, Aki gak ngasih solusi nih..."
"Hmmm... coba kamu pahami pesan saya ini..." Ucap Ki Somad sambil menerawang pandang
Biasanya Ki Somad kalo sudah merenung gini sambil mengurut-ngurut jenggot bakalan ngasih petuah bijak dari Kitab Suci nih.
"Dengar yah... When a person has been negative to you, and then you do something positive, they're usually a hundred percent the other way, kind of to compensate."
"Hah... apa Ki tolong di ulangi" tergagap gue denger Ki Somad pake bahasa linggis
"Hmmm... buka Al Hujuraat (49) ayat 12"
Gue buka Pocket Quran Di HP dan membacanya
"Kamu paham maksud ayat itu?" Tanya Ki Somad selanjutnya
"eee ini ayat yang melarang Ghibah kan Ki?"
"Yah, dan juga mengandung himbauan untuk tidak berburuk sangka dan mencari-cari kesalahan orang lain"
"Terus apa kaitannya dengan masalah saya Ki?"
"Ha... ha.. ha, Kamu dapat mencarinya sendiri Sot" Ucap Ki Somad sambil tersenyum penuh misteri.

Gue dagh males dah nanya kalo Ki Somad dah menutup kesempatan kayak gini.
Eh gue kok malah jadi ingat kata-kata Ki Somad tentang being positif yah?
"jadilah bagian dari solusi, jangan menjadi bagian dari masalah".
Ah nanti ajalah gue pikirin di rumah.

------------------

Klik untuk komentar