tanpa tanda jasa

Sudah sejak lama gemuruh suara perahu motor yang mengantarku menyeberangi sungai ini membuat telingaku begitu mual. Setiap pagi dan petang telingaku menyantap suara ini tanpa ada pilihan menu lainnya.

Dahulu awalnya, setelah jembatan desa terputus akibat banjir, aku selalu menutup telingaku setiap menggunakan jasa penyeberangan ini. Hari berganti hari hingga lupa janji Pak Kepala Desa saat pemilihan kepala desa yang berjanji akan merenovasi jembatan akses kampung kami satu-satunya itu, lupa pula janji-janji pejabat entah dari mana yang masuk televisi saat memberi sumbangan ke desaku akibat banjir bandang , mungkin sudah dua tahun yang lalu, ah waktunya saja aku sudah lupa.

"Selamat pagi pak guru" ucap anak-anak yang bergerombol bergandengan tangan dipandu orang tua mereka melintasi sungai ini.

"Selamat pagi, hati-hati yah" jawabku tak kalah bersemangat dan membalas senyum para pengantar mereka.
Aku teringat masa kecilku, yah untuk mencapai sekolah aku harus menyeberangi sungai ini bersama-sama dengan kawan-kawan. Teringat pula bagaimana sesampainya diseberang, aku mengganti baju, merapihkan sepatu dan menjemur pakaian yang aku kenakan menyebrangi sungai. Seragam sekolah dan sepatu kami tersimpan aman disebuah gubuk kosong yang sengaja dibangun oleh warga kampung untuk menyimpan seragam dan sepatu anak-anak sekolah.

http://2.bp.blogspot.com/-f0-0wkF3Ezc/VCqKNxrngPI/AAAAAAAAJKc/A7_2twC2boc/s1600/mengajar%2Bdua%2Bkelas.jpg

Kini, di jaman yang serba modern, keadaan seperti kembali mundur 25 tahun, kembali ke jaman saat aku masih kanak-kanak. Namun bedanya kini gubuk penyimpanan itu sudah tidak ada, dan demi keamanan penyimpanan, seragam dan sepatu dititipkan di kelas masing-masing.

Di bulan Februari seperti sekarang, disaat musim penghujan belum lagi berlalu, murid-murid yang berdomisili di kampungku akan sangat drastis berkurang. Hanya mereka yang memiliki orang tua berpenghasilan lebih yang dapat menyeberangkan anak-anak mereka dengan perahu motor, atau yang memiliki keluarga di sekitaran sekolah saja dan tinggal sementara di sana, yang masih dapat mengikuti pelajaran di sekolah.

Rumahku sederhana saja, peninggalan orang tua yang kini telah tiada. Halamannya tidak luas, namun cukup menampung hingga 20 orang murid yang tidak dapat hadir dan mengikuti pelajaran di sekolah. Jika hujan datang, mereka dapat belajar dimana saja di dalam rumah ini. Di ruang depan, di ruang keluarga di dapur pun jadi, namun jika isteriku sedang memasak, mereka tidak lagi dapat belajar dengan nyaman, atas inisiatif mereka sendiri mereka akan membantu isteriku di dapur. Tidak jarang kami mengakhiri pelajaran dengan makan bersama dengan hidangan yang seadanya hasil bumi dari kebun dan kiriman orang tua murid yang berkeras untuk ikut makan malam bersama keluargaku.

Sebagai seorang putra asli kampung ini, aku tidak mempermasalahkan status Guru Bantu yang aku sandang. Bagiku mengajar dan memberi pendidikan yang layak buat anak-anak dari sanak-saudara dan semua orang di kampungku ini adalah peran yang diamanatkan Tuhan kepadaku.

Sebagai seorang tamatan SD, apalah yang dapat aku berikan kepada generasi muda kampungku ini. Namun mengingat tidak ada lagi yang memiliki kesempatan untuk menjadi pengajar membuatku sulit untuk berpikir lain. Rekan sebaya memilih untuk hijrah dan merantau mencari kerja di tempat lain, selebihnya menjadi petani dan peladang.

Aku masih tidak mengerti saat Kepala Sekolah menyampaikan bahwa aku sedang diperjuangkan untuk menjadi guru dengan status PTT, dan akupun tidak memahami perjuangan apa yang dilakukan kepala sekolah sehingga memintaku untuk menyediakan dana untuk mengurus pengangkatanku. Banyak hal yang tidak kupahami mengenai struktur organisasi dan segala macam administrasinya. aku hanya tahu bahwa murid-muridku akan sangat senang sekali jika sudah bisa menulis namanya sendiri di papan tulis. Sudah 8 tahun aku mengajarkan murid-muridku mengenal 26 huruf abjad dan merangkainya menjadi susunan kata yang memiliki makna, termasuk bagaimana menulis nama mereka sendiri.

Semenjak menjadi guru PTT cukup banyak perubahan yang berarti. Adakalanya aku menerima uang yang katanya gajiku, itupun tak pasti, kadang ada, kadang hingga 7 bulan baru ada lagi. Jumlahnya lumayan untuk menambah modal warung kecil-kecilan yang dikelola isteriku sebagai tulang punggung ekonomi keluargaku sejak dahulu, hingga aku masih bisa menyisihkannya untuk membeli alat peraga huruf dan poster-poster alfabet sebagai pelengkap ruang belajar dihalaman rumahku.

Tidak ada perkembangan yang berarti mengenai jembatan kampung. Walaupun sudah dapat dilalui oleh orang namun belum bisa dilalui kendaraan. Sepedahkupun harus kupanggul saat menyebrangi jembatan itu. Entah sampai kapan batang-batang bambu yang disusun berjajar untuk menyambung jembatan itu akan bertahan. Perahu motor itu masih tetap setia melayani para pedagang sayur mengangkut hasil kebun untuk diseberangkan, dan aku sudah cukup bersukur tidak lagi menyiksa telingaku dengan bunyi yang memekakkan telinga dan asap mesin berbau solar yang menyesakkan.

Beberapa hari yang lalu, rekan-rekan guru disekolah tampak gelisah dengan adanya rencana sertifikasi terhadap guru. Aku tidak memahami sejauhmana ujian itu akan mempengaruhi statusku sebagai guru PTT, yang pasti ujian dan apapun yang terjadi tidak akan mempengaruhi statusku menjadi guru desa di kampungku. Sebutan "guru desa" ini adalah pemberian dari kepala desa di kampungku, entah apa artinya, namun cukup membuat aku merasa terharu setiap menyebutnya, aku semakin merasa terpanggil untuk mendirikan sekolah di kampungku.

Tak banyak yang bisa diceritakan oleh rekan-rekan dan kepala sekolah mengenai rencana ujian sertifikasi itu. Sebagai guru PTT aku lebih banyak mendengar dan mencoba memahami makna ujian sertifikasi nasional. Aku hanya mengajar kelas 1 sampai kelas 3, ujian apa yang ada dalam ujian sertifikasi sama sekali aku tidak dapat membayangkannya.

Hari yang diresahkan itu tiba, saat beberapa orang dari dinas pendidikan daerah mendata sekolah kami. aku dikelompokkan sebagai lulusan SD dengan masa bakti hanya dihitung sejak aku PTT, masa bakti saat menjadi guru bantu tidak diperhitungkan. Dengan masa bakti dibawah 3 tahun aku ibaratnya hanya menempati posisi cadangan untuk mengikuti ujian sertifikasi bahkan masih belum ditulis dalam daftar pengajar di sekolah ini. Aku tidak memperdulikannya, bagiku sekolahku ada di halaman rumahku disana aku menjadi guru desa, teringat nama besar Ki Hajar Dewantara sang guru bangsa, ah betapa terharunya aku.

Saat istirahat sekolah, seseorang dari dinas pendidikan menghampiriku dan mengajakku bicara. Ia menjelaskan mengenai apa itu ujian sertifikasi, apa itu standar guru nasional, apa itu sistem pendidikan nasional. Aku sama sekali tidak memahami konsep-konsep itu, lingkup itu terlalu luas untuk seorang guru desa namun aku mencoba memahaminya dengan konsep-konsep lebih kecil, sayang, aku hanya satu-satunya guru di kampungku, standarisasi bagaimana yang dapat aku terapkan jika guru yang ada hanya aku?.

"Jika bapak ingin mengikuti ujian dan ingin lulus mudah saja pak, bapak cukup menyediakan uang sebesar ......." kata orang itu.

Aku tidak memahami hubungan kalimat itu dengan konsep-konsep yang ia jelaskan sebelumnya, mungkin hubungan itu terlalu rumit untuk seorang guru desa sepertiku. Aku diam saja, jumlah uang yang ia sebutkanpun aku tidak dapat membayangkan nilainya. Gaji guru PTT sebesar Rp.80.000,- saja, walaupun kadang ada dan kadang tidak, merupakan jumlah yang sangat besar bagiku. Untuk menjadi guru PTT saja aku telah melepaskan sebagian tanah warisanku kepada kepala sekolah, aku melakukannya lebih karena penghormatan dan mungkin kepala sekolah lebih membutuhkannya dari pada keluargaku. Lama aku berusaha menggali ingatan, namun gagal, sepertinya aku belum pernah melihat uang lebih besar dari gajiku itu.

"Tanah juga boleh pak, asal NJOP-nya sesuai pak" desak orang itu

Aku semakin sesak akan kemampuan otakku memilah dan memahami kalimat-kalimat orang ini. Sayangnya tanah yang ada hanya tinggal kebun disamping rumah dan halaman depan yang menjadi sekolah impianku. Aku tidak akan pernah menukar tanah itu dengan apapun, tanah itu adalah impianku sebagai guru desa. Aku membayangkan generasi muda kampungku menjadi generasi yang dapat membaca, berpendidikan, ah betapa muluk impian ini.

"Bagaimana pak?" tanya orang itu lagi.

"Maaf pak, saya sudah cukup tua untuk mengikuti ujian, lagipula saya bukan pelajar pak, saya pengajar"

"Tidak pak, ujian ini wajib bagi semua guru" jawab orang itu

"Menurut saya bapak pasti sedang mempermainkan saya yang orang desa" jawabku dalam hati.

Aku tinggalkan orang itu tanpa berkata apapun, kuambil sepeda dan mengayuhnya agar cepat sampai dijembatan, ku angkat sepedah itu melintasi jembatan, setiba di rumah aku menangis.

Aku ingin punya sekolah sendiri yang bebas dari berbagai macam konsep yang tidak aku pahami.

Terlalu mulukkah impianku?.

======================

Klik untuk komentar