Koruptor Budiman

Dibuang sayang, ini dapet dari E-mail, bagus buat dibaca, bagus juga buat dipelajari bagaimana cara menulisnya...



Sebuah poster bergambar baju koruptor yang basah dengan tulisan "jangan biarkan basah kelamaan, DIGANTUNG aja ! biar cepet kering"
sangat mengena!

Gambar dari: http://ayulittleone.blogsome.com/2006/11/11/indonesia-against-corruption/



Tuan Koruptor yang Budiman

Benar, ini luar biasa: seorang koruptor kakap dengan senang hati menyerahkan diri minta diadili.

Saya ingin jadi koruptor yang baik dan benar, katanya. Ingin memberi contoh kepada rekan-rekan koruptor lain, tak baik melarikan diri. Lebih baik duduk tenang di pengadilan. Kalau ingin sembunyi, bukankah persembunyian paling aman bagi koruptor justru ada di pengadilan. Kita enggak bakalan diperlakukan macam maling ayam. Paling ditanyai
sedikit-dikit, basa-basi, minta bagian hasil korupsi. Tak ada ruginya kalau kita berbagi rezeki sama hakim, jaksa, polisi. Anggap saja zakat buat mereka. Toh itu juga bukan uang kita.

Makanya saya di sini, minta diadili. Saya tak hendak membantah. Itu urusan para pengacara saya, karena untuk itulah mereka dibayar: membuat saya kelihatan tak bersalah.

Saya hanya ingin meluruskan anggapan keliru, yang menyatakan koruptor macam saya tak lebih benalu bangsa tak berguna. Koruptor macam saya jelas aset bangsa. Kamilah yang menggerakkan roda perekonomian. Dengan korupsi uang jadi terdistribusi. Terjadi pemerataan.

Seperti pembangunan, korupsi juga terjadi di segala bidang. Kami tak pernah menikmati buat sendiri. Kami ikut nyumbang pembangunan rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu korban bencana, menyokong olahraga, iuran tujuhbelasan. Banyak. Karena sebagai koruptor yang baik, kami tahu cara mengelabui. Dengan berbuat baik, kami menjadi dihormati. Duduk di depan bila ada hajatan, dan diminta bicara di pengajian.

Naif, bila para mahasiswa terus menuntut koruptor di penjara. Nanti malah repot mesti bikin buuanyak penjara. Karena 70 persen warga republik ini pasti akan masuk penjara. Tidakkah itu hanya akan menghabiskan anggaran belanja negara? Percayalah, biaya memenjarakan koruptor jauh lebih tinggi ketimbang dana subsidi BBM yangdialokasikan buat mengatasi kemiskinan. Jadi, memenjarakan koruptor itu justru kontra-produktif bagi keuangan negara. Daripada uang dihambur-hamburkan membangun penjara, lebih baik uang itu kami korupsi lalu kami bagi-bagikan secara adil dan merata.

Itu namanya korupsi yang adil dan beradab, sesuai Pancasila. Atau biar terdengar lebih trendi: itulah prinsip demokrasi dalam korupsi. Dalam demokrasi, mesti ada distribusi kekuasaan yang sama antara eksekutif-legislatif-yudikatif. Korupsi yang demokratis pun begitu:
eksekutif-legislatif-yudikatif dapat kesempatan dan keuntungan yang sama. Korupsi ibarat lokomotif demokrasi yang membawa gerbong-gerbong keuntungan dan semua orang berebut ingin naik menikmati.

Karena itulah, memberantas korupsi sama saja menggulingkan gerbong-gerbong demokrasi. Itu berbahaya. Bisa menimbulkan keonaran para demonstran bayaran. Sebagai koruptor yang baik, tentu saja saya tak ingin itu terjadi. Saya koruptor cinta damai. Peace!

Cuma, tolong jangan terlalu pojokkan kami. Kalau soal unjuk kekuatan, kami juga bisa menggalang aksi besar-besaran. Pikirkan, bila seluruh koruptor di negeri ini menggelar aksi mogok - dalam satu hari saja!
Dari kantor kelurahan sampai Istana Negara, pasti mendadak sepi.
Pelayanan publik terhenti. Birokrasi macet. Pabrik-pabrik tak berproduksi. Semua departemen kosong. Jangankan ngurus surat, WC umum saja mungkin enggak ada yang ngurusi. Karena semua koruptor mogok, seperti lakon Lysistrata ketika seluruh perempuan memboikot laki-laki. Kalian akan pusing sendiri. Kalian akan melihat betapa berkuasanya
kami. Kami ada di tiap sendi negeri ini. Bagaimana cara kalian membasmi? Kalian seperti mengamputasi tubuh sendiri.

Karena itu, marilah kita hidup rukun berdampingan dengan damai. Yang koruptor dan enggak koruptor, apa sih bedanya? Emha Ainun Nadjib bilang, kesalahan hanyalah kebenaran yang tertunda. Maka, yang enggak
korupsi pun hanya soal kesempatan yang tertunda. Koruptor atau bukan, menyitir si jalang Chairil Anwar, semua akan dapat tempat, semua akan dapat giliran.

Marilah kita mulai belajar menerima kenyataan, betapa korupsi memang sudah menjadi suatu yang menyenangkan di republik ini. Anggap saja koruptor itu sebagai bagian dari perekonomian kita: sudah numpuk utangnya, eh banyak pula koruptornya. Kita ibarat masuk lokalisasi. Sudah bayar, terkena rajasinga pula!

Bukan sensasi

Ketika puluhan kamera menyorot pengakuannya, koruptor itu terlihat makin murah senyum.

Saya tak cari sensasi dengan semua ini, katanya. Saya memberikan teladan, bahwa koruptor pun bisa menjadi 'Maling Budiman'. Karena itulah, wahai para koruptor yang beriman, marilah kita tingkatkan amal dan taqwa kita dengan membantu negeri ini makin terbenam dalam keterpurukan.

Negeri ini tak bisa diselamatkan, kecuali dengan mempercepat proses pembusukan. Koruptor macam kita mesti mendukung proses itu. Bila tidak, negeri ini akan terus enggak jelas seperti ini. Semua serba seakan- akan, tulis Parakitri T Simbolon. Seakan-akan menteri, padahal pengusaha. Seakan-akan penyair, padahal setengah pengangguran. Tak heran, seorang yang sudah resmi menyandang predikat koruptor pun masih bisa tampil tenang, penuh senyum, mirip rohaniwan seperti saya.

Marilah, mulai saat ini kita lebih menghargai koruptor sebagai pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa tapi banyak harta, yang berjasa mempercepat proses pembusukan seluruh sampah negeri ini. Anggap saja ini proses evolusi untuk menghasilkan pembuahan: munculnya tunas-tunas koruptor yang lebih bertanggung jawab terhadap nasib bangsanya.

Marilah, kita semua kumpul di sini. Korupsi tidak korupsi asal kumpul. Semua serba enak di sini. Lihatlah saya di peradilan ini: masih tetap sehat, cuma kelihatan tambah kurang waras.

Tapi, bagaimanapun, saya berterima kasih kepada para aparat yang masih saja sungkan menangkap saya. Ketika saya datang, mereka malah sembunyi. Barangkali para aparat hukum itu memang benar-benar percaya bahwa koruptor seperti saya ini memang aset bangsa yang mesti dilindungi. Hingga saya masih terus diberi keleluasaan untuk secara
sistemik melakukan karupsi dengan baik dan benar, serta secara murni dan konsekuen.

Agus Noor
Prosais, Kerap Menulis Teks Monolog yang Dimainkan Butet Kartaredjasa

Kompas cetak 27 Januari 2006
dulu sih ada disini:
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0601/27/humaniora/2397794.htm

Setelah saya cari2 ada di sini


Ini juga karya Agus Noor lainnya yang dibawakan oleh Butet Kertarajasa:
http://www.kemitraan.or.id/data/events/08.8.ac_book_launch/butet_koruptor_terhormat.pdf

Klik untuk komentar