Cerita Tentang Anak-Anak Yang Menemaniku Menunggu Senja

Sekelompok bocah bergerombol sedang menghisap lem di pinggir pantai, bau aceton yang menyengat membuat mereka terhanyut dalam denyut-denyut yang semakin dalam menenggelamkannya ke dalam alam tidak sadar.

Aku hanya duduk saja, menikmati cahaya senja sambil menghisap dalam-dalam rokokku.

cerita tentang anak
ilustrasi

"Bos, bagi rokoknya dong" ucap salah satu bocah tadi.

Aku diam saja, sedikit takjub akan keberanian dan kekurang ajaran bocah dekil ini.

"Bos, minta rokoknya dong" ulang bocah itu.

Aku tersenyum kecut, kutangkap gerakan yang memberi isyarat kepada rekan-rekannya untuk ikut bergabung bersamanya meminta rokok, setidaknya ada tiga bocah yang ikut mendekat, tatapan meremehkan dan bisikan-bisikan mereka tidak berhasil mengusikku.

"Lo mau rokok? Gue kasih, tapi ada syaratnya" ucapku, aku enggan menyaksikan ulah nekat selanjutnya dari anak-anak jalanan ini.
"Syaratnya apa bos?"
"Gampang, duduk aja disini temenin gue sampe matahari tenggelam"
"Lo pada bisa baca gak sih?, tuh baca "Merokok dapat menyebabkan kanker dst"
bisa baca gak?"

"Ah Om juga sudah bisa baca tapi ngerokok juga" salah satu dari mereka menjawab.
"Baca dong, merokok "dapat" menyebabkan kanker, kalo gue kan beli, bukan dapat, kalo elo kan boleh minta jadi masuk dalam istilah "dapat" jadi elo-elo bisa pada kena kanker" jawabku

Mereka tertawa mendengar penjelasanku.

Dibalik canda ini, aku sebenarnya sedang merasa terusik oleh keberadaan mereka, kemana orang tuanya? Kenapa mereka berkeliaran dipinggir jalan?

####

"Ibu saya kerja di pabrik Om, pulangnya malam, bapak sudah gak ada Om, kata ibu bapak sudah cerai dan pergi ke pulau sebrang"

"Kalo saya, bapak saya sudah meninggal Om, ibu saya kalo pagi jualan nasi uduk dipasar, sore mencuci baju orang, malamnya jualan rokok di ujung jalan itu"

"Kalo dia nih Om, bapaknya banyak, emaknya cakep loh om, kalo pagi sampe siang tidur doang, kalo malem sampe pagi kerja di karaoke Om" jawab salah satu bocah itu sambil menunjuk seorang anak yang paling kecil dan tampak pendiam.

Anak itu hanya tersenyum saja merasa diwakili temannya untuk menjawab pertanyaanku.

"Lho bapak kamu mana?" desak saya kepada si kecil yang juga ikut merokok

"Gak tahu Om, kata emak, bapak saya sekolah diluar negeri Om"

####

Namanya Panji, umurnya mungkin baru 10 tahun, ibunya tampak sudah siap untuk meninggalkan rumah, mungkin kalo aku tidak nekat mengantar anak-anak itu pulang karena hari menjelang malam aku tidak akan pernah kenal dengan ibu beranak satu ini.

"Ini Om rudi, mak, yang dulu beli martabak" ujar Panji gugup, menjawab tatapan tanya dari ibunya.

"Oooo, Makasih pak, maaf kalo anak saya ngerepotin, panji sama teman2nya memang nakal, susah dibilangin...."

"Gak apa-apa kok bu, saya sendiri kok yang minta mereka menemani saya kalo sore nongkrong di taman menghindari macet, mari bu, saya masih mau mengantar si Budi dan Iwan"

"Oh iya.. ya terima kasih mas"

Agak aneh saja, awalnya dia memanggil saya bapak, lalu sekarang "mas".

Setelah meninggalkan rumah petakan itu budi dan iwan berseloroh
"Tuh, Om, cakep kan ibunya panji, he..he..he"

"Hush, jangan begitu sama orang tua"

####

Tahun berlalu dan genap sudah 3 tahun aku meninggalkan kota itu.
Yang kudengar kabar, semakin banyak anak-anak yang berkumpul di taman itu.
Anak terlantarkah mereka?

Entahlah, yang aku tahu mereka tidak berayah, entah yatim atau karena orang tuanya bercerai atau lainnya.

####

"Di jalanan, kami sandarkan cita-cita, sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya"
Sepenggal bait dari lagu "Bongkar" yang dilantunkan Iwan Fals dalam album Swami menjawab pertanyaanku mengapa mereka berkeliaran di jalan.

Kenapa tidak bisa dipercaya?

Karena di rumah, entah itu bapaknya atau ibunya semakin egois, kita semua semakin egois, tidak pernah mau memikirkan manusia lain, yang kita pikir hanya diri kita sendiri, kita akan memikirkan orang lain hanya saat ada kepentingan kita yang terkait dengan orang lain, termasuk suami, atau istri.

Anak-anak tidak lagi dipandang sebagai manusia. Mereka kadang dipandang sebagai asset orang tua, investasi dan bahkan komoditi. Kalau sudah begini, apa bedanya hidup di rumah dengan di jalan???

Harta yang berlimpah dan serba kecukupan tidak menambal kebohongan dan kamuflase egosentris para manusia kerdil yang menyandang gelar "orang tua". Keluarga tidak lebih hanyalah mitos penuh dengan simbol, seperti rumah mewah, tapi sayang bukan tempat tinggal yang nyaman. Bapak dan ibu sukses dalam karir bekerja namun tidak sukses dalam karir keluarga.

Di lain sisi, semakin banyak anak yang lahir karena kebodohan orangtuanya, semakin banyak anak-anak yang dibesarkan dengan sesal, seakan mereka adalah kutukan.

Kesulitan ekonomi menjadi kambing hitam yang tidak akan pernah basi. Karena pendapatan suami rendah, ibu ikut bekerja... untuk apa? untuk sang anakkah? sayangnya kebanyakan bukan.

Kenapa tidak bisa dipercaya?

Karena sang anak melihat orang tuanya memiliki konsep "keluarga" yang sulit dimengerti oleh jiwa sederhana seorang anak, jiwa jujur dan lugu manusia kecil pemilik masa depan.

Anak-anak itu, di rumah mereka bingung kemana orang tuanya, merasa ditinggal dan terbuang. Yang paling parah... 
Inget syair Mister Gele? "Papi sibuk cari perawan, mami sibuk cari bujangan".

Anak-anak itu, di sekolah juga bingung, guru-guru semakin aneh, tidak ada lagi yang bisa digugu dan ditiru, pendidikan hanya menjual fasilitas, semakin mahal semakin bagus, tanpa fasilitas tak ada yang bisa dikerjakan karena kreatifitas mereka sudah diracuni fasilitas dan mencandu kemudahan-kemudahan.

Anak-anak itu, menangis... air matanya sudah kering, jiwanya pun kering, mereka bergerombol mencari kehangatan seorang bapak, yang lelaki menemukannya di game house, di gank dlsb, yang perempuan menemukannya pada Om-om mata keranjang baik bergelimang uang atau tidak, mencari kehangatan kasih seorang ibu, yang lelaki menemukannya disenyum tante girang, yang perempuan menemukan di gank, atau sahabat perempuan lain yang menjadi kekasih gelapnya, yang ber-uang menemukannya di salon-salon dan lainnya.

Kenapa tidak bisa dipercaya?

Karena mereka, anak-anak itu, tidak pernah dipercaya.
"Do what I say, not do what I do" thats it, the fuckin lullaby yang terus saja kita putar ulang karena kita tidak bisa memberi contoh nyata, hanya kata-kata yang lucunya selalu kita langgar.

Kita selalu memutuskan berdasarkan kaca mata kita, apa yang terbaik bagi mereka. Namun saat mereka mengemukakan pendapat, what we always say?
"Anak kecil tahu apa?" dan ucapan-ucapan meremehkan yang melukai harga diri mereka... hanya itukah "kalimat bijak" yang bisa keluar dari "orang yang lebih besar" dan "serba tahu"?

Ketika saya berbusa-busa ngomong tentang ini, jawaban yang sama saya dengar
"Tahu apa sih lo sot, sotoy amat segh jadi orang"

"Saya gak tahu apa-apa kok, masing-masing punya cermin, apa yang saya muntahkan adalah hasil saya bercermin, dan cermin saya tidak lebih jernih dari cermin Saudara-saudara, so bualan saya tentu utamanya untuk saya sendiri kok"

Sebuah apologi... dari seorang ayah yang mudah-mudahan tidak bosan belajar dari anak-anaknya.

salam


Selamat Hari Anak Nasional, momentnya segh tgl 23 Juli, masih 20 hari lagi.
Semoga nantinya anak-anak kita atau calon anak-anak kita dapat lebih baik dari kita.
______________________________________________

henceu, Selasa, 3 Juli 2007 @ 12:00 WIB

manteb om tulisannya, cermin dan refleksi yang bagus!!! gw serasa diwakilin ngungkapin unek2 gw terhadap keegoisan orang tua yang kebanyakan menjadikan anaknya sebagai komodity asset, pelampiasan atas cita2 mereka yang kandas dimasa lalu... beugh cape degh

bagus!!bagus!! 
selamat hari anak nasional 
__________________________________________________________________

mellon, Selasa, 3 Juli 2007 @ 12:18 WIB

nice posting om.. 
__________________________________________________________________________
indamz, Selasa, 3 Juli 2007 @ 12:36 WIB

keren euy !!!
bener-bener inspiring story...
two thumbs up buat om bisot..

uwi add ke bloghood ah 
_____________________________________________________________________

lim_dan_lim, Selasa, 3 Juli 2007 @ 14:23 WIB

quote:
yang lelaki menemukannya disenyum tante girang,

tidak harus tante girang kan? 


bisot, Selasa, 3 Juli 2007 @ 16:17 WIB


gak kok lim,

sebagian lari ke drugs, menciptakan dewi2 hayalan yang mereka puja sebagai ibu sekaligus kekasih, akhirnya banyak kisah seorang anak memperkosa ibu kandungnya...

sebagian... yah mungkin sebuah berita baik, sebagian berhasil, namun sayang dengan cacat psikologis dan dendam kepada perempuan, manifestasinya adalah para eksekutif masochist yg senang menyiksa pasangannya...

mau gue perpanjang daftarnya lim????

__________________________________________________________________
yulianbjm, Selasa, 3 Juli 2007 @ 16:59 WIB

yah..kadang orang tua..mau menangnya sendirikalo anak udah keliatan bakat dan kecerdasannya
orangtuanya langsung mengekspose dan "menjual" anaknya untuk dijadikan lahan uang, tapi kalo anak sudah kelihatan tanda2 bandel,nakal,bodoh..,keterbelakangan mental, pasti orangtuanya pura2 gak mampu mengurus anak2 tsb...yah namanya juga anak2 bermacam2 karakternya dan masih harus banyak2 kita beri bimbingan dan kasih sayang...
sot...postingan elu bagus gua suka...
oya...gw juga... sayang anak...sayang anak..
(penjual mainan mode on )...he..he...

Klik untuk komentar