Biar saja, dinda.




Duhai dinda...

duka apa yang menyuramkan tatap teduh telaga beningmu

beban apa yang menyelimuti ceriamu

apakah tahta dunia telah menjajah hatimu?

dalam hati kita, hanya boleh ada kita berdua

dalam hati kita, siapapun dan apapun tidak boleh bertahta




Lihat dinda, buka matamu, hapus tangismu:


betapa menggelikan dunia

si pikun yang menor itu sudah semakin renta

sudah tak mampu lagi menutupi cela

namun masih saja berupaya mengelabui kita.


Lihat dinda, betapa mengharukan

dunia sedang membangun kuburnya sendiri, yah kuburan

makhluk yang dahulunya bernama manusia semakin pandir

memperbudak diri dan melacur tanpa akhir


Lihat dinda, mereka mengawasi kita

dunia menganggap kita gila dan berbahaya

cerdik licik membuat fitnah

hingga yang waras menjadi punah


Benar sekali dinda, tak usah kita berduka

mereka sedang membangun neraka

yang tersisapun akan hidup dalam hampa

sekalipun terbuka mata mereka tetap buta.


Mari kita pergi dinda

sebelum mereka meracuni kita

Klik untuk komentar