insane society

"The Insane Society"

Budiarto Shambazy


Harian The Washington Post memuat kartun bergambar seorang serdadu Angkatan Laut Iran di atas sampan. Ada garis pembatas yang memisahkan perairan Iran yang ditulisi "insane" (edan) dan perairan internasional yang "sane" (waras).

Karikatur itu menyindir penyanderaan 15 serdadu Inggris oleh Iran, 23 Maret lalu. Teheran menuduh mereka melanggar perairannya, London mengatakan tidak.

Apa pun yang dilakukan Teheran, menangkapi penyusup atau mengembangkan teknologi nuklir, itu insane. Apapun yang dilakukan Presiden Amerika Serikat George W Bush atau Perdana Menteri Inggris Tony Blair, menyerbu Irak atau menyiksa tawanan di Guantanamo, pasti sane.

Barat manusia bebas, orang- orang di luar itu golongan subhuman. Makanya, mereka perlu diajari demokrasi, hak asasi manusia, pemilu, dan keberagaman.

Pemerintah Australia melarang perburuan kanguru, rakyat Aborigin harus tunggu keputusan pengadilan agar tanahnya jangan diobrak-abrik. Pemerintah Inggris tak mau kembalikan permata curian Koh-i-noor dari Pakistan yang jadi kebanggaan Ratu Elizabeth.

Namun, Barat tak pernah merasa malu mengakui mereka sedang sakit. Mereka akan bilang, "We are living in an insane society."

Saduran bebas insane ke bahasa Indonesia bisa berarti mad (pemberang), psychotic (gangguan batin), neurotic
(emosional), atau out of one’s mind (mudah kalap), maniacal (maniak), silly (pandir), stupid (dungu), absurd (menggelikan) , nonsense (omong kosong), senseless (tak masuk akal), dan ridiculous (aneh).



Masyarakat kita bisa jadi kurang jujur untuk mengakui kondisinya sedang edan. Padahal, setiap simtom the insane society makin hari makin sering tampak dari Sabang sampai Merauke.

Pemberang. Banyak pejabat bertelinga tipis, padahal hidup tanpa kritik ibarat sayur tanpa garam.

Masyarakat suka run amok. Mereka lari kencang dengan golok terhunus menumpahkan amuk di jalan, gedung pengadilan, kampung, dan sebagainya.

Gangguan batin. Ada pejabat lelaki yang wajahnya ditaburi bedak, ada yang merasa mampu memimpin meski berkali-kali gagal, ada komedian jadi politisi, dan ada pula politisi yang mirip komedian.

Banyak penderita gangguan batin akibat tekanan ekonomi. Masya Allah!

Anda ingat Supriono yang membawa jenazah anaknya dengan gerobak karena tak punya uang untuk menguburkannya. Anda ingat beberapa murid SD yang mencoba bunuh diri karena malu tak bisa bayar uang sekolah.

Emosional. Kalau di Barat berkembang ilmu emotional intelligence, di sini ada pejabat yang inteligensianya diragukan dan suka emosional.

Mudah kalap. Pejabat kita mudah kalap jika berurusan dengan korupsi, antara lain menyembunyikan ribuan lembaran seratus ribu di ember-ember kamar mandi sampai basah.

Kita mudah kalap, apalagi kalau lagi berkendara. Lampu lalu lintas warna kuning tanda harus stop malah dipakai untuk menyerobot.

Maniak. Pejabat dan politisi kita maniak pergi ke luar negeri untuk kunjungan resmi, liburan, maupun kabur membawa hasil korupsi.

Masyarakat menderita "maniak musiman". Tiba-tiba suka sop kaki asal mereknya "Pak Kumis", gemar menghancurkan kereta api kalau tim sepak bolanya kalah, dan suka meneruskan kalimat Tukul Arwana "kembali ke lap... toooppp" dengan serentak.

Pandir. Bagaimana tidak pandir kalau telanjur mengumumkan, "Kita menemukan bangkai pesawat AdamAir di sana!"

Pandirlah mereka yang yakin hakulyakin calon presiden minimal bergelar S-1. Sama pandirnya dengan Dephub yang mengeluarkan peringkat maskapai
penerbangan—aturan yang diterapkan oleh satu-satunya negara di dunia ini: itulah Indonesia!

Dungu. Saya seperti orang dungu menyaksikan dua menteri memainkan 1.001 jurus untuk menghalalkan pemakaian rekening bank milik departemen untuk "menampung" uang Tommy Soeharto.

Masyarakat dungu karena tiap hari tak mau antre, melanggar aturan, lebih taat pada jampi- jampi ketimbang marka-marka jalan, dan lebih takut setan
ketimbang rampok. "Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results."

Menggelikan. Kalau ada pejabat yang mau diperiksa, ia pura-pura sakit atau—supaya tak jatuh gengsi—memberikan kuliah di ruang tahanan.

Omong kosong. Wah, kalau dalam soal ini, politisi Indonesia sejak dulu sudah legendaris. Hebatnya lagi, masyarakat termakan sampai kenyang dan melepéh presiden pilihannya sendiri.

Tak masuk akal. Coba, bagaimana bisa kita menjadi negara terkaya dan tersejahtera di dunia tahun 2030 kalau yang membuat visi adalah mereka yang belum mengembalikan dana BLBI?

Jika pejabatnya begitu, tak heran kita gemar hal-hal yang mustahil, seperti menjadi kaya lewat korupsi, menjadi sarjana berijazah palsu, atau mengusir
Presiden Bush dengan jampi-jampi.

Simtom terakhir, aneh. Waktu Orde Baru, KKN pejabat dan pengusaha dilakukan secara sembunyi-sembunyi di bawah meja, di zaman Reformasi mereka mengangkut mejanya sekalian.

KKN model sekarang si pejabat malah makan di satu meja bersama sang pengusaha.

"Insanity is the only sane reaction to an insane society."

Klik untuk komentar