Ayat-ayat cinta

Jika disebut nama Habiburrahman Saerozi, yang terlintas dalam benak saya adalah Ayat-ayat Cinta, sebuah novel dakwah yang rencananya akan diangkat kelayar perak.

Mariah Qibtiyah

Sudah pernah baca novel ayat-ayat cinta?
Saya memaksa mata untuk tetap melek namun hanya sanggup menyelesaikan sampai halaman 160an dari total 314 halaman. Mungkin kecepatan mata yang sudah jauh berkurang, dari jam 10 s/d jam 4 subuh sudah terbaca setengah buku. Siangnya saya lanjut lagi, dan saat postingan ini saya tulis, saya baru sampai halaman 261.

Terlalu cepat jika saya menarik kesimpulan.

Berbeda dari resensi dan komentar yang banyak ditujukan kepada novel ini, saya justru tertarik mengenai gugatan-gugatan sosial dari tokoh Fahri, bagaimana sikap muslimin berinteraksi pada para ahlul dzimmi, bagaimana dia beropini saat sukuran kecil-kecilan makan dalam satu nampan yang sudah menjadi tradisi di daerah asalnya dinyatakan bid'ah, bagaimana ia menggugat Kyai-kyai yang mengirim santrinya kesegala penjuru hanya untuk berjualan kalender demi pemasukan pesantren, dan yang lebih menohok adalah bagaimana opininya terhadap kepedulian pejabat2 KBRI saat ia berada dalam penjara dan posisi tawar Indonesia (bargaining power) secara diplomatis di hadapan Pemerintah Mesir, apatah lagi jika kasus itu menimpa para TKI yang sering terzalimi di tanah Mesir.

Gugatan-gugatan itu dipoles dalam ungkapan-ungkapan yang halus dan sopan dengan kedewasaan dan kecerdasan artikulasi sehingga tidak tampak sebagai gugatan.

Oh yah, penulis buku ini adalah seorang pria, yang walau bagaimanapun tetaplah seorang pria yang memiliki pola fikir maskulin. Saya tidak akan kaget membaca ulasan2 yang mengkritik tokoh Fahri terkait empat tokoh perempuan dalam novel itu (Aisah, Maria, Noura dan Nurul). Terlebih walau dengan alasan yang sangat masuk akal akhirnya tokoh fahri memutuskan untuk mengambil pilihan poligami dengan Maria, seorang Nasrani Koptik, sebuah kisah yang mengingatkan kita pada salah satu Istri Rasulullah SAW, yaitu Ummul Muslim Mariah Qibtiyah R.A (Kata Qibti adalah sebutan untuk Umat Nasrani Koptik di Mesir). Poligami adalah sebuah keputusan yang akan menggelitik para kritikus menelaah lebih dalam motifasi dari seorang tokoh fiktif bernama Fahri.

Ingin turut mengomentari novel fenomenal ini, bukunya masih banyak tersedia di toko-toko buku.


Check this out:

http://www.republika.co.id/mypustaka/buku_detail.asp?id=44
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=275963&kat_id=319

Klik untuk komentar