hati yang terkoyak (cerpen)

violitude


Aku terjaga, mega merah ditimur mulai menguak cadar fajar. Angin dini hari menembus jendela yang terkuak lebar. Dinginnya bukan saja membuatku terjaga, sedikit demi sedikit kesadaran menyegarkan ingatan. Yah kami lupa menutup jendela itu, mungkin langit malam menjadi saksi gejolak hasrat yang dibakar alkohol, berpacu dalam naluri terliar sepasang insan tanpa ikatan. Aku juga lupa dimana kuletakkan dompet, telepon genggam, ah siapa yg akan sempat mengingat semua hal itu lagi jika nafsu sedang bergelora. Namun ada satu yang kuingat, aku harus menjemput Gadis-ku dibandara siang nanti.

Cottage ini langsung menghadap kepantai, dari jendela ini tampak semburat cahaya matahari pagi menyinari ombak, mataku terpaku pada lampu2 kecil yang berkelap-kelip dikafetaria hotel. Disanalah kami menghabiskan malam, disana pula kami bertemu. Dia bukan satu2nya pengunjung yang bersedia menyumbangkan suaranya bersama band kami meramaikan suasana. Namun bagiku dialah satu-satunya penyanyi yang berani berimprofisasi dengan suaranya mengiringi melody dari gitar yang kumainkan.

"Keberatan jika saya membelikan anda minum atas performance dan improfisasi vokal yang luar biasa" pujiku saat break session dan featuring performance mengisi stage menggantikan band kami. "Terima kasih, mari gabung disini kita minum bersama" jawabnya ramah sambil mempersilahkan aku bergabung diantara teman-teman hang outnya.
"Ivan" kataku memperkenalkan diri dengan memberikan senyum terbaikku.
"Saya Arin" jawabnya "Ini Ntet dan Fira" memperkenalkan rekan-rekannya.
"Saya selalu bersenandung mengiringi lagu dan melody saat lagu-lagu diputarkan, baru kali ini saya melepaskan senandung saya, kebetulan itu salah satu lagu favorite saya" jawabnya renyah saat berbasa-basi dan ku tanyakan asal kemampuan vokalnya. Ia adalah seorang penyiar senior radio lokal kenamaan, Fira dan Ntet adalah pengasuh rubrik disebuah majalah kenamaan. Ketiganya mengingatkanku akan film serial televisi yang aku gandrungi, yah Charlie's Angels.



Ku raih selimut yang tergeletak dilantai untuk menutupi tubuh polosnya, kunyalakan alarm tepat jam 10 pagi, agar ia dapat terbangun dan memiliki cukup waktu guna mempersiapkan diri sebelum waktu check out tiba. Apakah ia punya jam siar pagi ini? Ah dia cukup organized sebagai seorang perempuan karir dan aku kira ia telah memanage kegiatannya lebih advance daripada aku. Pikiran itu memperkuatku untuk tidak membangunkannya.

Berkat perkenalanku dengan Arin, band kami jadi well informed tentang lagu-lagu top 40 yang sedang populer, kami pun tidak kesulitan lagi mendapatkan sampel kaset lagu-lagu baik lokal maupun manca negara, Arin menjadi aset berharga dalam band kami. Aksesnya keberbagai dunia entertaimentpun membawa banyak keuntungan bagi band, sudah banyak event yang digagasnya bersama tim kerja dari stasiun radio dengan melibatkan peran serta band kami membawa kesuksesan. Pendapatan band kamipun mulai membaik. Seiring dengan hal itu hubunganku dengannya kian erat, namun Arin sudah terikat dengan seorang dokter yang sedang menyelesaikan gelar Phd-nya di Amerika. Hal yang sama denganku, aku pun sudah semakin dekat dengan rencana pernikahan dengan seorang Gadis dari Jakarta, Gadis yang sudah tiga tahun mengisi hatiku.

Kami saling memahami, kami saling menjaga agar tidak terjebak dan tersesat dalam labirin bernama cinta, karena hati kami masing-masing memiliki tambatan yang pasti. Yah kami hanya ingin mengalami, menikmatinya dari luar, dan memastikan semua mengalir dalam jalurnya.

Tanpa sempat mandi, kubergegas memunguti pakaian dan mengenakannya sekenanya, aku tak ingin membangunkannya, biarlah ia tertidur sepuasnya hari ini. Sebelum pergi masih sempat kukecup keningnya.
"Doaku bersamamu, mungkin mulai hari ini dan entah sampai kapan aku tidak dapat menemanimu".

Sesampai di rumah yang juga menjadi studio band kami Mang Ujang penjaga rumah menyambutku dengan sebuah pesan tertulis.
"Ini pesan dari neng Gadis, dia minta mamang menulis ini untuk dikasih ke Den Ivan, kalo Den Ivan sudah pulang" jelas Mang Ujang saatku tanyakan mengenai catatan itu.
"Oh begitu yah, Terima kasih banyak Mang, ini buat membeli sarapan" ucapku sambil memberikan uang tip sekadarnya. Aku bergegas menuju kamar, rumah masih sepi, mungkin rekan-rekan bandku masih tertidur atau mungkin juga belum pulang.

Sulit juga membaca tulisan tangan mang Ujang dan tentu ada beberapa miss-spelled karena Gadis menggunakan logat Jakarta sedang Mang Ujang asli Cianjur yang dibawa oleh Bunbun vokalis band kami.

"Van, dari tadi malem gue coba hubungin elo gak pernah nyambung, keberangkatan gue tertunda karena rumah gue kebanjiran. Jadi gue harus bantuin bonyok dulu bersihin rumah. Oh yah, ada tambahan info mengenai kakak gue yang kabur itu, kabarnya dia kerja jadi penyiar radio, terus bokap juga yakin banget pernah lihat dia diacara televisi pas kebetulan gue lagi nonton band elo yang ditampilin televisi. coba elo cari-cari info dulu tentang stasiun radio disana yah. Van secepatnya elo telpon gue yah, kangen nih".

Ada rasa aneh yang mengusik hatiku, pasti bukan karena penundaan kedatangan Gadis, tapi tentang Marini, kakaknya yang dia akan cari disini. Pikiranku melayang, senyum Arin menyeruak silih berganti dengan senyum Gadis. Mungkinkah Arin adalah Marini, kakaknya Gadis yang minggat 5 tahun lalu, Arin.... Marini... ah nickname!!!, bukankah namaku Affandi menjadi Vandi lalu Ivan.....

"Kayaknya ada yang aneh sama kamu Van, setelah setahun bersama kenapa baru sekarang kamu tertarik mengetahui nama asli saya?" Rupanya Arin dapat mencium perubahan ini.
"Ini bukan tentang kamu Rin, ini tentang aku, aku perlu mengetahui nama aslimu, apakah hal tersebut aneh bagimu?" Aku mencoba memberinya pengertian
"Yah semua memang tentang kamu kok, selama ini apakah kamu pernah mengganggap saya ada, apakah kamu mau tahu bagaimana perasaan saya?"
"lho ini tentang apa?, kok jadi kesana-sana?"
"Van, biar bagaimanapun saya masih memiliki perasaan van, dan maaf jika terlanjur menyayangi kamu merupakan sebuah kesalahan, namun saya tidak bisa berbohong van"
"Ohhhh.. sial" makiku dalam hati, sebenarnya akupun merasakan hal yang sama. Namun hatiku sepenuhnya milik Gadis.

"Nama asliku Marini Mahardika, incase kalo kamu lupa namaku untuk kamu tulis diundangan pernikahanmu tahun depan" kata-katanya datar namun terdengar berat ditelingaku... oh... semuanya seakan berputar sesak dikepalaku.

Kulangkahkan kakiku menuju ombak yang berkejaran dipantai. Suara musik dikafetaria hotel semakin sayup. Rembulan seakan mencemooh, kubaringkan tubuh dipantai ini, menatap awan temaram seburam benakku saat ini. Kucoba memejamkan mata, angin dan deburan ombak membantuku mengusir kemelut diotak.
Suara Arin menyeruak masuk alam sadarku, ah ini bukan imajinasi. Saat kubuka mata, Arin sedang duduk disebelahku.

"Van, saya tidak ingin mengganggu kebahagian perempuan lain, terlebih dia adik saya Van, namun pada akhirnya keputusan kamulah yang saya ingin tahu".
"Hah.... kamu sudah tahu tentang Gadis?" ucapku terperanjat.
"Kamu kira saya tidak ingin tahu dengan siapa saya tidur, saya bukan pelacur van" ucap Arin lirih
"Namun semua terlambat, saat saya mengetahui itu, saya sudah terlanjur menyayangi kamu" Arin masih berucap lirih, ada luka disana... ahhhh, inilah yang aku jaga sejak semula... cinta!!!, cinta tidak boleh hadir disini.
"Tetapkan keputusanmu sekarang van, ini bukan tentang kamu, tapi tentang saya dan Gadis"
"Kamu harus berani mengambil keputusan van, saya tidak mau memiliki seorang lelaki yang plin-plan, dan saya tidak mau Gadis memiliki seorang lelaki yang tidak dapat membuat keputusannya sendiri, keputusan ada ditangan mu Van"

Yah keputusan ada ditanganku, aku harus membunuh perasaan ini disini, cinta, sejak awal aku tidak menginginkan kehadiranmu diantara kami, namun kau muncul juga.
"Stupid cupid, don't mess up on me" makiku lagi dalam hati.

Berat sekali, kerongkongan seakan tercekat, namun berhasil juga kuungkapkan.
"Aku mencintai Gadis lebih dari mencintai diriku sendiri Rin, aku lebih dapat mengenali dan menghormati diriku bersamanya"
Ada isak kecil ditelaga buramnya.
"Tinggalkan saya sendiri Van, saya tidak butuh tatapan ibamu" ucap Arin, matanya memejam, buliran air mata melintas dipipinya, kuberanikan diri untuk mengusapnya dengan punggung jemariku.
"leave me please" erangnya tanpa mencoba menahan jemariku yang sudah mulai membelai lembut rambutnya.
Aku beranjak mengambil jarak dengannya, aku duduk menghadapnya, dia terbaring diantara aku dan tepian laut. Hatiku terbelah, sekeping berada di Jakarta, dan sekeping lagi terkapar dipantai ini.

Klik untuk komentar