masalah itu adalah (bag. 2)

Cara kita melihat masalah merupakan masalah itu sendiri. (lanjutan)

Kita cenderung berfikir bahwa kita melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, bahwa kita sudah obyektif. Namun kenyataannya tdk demikian.

Kita melihat dunia, bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya, atau sebagaimana kita terkondisikan untuk melihatnya, Ketika kita menjabarkan apa yang kita lihat, kita sebenarnya menjabarkan diri kita, persepsi kita, paradigma kita sendiri. Ketika org lain tdk setuju dan berbeda dgn kita, kita cenderung berfikir pasti ada sesuatu yg salah dgn mereka.

Saya katakan, kita memaknai fakta yg kita hadapi sesuai dgn apa yg telah kita alami sebelumnya, kita telah dikondisikan untuk melihat seperti itu oleh pengalaman kita sebelumnya, pengalaman kita itu adalah sumber paradigma, peta dasar kita dan presumsi awal yg menuntun kita dalam memahami fakta itu.

Mari bayangkan sejenak kita sedang dalam kereta api di minggu siang yg tentunya lenggang dan sepi karena bukan hari kerja. Orang2 duduk dgn tenang, sebagian membaca surat kabar, ada yg melamun, sebagian lagi bersandar dgn mata terpejam. Suasana tenang dan damai. Lalu tiba2, seorang pria dan anak2nya masuk kedalam gerbong. Anak2 tsb begitu berisik dan ribut tdk terkendali sehingga segera saja suasana menjadi berubah.
Pria tersebut duduk disebelah saya dgn memejamkan matanya, agaknya tdk peduli akan situasi saat itu. Anak2nya berteriak2, melemparkan barang, bahkan merebut koran yg sedang dibaca org. Sangat mengganggu. Namun pria tersebut tetap tdk berbuat apapun, membuka matanyapun tidak.

Sulit untuk tdk merasa jengkel. Saya tdk dapat mengerti ia dpt begitu tenang membiarkan anak2nya berlarian liar seperti itu dan tdk berbuat apapun utk mencegah mereka, sama sekali tdk bertanggung jawab. Semua penumpang tampak gelisah dan merasa terganggu sambil memandang saya seakan meminta untuk menegur pria disebelah saya tersebut.
Akhirnya dgn segala kesopanan yg saya bisa himpun ditengah rasa jengkel saya pun berkata "maaf pak, anak2 bapak benar2 mengganggu banyak org, mungkin bapak bisa mengendalikan mereka sedikit?".
Org itu mengangkat dagunya seolah baru tersadar akan situasi disekitarnya lalu berkata dgn sedih "Oh maaf, anda benar, saya harus berbuat sesuatu. Kami baru saja dari rumah sakit dimana ibu mereka meninggal dunia tadi malam, saya tdk tahu harus berpikir apa dan saya kira mereka jg tdk tahu harus bagaimana menghadapinya".

Dapat anda bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu? Paradigma saya berubah seketika, tiba2 saya melihat segalanya secara berbeda, dan karena saya melihat dgn cara berbeda, saya berfikir dgn cara berbeda, saya merasa dgn cara berbeda dan saya berperilaku dgn cara yg berbeda pula. Kejengkelan saya seketika hilang, saya pun tanpa diminta tergerak untuk mengendalikan anak2 tersebut begitu pula penumpang yg lain. Sebuah masalah telah terselesaikan dgn solusi yg tidak pernah terpikirkan, inilah sebuah tingkat baru dalam berpikir. win-win solution yg sesungguhnya.

Itulah kekuatan dari merubah cara pandang, merubah paradigma kita akan menghasilkan respon yg berbeda, karena kita berfikir secara berbeda maka kita akan bertindak secara berbeda. inilah kunci dalam menghadapi segala masalah, memperbaiki cara kita memandang masalah akan menghasilkan banyak perbedaan dalam menyelesaikan masalah dan tdk mustahil anda melihat masalah menjadi sebuah peluang. Yup setiap masalah adalah peluang, sampai jumpa dipostingan saya selanjutnya tentang hal ini.

Saya tersenyum (saat saya yg lain) ngotot ingin saya mengaitkan fakta ini dengan ayat (QS:94.5-6) Surely with difficulty is ease, With difficulty is surely ease. But sorry sot, ini postingan saya, he...he...he. Just make your own post my bro.

davidianitzer

Klik untuk komentar