Makassar Guide dadakan

Makassar Guide


Agak sulit saat mengescort rekan2 keliling Makassar, khususnya yg agak narsis.com sama foto2an wkkkkkk. mau foto dimana coba? dibenteng Fort Rotterdam (benteng yg berbentuk penyu) , pantai losari, tanjung bunga, tanjung merdeka atau yg agak keluar kota di Bantimurung yang ada di Maros. aku sih mau aja ngescort kemana2, tapi mengingat situasi sulawesi selatan yg lagi hujan terus bahkan banjir dibeberapa kabupaten sampai menelan korban mungkin 200 orang, kayaknya lebih aman kalo stay arround di kota makassar aja.

Dengan berkilah bahwa, kalo orang kemakassar itu bukan untuk rekreasi mata dengan pemandangan alam, tapi rekreasi rasa, khususnya lidah...wkkkk (gak tahu dapet ide dari mana sampe berani ngomong gitu), akhirnya tiap hari menjelajahi rumah2 makan untuk mencicipi makanan khas Makassar seperti coto, pallu basa, konro dll (ini masuk kategori indikasi geografis (HAKI) yg gak boleh dipatentkan lho).

mencoba bercanda dengan kelakar, "Apa bedanya Coto dengan Soto?" ha..ha..ha, yang pasti banyak jawabannya sampai dengan letak belanga pemasak soto wkkkkk, padahal jawabannya simpel aja, "Kalo Soto pake daging Sapi...nah kalo Coto............ pake daging Capi....", wkkkkkkkkkkkkk

makan seafood sampe mabok silahkan aja, saya bawa kederetan rumah makan seafood disamping Rumah Sakit Stella Maris pinggir Pantai Losari, makan konro bakar disekitaran pasar central dekat lapangan Karebosi, mau makan mie titi, makan kepala ikan (Ulu Juku) dst, puas...puas...puas. sarapan mah gak usah, khan sdh ditanggung hotel wkkkkkkkkkkkk. jadi teman2 selama 3 hari di Makassar kebingungan sendiri, sampe lupa sama acara hunting lokasi foto wkkkkkkkkkkkk.

saat mau pulang, bingung pada mau bawa oleh2 atau sourvenir, mau bawa apa yah????
Songko To Bone (kopiah dari bahan rotan khas sulawesi), Minyak Tawon (yg tutup merah ataupun tutup putih), songket toraja, kerajinan dari kulit kerang dlsb, yah akhirnya aku bawa aja kepusat cendera mata di Jalan Somba Opu, padahal harganya selangit, tapi biarin aja yg penting aman, damai sentosa, rekan2 juga puas wkkkkkkkkk....... saya gak beli apa2. lha buat apaan? tiap tahun juga ke Makassar entah dalam rangka Idul Fitri ataupun dengan alasan lainnya wkkkkkkk...

tapi ada beli satu kaus T-Shirt buat Teh Ayoe (ini juga diingetin sama bokin, kalo gak mah weehhhh mana inget gini2an), Ochepp jangan iri yah, karena buat Ochepp aku bawain tiket PP bekas aku aja degh, kali aja bisa di re-imburse wkkkkkkkkkkkk.....(KCDL).

Pantai Losari itu aneh tapi nyata lho cep, pernah masuk guinness book of record sebagai meja makan terpanjang didunia, orang2 dari daerah pesisir Sulawesi lainnya bingung, lha ini pantai kok bisa ramai padahal kalo mau bandingin indahnya pantai sepanjang jalan di Bulukumba pasti jauh lebih indah, lha ini Losari katanya pantai kok gak ada pasir putihnya wkkkkk... (sambil ngebayangin Kuta Bali yg banyak Bule tepar). Kalo siang lewat pantai losari pada nanya, "mas ini yah yang namanya Pantai Losari, kok sepi?". paling aku jawab "lha iyah ramenya tar menjelang sore sampai pagi, kalo siang panas dung". wkkkkkkkkk.
tapi memang saya akui Pantai Losari kehilangan Jiwanya sejak Proyek Tanjung Bunga dan Tanjung Merdeka berjalan pada awal tahun 2000-an (cmiiw). padahal di Pasar senggol pantai Pare-pare dibuat suasana pantai yang sedikit banyak terinspirasi dari pantai Losari, apakah hanya kota yang ada pantainya???, tampaknya tidak, silahkan berkunjung ke Sengkang ibukota Kab.Wajo, ditepian Sungai La Paduppa (cmiiw maklum dagh lupa2 inget wkkk..) dekat terminal sengkang dibuat pembatas bantaran sungai yang diakui oleh masyarakat disana sebagai replikasi dari pantai Losari bahkan jika malam akan banyak pedagang kaki lima, kios2 karaoke, bahkan pasar kaget akan juga meramaikan suasana malam minggu ditepian sungai itu.

saya padahal merindukan Anging Mamiri di Pantai Losari, begadang menikmati suasana malam dipantai ini bener2 merupakan priceless moment yg gak bisa digantikan dengan keindahan Tanjung Merdeka atau Tanjung Bunga. pedagang kaki lima yang ramah sepanjang pantai losari kini hanya tinggal cerita dan kenangan yang menghias kartu pos atau kartu ucapan lainnya.

Dahulu dipantai itu, setiap jengkalnya aku susuri sambil mengumandangkan lagu2 penghibur diri sendiri dan mudah2an orang lain, bahkan saat malam tahun baru, disaat orang2 bergembira ria bersama sejawat, aku tetap menyusuri pantai dengan sebuah gitar hingga pergantian tahun (kalo enggak, makan apa besok? wkkkkkkk). saat itu (sekitar 1997-1998 atas pendekatan rekan2 komunitas seniman jalanan dkk) Yth. Bapak Agum Gumelar (saat itu Pangdam VII Wirabuana makassar) merangkul kita sebagai komunitas pantai yang wajib menjaga nama baik komunitas dan nama baik kota.

--------------------------------------------

Klik untuk komentar