
Aroma kopi hitam tubruk bercampur wangi gorengan hangat perlahan memenuhi sudut Pasar Babelan, Bekasi. Matahari baru naik sepenggalah, tetapi pasar sudah riuh seperti biasanya. Suara ibu-ibu menawar sayur bersahut-sahutan dengan deru motor yang keluar masuk area pasar. Dari kejauhan terdengar klakson angkot yang sesekali memecah keramaian.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Warkop Mpok Nining tetap menjadi tempat yang terasa lebih pelan dibanding suasana di luarnya. Meja kayunya memang sudah mulai bergoyang, bangkunya pun tak semuanya sama tinggi. Namun justru di situlah orang-orang betah berlama-lama, sekadar menikmati kopi sambil membicarakan apa saja.
Pagi itu Ki Somad duduk menghadap jalan pasar. Ponselnya yang retak di sudut layar sesekali disentuh pelan. Ia tampak serius membaca sesuatu, lalu berhenti sejenak untuk menyeruput kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis.
Di depannya, Bisot sedang sibuk mengaduk kopi susu sambil mencocol bakwan ke sambal kacang.
Beberapa menit berlalu tanpa banyak percakapan.
"Ki..."
Ki Somad mengangkat kepala.
"Lagi baca apa sih? Dari tadi serius amat."
Ki Somad tersenyum kecil, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
"Macam-macam. Lagi baca beberapa analisis soal keadaan dunia. Isinya soal Amerika, Iran, minyak, sampai ekonomi global."
Bisot mengangguk pelan.
"Berat juga ya kalau dibaca pagi-pagi."
"Makanya ditemani kopi biar resep," jawab Ki Somad sambil tertawa pelan.
Suasana kembali hening beberapa saat. Bukan hening yang canggung, tetapi hening yang memang biasa terjadi di antara orang-orang yang sudah lama saling mengenal.
Tak lama kemudian Bisot kembali membuka percakapan.
"Emang lagi seru topik itu ya Ki?"
Ki Somad mengangguk.
"Seru. Tapi kadang yang lebih seru itu komentarnya, bukan kejadiannya."
Bisot tersenyum.
"Nah, ini pasti ada ceritanya."
Trump dan Strategi yang Tak Selalu Tampak
Ki Somad menyandarkan badan ke kursi.
"Ada satu pendapat yang menarik. Belum tentu benar, tapi menarik untuk dipikirkan."
"Apa tuh?"
"Kadang seorang pemimpin memang sengaja terlihat keras, bahkan terkesan membuat kegaduhan. Padahal bisa saja yang sedang dia kejar bukan keributannya, melainkan tujuan yang lebih besar."
Bisot langsung menebak.
"Ngomongin Donald Trump?"
"Iya."
Ki Somad mengangguk pelan.
"Selama ini banyak orang melihat Trump sering berselisih dengan banyak pihak. Iran, NATO, Kanada, Meksiko, bahkan pernah soal Greenland. Ada yang menganggap semua itu blunder. Tapi ada juga yang melihatnya sebagai bagian dari strategi negosiasi."
Bisot mengernyit.
"Jadi belum tentu orang yang kelihatannya ribut itu sebenarnya kehilangan arah?"
"Belum tentu."
Ki Somad tersenyum tipis.
"Dalam politik internasional, apa yang kita lihat di depan kamera belum tentu sama dengan yang sedang dibahas di ruang perundingan."
Dari lapak sayur di sebelah, Bang Udin yang sedang mengikat kangkung ikut menyela.
"Wah... kalau begitu pedagang yang pura-pura cemberut biar pembeli kasihan juga strategi dong, Ki?"
Semua tertawa.
"Bisa jadi," jawab Ki Somad. "Bedanya, kalau pedagang salah hitung paling rugi satu lapak. Kalau negara besar salah langkah, dampaknya bisa terasa sampai ke berbagai belahan dunia."
Bang Udin mengangguk sambil terkekeh.
"Nah... itu baru serem."

Selat Hormuz dan Jalur yang Diperebutkan
Mpok Nining datang membawa sepiring pisang goreng hangat.
"Nih, jangan cuma ngomong. Dimakan juga."
"Siap, Mpok," jawab Bisot.
Begitu Mpok Nining kembali ke dapur, Bisot melanjutkan rasa penasarannya.
"Ki, tadi sempat baca soal minyak. Memangnya sepenting itu?"
Ki Somad mengambil satu pisang goreng.
"Begini. Banyak kapal tanker dari kawasan Timur Tengah melewati Selat Hormuz. Jalur itu ibarat pintu keluar masuk bagi sebagian besar distribusi minyak dunia."
Bisot mencoba membayangkannya.
"Kayak jalan utama truk logistik?"
"Kurang lebih begitu."
"Kalau jalannya macet?"
"Ya pasokan bisa terganggu. Negara-negara yang bergantung pada impor energi tentu ikut waswas."
Bang Udin kembali nimbrung.
"Kalau bayam gue telat datang sehari aja emak-emak pasar udah protes. Apalagi minyak sedunia."
Ki Somad tertawa.
"Logikanya memang mirip. Siapa yang menguasai jalur penting biasanya punya pengaruh yang besar."
Bisot mengangguk pelan. Penjelasan sederhana itu jauh lebih mudah dicerna dibanding istilah-istilah geopolitik yang sering ia baca di media sosial.
Utang Amerika dan Sistem yang Saling Terhubung
Bisot menyeruput kopinya.
"Kalau begitu aku masih bingung satu hal."
"Apa?"
"Amerika katanya utangnya besar. Kok tetap kelihatan kuat?"
Ki Somad tidak langsung menjawab. Pandangannya terlebih dahulu menyapu keramaian pasar yang semakin padat.
"Karena utang negara tidak sesederhana utang warung."
Bisot tertawa.
"Maksudnya?"
"Banyak negara menyimpan cadangan dalam bentuk dolar maupun obligasi Amerika. Sistem keuangan dunia sudah lama saling terhubung. Jadi yang dijaga bukan hanya siapa punya utang, tetapi juga bagaimana menjaga kepercayaan terhadap sistem itu."
"Kalau Amerika goyang?"
"Banyak negara ikut merasakan dampaknya."
Bang Udin kembali mengangkat analogi.
"Berarti kayak pedagang paling besar di pasar ya. Kalau kios dia tutup mendadak, yang lain ikut panik."
"Nah."
Ki Somad menunjuk Bang Udin sambil tersenyum.
"Analogi itu jauh lebih gampang dipahami daripada grafik ekonomi."
Bitcoin, Emas, dan Ramainya Spekulasi
Bisot lalu teringat sesuatu.
"Ki, belakangan banyak yang bilang dolar bakal diganti Bitcoin. Ada juga yang bilang emas bakal jadi mata uang dunia lagi. Itu gimana?"
Ki Somad tersenyum kecil.
"Kalau menurutku, kabar seperti itu lebih sering muncul sebagai spekulasi."
"Maksudnya?"
"Sistem keuangan dunia berdiri di atas kepercayaan. Mengubahnya tidak semudah mengganti merek kopi yang dijual di warung."
Bang Udin langsung menyambar.
"Untung jangan ganti kopi, Ki. Nanti pelanggan kabur."
Semua kembali tertawa.
Ki Somad melanjutkan.
"Bukan berarti teknologi seperti Bitcoin tidak penting. Justru menarik untuk dipelajari. Tapi antara teknologi, investasi, dan sistem keuangan global itu tiga hal yang berbeda. Jangan semua disamakan."
Bisot mengangguk.
"Berarti kita boleh mengikuti perkembangannya, tapi jangan langsung percaya setiap kabar yang viral."
"Itu lebih bijak."
Pelajaran yang Tertinggal di Atas Meja
Mpok Nining kembali datang sambil membawa tambahan pisang goreng.
"Udah ah, dari tadi ngomongin dunia terus. Pisang gorengnya keburu dingin."
Semua tertawa lagi.
Ki Somad mengambil sepotong pisang goreng, meniupnya sebentar sebelum menggigit pelan.
"Tahu nggak, Sot?"
"Hm?"
"Kadang kita memang perlu memahami apa yang sedang terjadi di dunia. Tapi jangan sampai karena terlalu sibuk melihat yang jauh, kita lupa memperhatikan yang dekat."
Bisot memandangi cangkir kopinya.
"Iya juga ya."
"Dari tadi kita ngomong Amerika, Iran, minyak, utang, Bitcoin... padahal yang benar-benar ada di depan kita ya kopi ini, gorengan ini, sama pasar yang tetap ramai setiap pagi."
Ki Somad tersenyum.
"Itulah hidup."
Mereka sama-sama terdiam.
Di luar warung, para pedagang mulai sibuk melayani pembeli. Anak-anak sekolah melintas sambil bercanda. Seorang bapak memanggul karung bawang menuju los sayur. Tak seorang pun tampak memikirkan Selat Hormuz ataupun utang Amerika.
Namun kehidupan tetap berjalan seperti biasa.
Setelah beberapa saat, Ki Somad kembali bersuara dengan nada yang lebih pelan.
"Mungkin yang paling penting bukan seberapa banyak teori yang kita hafal."
Bisot menoleh.
"Tapi apakah teori itu membuat kita lebih tenang, lebih bijak, dan lebih hati-hati dalam memandang hidup."
Kalimat itu menggantung bersama aroma kopi yang belum habis.
Matahari Babelan semakin tinggi. Cahaya kuning memantul di permukaan meja kayu yang mulai kusam dimakan usia.
Obrolan tentang Donald Trump, Selat Hormuz, minyak dunia, utang Amerika, Bitcoin, dan emas akhirnya berhenti begitu saja. Bukan karena semua pertanyaan telah terjawab, melainkan karena mereka sadar bahwa tidak semua persoalan harus selesai dalam satu cangkir kopi.
Bisot kemudian menyadari sesuatu.
Di zaman ketika berita datang silih berganti dan opini berseliweran tanpa henti, yang paling dibutuhkan bukanlah kemampuan menjadi orang yang selalu paling benar.
Yang jauh lebih penting adalah kesediaan untuk mendengar, menimbang, lalu menerima bahwa pengetahuan manusia selalu memiliki batas.
Ki Somad pagi itu tidak sedang mengajari siapa yang harus dipercaya. Ia hanya mengingatkan bahwa kepala yang dingin sering kali lebih berguna daripada suara yang paling keras.
Sebab esok pagi Pasar Babelan akan kembali ramai.
Mpok Nining tetap menyeduh kopi.
Bang Udin tetap mengikat kangkung.
Dan mungkin, di meja kayu yang sama, akan lahir lagi obrolan-obrolan sederhana yang membuat persoalan dunia terasa lebih mudah dipahami, bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk belajar memandang hidup dengan lebih bijaksana.