Tiadalah Daya, Ketika Dia Menunjukkan Kuasa

~ Dan Tiadalah Daya,  Ketika Dia Menunjukkan Kuasa ~




Bada maghrib,  ketika baru saja kututup ayat-ayat terakhir juz 17 bacaan satu hari ini.  Suami yang baru saja pulang dari masjid,  menyampaikan berita itu di telingaku. 

"Neng,  kita tengok Bu Susilo sekarang aja yuk!?  "

Aku mengangguk. Sudah dua hari tetanggaku itu dikabarkan koma. Akibat penyakit yang betah menghuni tubuhnya. Komplikasi katanya.  Ah, beragam nama bersarang tak kenal jeda.  Darah tinggi,  paru-paru,  ginjal,  syaraf terjepit,  maag kronis.  Duhai, betapa Allah amat sangat berkuasa. Amat sangat begitu berkuasa.

Dan pemandangan yang tak pernah kulihat dua tahun terakhir itu kembali menghampar di depan mata.  Tubuh yang lemah, terkulai. Tak sadar.  Hanya selang oksigen, infus dan berbagai alat detektor menghias di sana-sini. 

Tak ada yang bisa dilakukan di ruang yang senyap lagi dingin. Sedingin rasa yang tetiba hinggap. Sebeku tatapan dalam bongkahan harap. Ia hanya diam terbaring.  

Tawa itu sirna. Sapa hangat itu punah. Lunglai. Bisu,  dalam temaram bayang yang berkelebat satu-satu.  Dua tahun lalu,  tubuh ini rutin meminta bekam padaku. 

Ku pikir ia sudah lebih baik karena sudah tak kulihat lagi sapanya dalam sms. Ku pikir ia telah sembuh.  Atau karena kesibukanku???  Entahlah.  Semoga Allah mengampuniku.

Aku memutuskan istighfarku yang tak jeri kulantunkan dalam sesak tertahan. Kubuka jatah juzku untuk hari esok. Aku tak ingin menyamakan bacaan surat Yasiin yang khusyuk terdengar dari bibir tetanggaku.  

Juz 18. Aku terhenyak. Surat Al Mu'minuun.  
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya.  Dan orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna....."

Sejenak rasa sesak itu hilang. Aku memang tak tau arti surat itu ayat per ayat secara detail. Tapi aku tau,  Al mu'minuun berisi hakikat manusia dan seorang mu'min dalam perjalanan hidupnya. 

Seolah aku terkesima. Tak pernah aku membaca sebelumnya.  Allah sedang berbicara kepadaku,  akan sebuah penghiburan. Sebuah peringatan-peringatan yang tersampaikan dengan penuh cinta.  Dan inilah yang coba kutularkan pada tubuh ini.  

Kugenggam tangannya. Ku ingin energi yang meletup sejenak terbagi. Wahai jiwa,  kau tidak sendiri.  

Ruang ICU yang dingin ini berubah hangat.  Membuatku bercucuran keringat. Dan ketika tiba menjelang di ayat-ayat terakhir menyentuh angka seratus.  Tubuhku menggigil. Hebat. Lengan kanan ku terasa amat berat. Kembali dadaku sesak.

Tafadhol tengok ayat 105 - 114 surat Al Mu'minuun. Tak sanggup aku mengetiknya satu persatu. Air mataku menderas. Rabbi, aku tak pandai berbahasa Arab. Tapi entahlah, sepertinya ayat-ayat ini terasa mengantarkan ku pada sebuah takdir baru episode anak manusia. 

Terbata kucoba menyelesaikan bacaanku.  Berbarengan dengan isak yang mulai tak bisa kutahan.  Lalu kusapu pandanganku yang terakhir pada wajah itu. Nafasnya yang tertahan pada selang oksigen yang turun naik. Rambut yang memutih. 

Ah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita ya bu. Hingga kita kembali kepadaNya dengan kebaikan saja. 

Setelah ayat terakhir,  kurasakan jiwaku begitu lapang. 

Hingga kabar itu menyapa 30 menit setelah aku tiba ke rumah. Innalillahi wa inna ilaihi rojiiun.  Selamat jalan bu Susilo.  Semoga Allah merahmatimu.  

"Dan katakanlah ( Muhammad ), "Wahai Tuhanku,  berilah ampunan dan berilah  Rahmat.  Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik " ( QS Al Mu'minuun 118 )

Penulis Mak Sri Suharni
Senin, 14 Nopember 2016

comments

No Spam, Please.

Lebih baru Lebih lama