Pongah yang Tak Mampu Lagi Menengadah

Pongah yang Tak Mampu Lagi Menengadah


"Kita sudah punya data.  Target kemenangan sudah di depan mata. Kalau bicara daerah Kawung, ga usah menguras energi untuk memikirkannya.  Abaikan saja. Tanpa suara dari Kawung, kita udah pasti unggul. Percayalah sama saya ". 

Begitu lantang suara Pongah di depan forum timses pemenangan pasangan calon Walikota - Wakil Walikota Lebaksiu. Pongah begitu yakin. Semua laporan data sudah masuk. Survei membuktikan pasangan andalan nomor urut 3 itu bakal unggul telak dari 3 pasang saingannya.  

Pono tertunduk. Sebagai salah satu yang mewakili Kawung, Pono sadar, daerah basis unggulan petahana itu memang tidak diperhitungkan suaranya.  Tapi, apakah harus dikatakan dengan cara seperti itu?.

Pono menghela nafas, berat. Ruangan yang luas dengan kipas angin itu terasa sesak.  Pono merasakan ia duduk laksana di atas bara. Kegelisahannya jelas terbaca. 

"Balik Kang". Samidi menepuk bahunya. "Kayaknya udah selesai", sambungnya. 

Pono mengangguk, ia perlahan beringsut. Masih terdengar suara Pongah yang penuh semangat mengobarkan pesan kemenangan kepada utusan-utusan dari tiap kecamatan di Kota kecil kelahirannya.  

Keringat Pongah bercucuran. Binar kekuasaan bergelayutan. Rinai kemewahan bertaburan. Bintang seolah telah siap menari di atas tanah seribu Pahlawan. Pono semakin resah dengan tepuk kepayahan. 

Di atas motor tuanya, dua lelaki separuh baya yang masih trengginas itu terdiam. Seolah membiarkan angin malam menerpa wajah mereka. Menerbangkan sesak dan resah. Melunturkan gejolak kegagalan yang meliuk di depan mata.

"Kang,  besuk malem jadi kita rembukan di masjid?" suara Samidi memecahkan kebekuan,  hanya deru mesin motor yang meningkahi malam yang kian pekat. 

"In syaa Alloh, Sam. Wong Pak Saman sudah dua kali rawuh ke rumah saya" ucap Pono. Tetiba resahnya kembali membuncah. Kampungnya sedang dilanda kegaduhan.  

Kentut politik yang berhembus pelan,  namun aroma prengusnya mampu mematikan.  Kematian yang membahayakan. Kematian nurani yang sangat menakutkan. 

Pono mendesahkan sebuah harapan,  semoga gusti Allah memberi sebaik-baik pinuntun akan kebenaran. 

Suara motor kembali mengayun angan dua lelaki yang bersahabat akrab itu menerawang membelah gelap. Angin malam itu terasa kian menusuk tulang. Seiring Pono yang berusaha meluruhkan kegelisahannya dalam pacu yang kian melaju. 

****

Jamaah sholat Isya di Masjid Nurul Iman itu belum beranjak.  Hanya terpecah dalam beberapa kelompok. Sebagian kecil memilih di luar,  merokok di pelataran. Masih dengan sarung,  kopiah dan baju koko kesayangan.

Pono masih terpekur mengahadap kiblat.  Berusaha tunduk berkhidmat pada kalimat-kalimat dzikrullah yang lamat-lamat ia lantunkan. Entah sudah berapa bilangan. Matanya kadang terbuka, kadang terpejam.  Dada nya bergemuruh perlahan. Tanpa sanggup ia sembunyikan.

Haji Aswi menggamit bahunya, "Pak Saman sampun rawuh Mas Pon," tuturnya lembut. 

Pono terhenyak, beringsut ia bangkit menyambangi rombongan yang baru tiba. Pak Saman, yang sudah ditunggu-tunggu warga Kelurahan Ketanggungan, wilayah terluas di Kecamatan Kawung. 

Pak Saman adalah Wakil Camat sekaligus keponakan Lurah Ketanggungan,  Pak Barata.


 ***

Subuh ini begitu kering.  Anginnya semilir menambah dingin. Pelan Pono mengayuh sepedanya,  bada subuh ini ia baru pulang dari mabit semalam seusai syuro dari masjid.  

Pertemuan yang berlangsung panas,  penuh ketegangan. Tapi dalam hati Pono merasa lega. 

Di tengah banyaknya peristiwa-peristiwa di daerahnya yang mewarnai gelaran pilkada,  Pono melihat suatu gelagat baru yang baginya sangat menggembirakan.

Betapa warga desa sekarang telah memiliki kesadaran. Ini kenyataan yang buatnya sangat mahal. 

"Saya ini orang bodo, Mas. Tapi saya tau kalo ini ndak benar. Suara kita ini mau dibayar.  Ini namanya sogokan. Ini dosa tho Mas?" Mas Giman bersuara dalam pertemuan semalam. 

"Warga sini wis sadar, Pak. Duit ratusan ribu itu dipake sebentar udah habis. Lha,  lima tahun terus hidup kita ga di urusi. Gak di openi?  Lha arep opo kabeh-an?" giliran Mas Gimum urun suara. 

"Wis tho Pak Saman. Gowo meneh iku titipane Saking Camat mawon. Sampaikan salam saya saja kepada beliau " tutup Pak Haji Aswi menutup pertemuan.  

Dan syuro itu berlanjut hingga menjelang subuh sepeninggal utusan Pak Camat. Syuro dalam suasana berbeda. Jauh dari keributan. Tapi penuh keteduhan. Terlebih ketika Ridwan, anak Haji Aswi yang lulusan Gontor itu memimpin sholat malam berjamaah dengan suaranya yang sangat menyentuh jiwa.  Laksana lantunan Al Quran dari nirwana.  

Di luar dugaan,  Kecamatan Kawung mencatat record baru. Petahana tumbang. Calon urutan 2 yang tidak pernah diperhitungkan menang telak di ajang pemungutan suara.  

Pono lega. Jagoannya unggul di berbagai tempat pemungutan suara. Walaupun di Kawung hanya menempati posisi kedua. Ia cukup bahagia. Tiga hari lelahnya sangat luar biasa. Tinggal setor hasil penghitungan suara tingkat kecamatan secara manual. Ia akan pulang. Tidur nyenyak,  mengajar dengan tenang. Sambil melanjutkan proyek kegiatan yang dia rencanakan bersama DKM dan teman-teman Gontornya Ridwan.  

Bismillah.  Soal kemenangan sang jagoan,  biar Allah saja yang buat perhitungan.  Pono bersiul pelan di atas roda duanya. Melaju meninggalkan Kawung di belakang. 

"Mas Pon,  kita dipanggil Pak Suprapto,  Mas " tergopoh Samidi menghampiri Pono di kelas.  

Pono mendongak, dihampirinya Samidi yang belum lagi sempat melepaskan helm di kepalanya. 

"Ono opo tho,  Sam?" ujar Pono heran. Suprapto adalah walikota jagoannya yang baru saja terpilih. 

" Wis,  Mas. Pokoknya Pak Prapto nyuruh kita kumpul di tempat biasa. Sekarang". 


****

Pono menatap Pongah. Pandangannya jengah.  Penampakannya tidak seperti yang ia kenal sebelumnya. Kusut,  terlihat lelah dan wajahnya lebih hitam dari biasanya.  

Rupanya keberadaannya di jeruji polsek Kota seribu pahlawan lumayan mengguncang jiwa sang punggawa tim pemenangan. Kasus dugaan money politik atas laporan timses petahana membuat seluruh rekan sesama tim pemenangan kecamatan ikut sibuk mengumpulkan bukti dan data.  

Hilang semua sosok seorang yang penuh percaya diri itu ketika berhadapan dengan rekan-rekan tim semacam Pono dan kawan-kawan.  

Lenyap segala tampilan perlente bak pejabat eksekutif. Daerah yang dulu Pongah agung-agungkan bakal jadi lumbung suara kemenangan, terjun bebas pasca Pongah tertangkap tangan. Masih tertolong dengan suara dari daerah pusat kota yang menurut survei bisa unggul karena pengaruh kampanye sosial media.  

Yang tak diduga adalah kecamatan Kawung,  di sana Suprapto memperoleh suara signifikan yang tak pernah diperhitungkan. Sungguh mengejutkan. 

Tiba-tiba Pono merasa jauh terbawa nuansa yang berbeda. Confident-nya bertambah.  Menatap iba pada wajah Pongah di hadapannya. Pongah yang tak mampu lagi menengadah. 

#maks

Penulis: Sri Suharni Maks 
Senin, 21 November 2016




comments

Lebih baru Lebih lama