Numpang Ngopi di Orientasi Relawan Rumah Pelangi Bekasi

Numpang Ngopi di Orientasi Relawan Rumah Pelangi Bekasi


Materi Asyiknya Menjadi Relawan dari Mak Sri Suharni sudah selesai, sementara panitia (kawan-kawan TBM Rumah Pelangi Bekasi) masih mencoba memasukkan gambar yang saya berikan melalui pesan WhatsApp agar pindah ke laptop dan muncul di layar presentasi yang berupa dinding.

5 menit berlalu tanpa ada hasil.

"Ini pemateri selanjutnya kok gak datang-datang? Kalo jadi pemateri tolong hargai waktu peserta dengan menepati agenda kegiatan", kata saya untuk mengusir ngantuk.

Menurut ahli kesehatan, mengantuk terjadi disebabkan oleh oksigen yang berkurang di dalam sel otak. Padahal, otak memerlukan glukosa dan oksigen untuk bekerja. Ya saya butuh oksigen, tapi lebih utama butuh asupan kafein dan nikotin.

"Siapa sih pemateri sesi ini?," celetuk saya sambil merebahkan badan di atas matras.

"Pematerinya namanya bisot bang," jawab salah satu panitia sambil tertawa menanggapi guyonan saya.

"Loh, berarti saya dong," sambil bangun dan keluar ruangan untuk mencari angin segar.

-------

Sabtu sore, 9 Oktober 2021 saya didapuk untuk mengisi materi mengenai "Literasi Digital" dalam Masa Orientasi Relawan Rumah Pelangi Bekasi, Babakan Kali Bedah, Desa Sukamekar, Sukawangi. 

Saya gak sendirian kok, ada beberapa nara sumber lainnya dalam acara orientasi relawan ini; seperti Sri Suharni Maks dengan materi Asyiknya Menjadi Relawan, Endra Kusnawan dengan materi Mental Block dan Fire Walking, Ari Budiarsyah dengan materi Critical Thinking, Bang Jay dengan materi Pendidikan Organisasi, Muhaidin Darma dengan materi TBM dan Rumah Pelangi Bekasi, Muchsin Ali Mabrur dengan materi Agitasi dan Propaganda,  dan lain-lain.

Acara yang berlangsung selama dua hari (9-10 Oktober 2021) ini juga diisi dengan penampilan dan hiburan musik akustik, serta pembacaan puisi dan monolog. Sayangnya saya gak ikut acara hingga selesai karena ada agenda lain.

Numpang Ngopi di Orientasi Relawan Rumah Pelangi Bekasi


Sesi Literasi Digital yang saya bawakan mengambil tempat di luar ruangan. 

Melingkar duduk bersila sambil menikmati angin sore yang berhasil mengusir rasa kantuk dan memberi suasana berbeda dari sesi materi sebelumnya.

Secara umum, yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat, dan mengomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal.

Namun demikian, saya memilih menjelaskan mengenai 3 kerangka literasi digital Indonesia yang menjadi dasar penting sebelum mengembangkan pemahaman lebih jauh soal literasi digital dan segala tetek bengeknya. 

Saya berharap dengan memahami kerangka ini, setiap peserta nantinya akan bisa mempelajari sendiri mengenai teori maupun praktek dari literasi digital ini selanjutnya.

Berikut sedikit tentang materi mengenai Literasi Digital yang saya sampaikan dalam acara Masa Orientasi Relawan Rumah Pelangi Bekasi.


3 kerangka dasar literasi digital


1. Proteksi 

Dunia Maya adalah dunia entah berantah tempat bertemunya milyaran orang dengan segala potensinya. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan kita selain diri kita sendiri, karenanya hal pertama yang wajib dipahami adalah soal proteksi diri

Perlindungan data pribadi, keamanan daring dan privasi individu Merupakan 3 hal yang wajib kita amankan sebelum berselancar di dunia Maya.

Pada bagian ini memberikan pemahaman tentang perlunya kesadaran dan pemahaman atas sejumlah hal terkait dengan keselamatan dan kenyamanan siapapun pengguna Internet. 

Beberapa diantaranya adalah: perlindungan data pribadi (personal data protection), keamanan daring (online safety & security) serta privasi individu (individual privacy), dengan layanan teknologi enkripsi sebagai salah satu solusi yang disediakan. 

Sejumlah tantangan di ranah maya yang termasuk resiko pesonal (personal risks) masuk pula dalam dalam bagian ini, diantaranya terkait isu cyberbully, cyber stalking, cyber harassment dan cyber fraud.

2. Hak-hak

Ada sejumlah hak-hak mendasar yang harus diketahui dan dihormati oleh para pengguna Internet, sebagaimana digambarkan pada bagian ini. 

Hak tersebut adalah terkait kebebasan berekspresi yang dilindungi (freedom of expression) serta hak atas kekayaan intelektual (intellectual property rights) semisal hak cipta dan hak pakai semisal model lisensi Creative Commons (CC)

Kemudian tentu saja hak untuk berkumpul dan berserikat (assembly & association), termasuk di ranah maya, adalah keniscayaan ketika bicara tentang aktivisme sosial (social activism), contohnya untuk melakukan kritik sosial melalui hashtag di media sosial, advokasi melalui karya multimedia (meme, kartun, video, dll) hingga mendorong perubahan dengan petisi online.

3. Pemberdayaan

Pemberdayaan (empowerment): Internet tentu saja dapat membantu penggunanya untuk menghasilkan karya serta kinerja yang lebih produktif dan bermakna bagi diri, lingkungan maupun masyarakat luas. 

Untuk itulah pada bagian ini, lantas masuklah sejumlah pokok bahasan yang menjadi tantangan tersendiri semisal jurnalisme warga (citizen journalism) yang berkualitas, kewirausahaan (entrepreneurship) terkait dengan pemanfaatan TIK dan/atau produk digital semisal yang dilakukan oleh para teknoprener, pelaku start-up digital dan pemilik UMKM. 

Pada bagian ini juga ditekankan khusus hal etika informasi (information ethics) yang menyoroti tantangan hoax, misinformasi, disinformasi dan ujaran kebencian serta upaya menghadapinya dengan pilah-pilih informasi, wise while online, think before posting.

Untuk lebih jelas soal materi ini silakan download buku Kerangka Literasi Digital Indonesia di SINI.

Sebenarnya panitia sudah meminta saya untuk lebih fokus ke materi jurnalisme warga (citizen journalism), tapi saya rasa waktunya kurang dan akan lebih baik kalau materi jurnalisme warga dibuatkan workshop-nya sendiri agar lebih efektif. (Alesan supaya bisa ngopi bareng lagi hahaha)

Salam

4 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama