AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan Ke 209

AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG) Pekan Ke 209

Jumat, 19 Februari 2021 saya berkesempatan ikut dalam rombongan Sedekah Bareng Nasi Bungkus (SeBarNaBung) yang dimotori oleh Ibu Mutia Farida. Sejarah gerakan atau aksi Sebar Nabung (Sedekah Bareng Nasi Bungkus) ini awalnya dari ide di grup WhatsApp Sisters Smandel (WhatsApp Group untuk muslimah Alumni SMAN 8 Jakarta). 

Ide untuk bersedekah ini panjang ceritanya hingga akhirnya saat ini terwujud dalam bentuk aksi membagikan nasi dan lauknya dalam kemasan (nasi bungkus/nasi kotak) pada setiap hari Jumat untuk makan siang untuk mereka yang membutuhkan.

Aksi yang saya ikuti ini ternyata adalah aksi Sebar Nabung yang ke 209, udah banyak kali ternyata, itulah mengapa saya merasa beruntung bisa ikut dalam rombongan ini. 

Aksi Sedekah Bareng Nasi Bungkus kali ini menyasar warga terdampak banjir di sekitaran Kampung Solokan Pondok Dua dan Kampung Gedongjaya, kedua Kampung tersebut secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi. Letaknya pas di perbatasan antara Kecamatan Babelan dan Kecamatan Muaragembong, keduanya dipisah dengan batas alam berupa sungai yang bermuara di Muara Nawan dan akhirnya ke laut. 

Fotobaper ala-ala

Artikel ini adalah copy - paste - edit -posting dari status facebook Ibu Mutia Farida, mungkin lain kali akan kita bahas lebih jauh soal gerakan Sedekah Bareng Nasi Bungkus (SeBarNaBung) ini. Anggap aja ini baru intro, sebagai perkenalan dengan gerakan Sedekah Bareng Nasi Bungkus (SeBarNaBung).

---------------

AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG)

Pekan ke 209
Jumat, 19 Pebruari 2021
Bismillah.
Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh.
Haii semuaa !

Mohon maaf sebelumnya karena info pasca aksi baru kami release hari ini berhubung sejak Sabtu pagi hingga Senin malam kemarin kami langsung beraksi lagi bagi-bagi nasi dan lain-lain bagi para penyintas banjir di Kota dan Kabupaten Bekasi.


Cerita perjalanan aksi ke 209 ini sungguh penuh kehaluan temans


Bukan hanya karena jauhnya perjalanan dan lamanya waktu tempuh, namun juga karena indahnya pemandangan sepanjang perjalanan itu.

Hamparan sawah yang menghijau (sebagiannya ada yang terendam banjir), pohon ilalang tinggi di kiri kanan jalan serta burung-burung beterbangan yang kicaunya jadi seperti alunan symphoni yang membuai indera kita.

Ditambah lagi cuaca yang cenderung mendung, hawa yang sejuk plus hembusan angin lembut yang rasanya bikin pingin selonjoran lalu rebahan.

Coba yaa, kaum rebahan angkat tangannya.

Ciyus deh, saking indah dan jauhnya perjalanan itu ada yang nyeletuk, "Ini kayak di Lembang yaa."
Terus ga lama ada yang bilang, "Duhh kayak jalan mudik arah ke Jawa deh inii." (maksudnya Jawa Tengah/Timur; red.)


Ketika jam 2 siang belum juga sampai di tempat tujuan, malah ada yang ngomong begini : "Jangan-jangan ini udah ga di Indonesia tapi di Ostralih."
Eettt dahh..ga sejauh itu juga kalik Malihhh.

Ketika naik perahu lihat tiang sutet, katanya itu menara Eifel. Ada tulisan Texas di tembok rumah, dikata kita sudah sampai Amerika.


Hampir 1 jam keliling kampung dengan perahu, ngaku-ngaku sudah sampai kota Timbuktu (yang belum paham Timbuktu ada di mana, sila tanya mbah Bogel ehh Google)
Tobat..tobattt. Kehaluan yang HQQ juga sungguh terlele yaa 

Ya begitulah. Padahal ini masih wilayah Kabupaten Bekasi lho.
Tapi jaraknya kurang lebih sama dengan Jakarta - Brebes.
Dan karena akses jalan yang tidak beraspal plus tergenang disana sini jadi kita ga bisa ngebut malahan kudu lebih waspada. Lumayan sih hanya genangan, bisa cepat hilang dibanding kenangan yang pasti terus membekas dan terbayang (uhuyyy)


Kampung Gedong Jaya SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG)
  Kampung Gedong Jaya  


Kampung Gedong Jaya


Tiba di tujuan pertama Kampung Gedong Jaya di Pantai Harapan Jaya Kecamatan Muaragembong, kami disambut pasukan mbeee yang nampaknya juga pingin ikut antri nasi. Tapi setelah diberi tahu kalau itu bukan makanan mereka, untunglah mereka lekas paham lalu segera pergi. Legaaa.. slamet.. slamettt bawaan kita.Nah setelah para mbeee pergi, baru deh warga mengerumuni kami.


2 ambulan yang membawa logistik full, disambut dengan antusias dan gembira. Mereka hingga terkagum karena biasanya kan ambulan itu sosok mobil menakutkan, apalagi di masa pandemi begini. 
Yang ini ambulannya beda, karena sama sekali tidak membawa pasien atau jenazah. Tapi bawa makanan banyak dan enak-enak pula. Wowww..emejing kata mereka.

Seneng deh bisa lihat senyum bahagia mereka apalagi anak-anaknya.
You know kenapa ? 


Karena ada cake keju plus goody bag juga untuk mereka yang berisi susu, roti, snack, vitamin dan madu, bawaan dari rekan sinergi kita, The Sisters.
Mereka juga bawa pampers, obat gatal dll.
Bikin happy deh pokona mahh 


Kampung Solokan Pondok Dua SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS (SEBAR NABUNG)
 Sungai Pondok Dua 


Kampung Solokan Pondok Dua


Lanjut ke Kampung Solokan Pondok Dua, makin seru perjalanannya. Setelah bolak belok jalan yang tidak lega di Desa Huripjaya, masih tergenang air ditambah harus lewat jembatan pas seukuran 1 mobil di atas kali yang nanjaknya lebih dari 1 meter. 


Bikin deg-degan cuyyy.. bisi ambulan ga kuat nanjak, terus mundur. Belum lagi kalau sampai jatuh ke kali, hiyyyy naudzubillahi min dzalik jangan sampaiiii celaka. Tapi seruuu deh bagi-bagi nasinya karena kita sambil naik perahu. Itu karena jalan daratnya masih banyak genangan jadi lebih mudah jika dibagikan sambil naik perahu. Rasanya jadi kek piknik tipis-tipis gituu..feel so bahagyakkk akutuu 


Menjadi bahagia


Beneran lho,
Menjadi bahagia bukan berarti semuanya sempurna.
Punya apapun, segalanya yang kita mau dan inginkan supaya dapat stempel eksis untuk urusan dunia.

Tapi apa iya itu bikin bahagia ?
Ternyata sama sekali bukan itu temans.

Berapa banyak orang yang punya rumah wevvah tapi malah sering pergi karena tidak betah?
Berapa banyak mereka yang punya uang dan bisa beli makanan enak tapi justru dilarang dokter menikmati?


Yang intinya adalah, bahagia yang sebenarnya tidak terletak dari kesempurnaan yang terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, atau dirasakan melalui panca indera tapi sempurnanya hati untuk dapat menerima segala kekurangan ataupun kelebihan yang ada pada diri kita.


Jadi bahagia itu letaknya di hati, ia tidak selalu terikat dengan kebutuhan jasad dan syahwat. Kebahagiaan juga tidak terikat dengan durasi waktu dan tempat tertentu. Di manapun dan kapan pun, kita tetap bisa merasakan bahagia walaupun hanya memiliki fasilitas hidup yang sederhana.

Perhatikan deh senyum anak-anak yang tengah main air di kali atau di air banjir. Meski bermain di tempat seadanya yang bak water park ala-ala, mereka tetap kelihatan bahagia.


Okeyyaa,
Terimakasih banyak atas doa, support juga partisipasinya para pecandu sedekah.
Semoga rezekinya makin berlimpah lagi berkah.
Aamiin.


Nantikan cerita kami berikutnya yang non stop sejak Sabtu hingga Senin ini berbagi untuk penyintas banjir di beberapa wilayah di Kota juga Kabupaten Bekasi.


Dan hingga Jumat lusa pun rencana kita masih akan berbagi di daerah yang terdampak banjir akibat jebolnya tanggul sungai Citarum.


Kamu penasaran dan mau tahu ?
transfer duluuu ehhh

Ihhh..maafkan yaa kalau jempolnya suka nakalll 


#PanjangUmurKebaikan
#SEdekahBARengNAsiBUNGkus
#AyoBerbagi
#JumatBerkah
#KeepIstiqomah
#JanganKasihKendor
#KitaBisaKarenaBersama


Penulis: Bu Mutia Farida
Selasa, 23 Februari 2021.


JOIN AKSI SEDEKAH BARENG NASI BUNGKUS

Untuk yang mau berpartisipasi dalam aksi Sedekah Bareng Nasi Bungkus (SEBAR NABUNG), silakan hubungi Bu Mutia Farida di nomor WA 087782777930 atau klik gambar WhatsApp di atas.


komentar

Lebih baru Lebih lama