MOGOK NASIONAL

MOGOK NASIONAL BURUH


Ada sebuah kerajaan di sebelah utara kepulauan Madagaskar. Saat ini, sedang ada gonjang-ganjing di kerajaan itu, penyebabnya adalah buruh-buruhnya sedang gelisah karena akan melakukan mogok nasional.


Di sebuah tempat tersembunyi yang terhalang oleh pohon-pohon raksasa peninggalan jaman purba, berdiskusilah para pimpinan buruh. Pimpinan dari berbagai serikat buruh kerajaan. Tempat yang merupakan sebuah ruangan lumayan besar, dan puluhan orang sedang berkumpul di dalamnya.


"Kita harus secepatnya melakukan mogok nasional ini!" seru Ngadiroen, seorang pimpinan Serikat Buruh Elektronik.


"Setuju!"


"Sepakat!"


"Ayo! Gak pake lama"


Berbagai tanggapan dari orang-orang yang hadir.


"Bagaimana cara mogoknya?" tanya Soemirjand, ia adalah salah seorang pimpinan Serikat Buruh Kain Kulit Kayu, terkenal pemberani.


"Stop Produksi! Kita penuhi jalan-jalan!" teriak Kertoelontoe, pemuda yang hampir membakar dirinya di alun-alun kerajaan saat demo PP69 beberapa tahun yang lalu.


"Betul! Sweeping semua pabrik, keluarkan seluruh buruhnya!." Seorang wanita bernama Juliet dengan semangat berteriak sambil mengacungkan tangan kirinya yang penuh gelang emas mulai dari pergelangan hingga siku.


Ngadiroen mengangkat kedua tangannya, meminta hadirin tenang. Kemudian ia berkata, "Mogok dengan cara itu sudah sering kita lakukan, hanya pertama kali yang berhasil, ke sininya kita dibubarin paksa, babak belur dihajar ponggawa kerajaan, belum lagi ancaman preman-preman bayaran dari tuan modal, ada ide lain?."


Hening sesaat.


"Kita coba lagi, asal kita kompak, semua buruh stop mesin produksi, kemaren-kemaren kita gak kompak, makanya gampang dibubarin!," sahut Kertoelontoe dengan semangat.


"Jika tetap dibubarkan paksa oleh ponggawa dan preman bagaimana?."


"Kita lawan!."


"Lawan bagaimana?."


"Ya, kita lawan sampai titik darah penghabisan! Pantang mundur sebelum menang! seperti slogan kita!." teriak Gendoer berapi-api, seorang pimpinan buruh Otomokar.


"Kalo kita di hajar?."


"Hajar balik!."


Ngadiroen menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya berkerut sedih. 


"Jika yang melawan itu aku atau kalian yang ada di sini, aku yakin, kita semua akan berani, tapi beranikah buruh-buruh itu?  Buruh-buruh perempuan? Buruh yang baru kawin? Buruh yang punya cicilan pedati baru? Buruh yang biasa hidup di ruangan berpendingin? Buruh yang istrinya baru melahirkan?."


Ruangan itu hening. Orang-orang yang hadir saling berpandangan.


MOGOK NASIONAL BURUH


"Mereka, buruh-buruh anggota kita harus berani! Lagipula mereka gak akan melakukan kekerasan terhadap buruh perempuan!," sanggah Juliet dengan yakin.


"Siapa bilang mereka gak akan berani menyakiti buruh perempuan? Ingat aksi demo di pabrik obat di ujung kerajaaan? Para ponggawa biadab itu menyemprotkan air merica ke mata buruh-buruh perempuan yang sedang duduk mogok di sana!," sahut Ngadiroen berapi-api.


Juliet terdiam, ia ingat kejadian itu beberapa waktu lalu, karena ia termasuk yang ikut disemprot matanya dengan merica. Pedihnya seperti baru ia rasakan sekarang, tak sadar tangannya menyeka matanya yang tiba-tiba berair.


Ruangan itu kembali hening. Semua orang diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Beberapa saat kemudian Soemirjand bersuara, "Lalu bagaimana baiknya?."


Ngadiroen mengambil sebatang rokok bako yang dilintingnya sendiri, membakarnya, lalu mengisapnya dalam-dalam, kemudian ia hembuskan asapnya perlahan. Semua mata memperhatikan asap itu menari-nari di ruangan, lalu memudar, dan akhirnya hilang meninggalkan bau khas tembakau murahan.


"Begini, sebaiknya ki..."


"Maaf, boleh saya bicara?." 


Seseorang memotong pembicaraan Ngadiroen. Semua orang menoleh ke salah satu sudut ruangan, di mana seorang pemuda kurus, dengan lengan penuh tatto hingga lehernya, berdiri dengan mata yang seperti mengantuk.


Ngadiroen mengangkat dagunya memberi isyarat agar pemuda itu bicara.


"Saya Abutalas, pimpinan Serikat Buruh Kirim-Kirim," katanya memperkenalkan diri. Ia diam sejenak sambil memperhatikan semua orang yang memandangnya dengan tatapan aneh.


"Sebelumnya saya tanya dulu, mogok yang dimaksud itu apakah mogok kerja?," tanyanya entah pada siapa.


"Iya!," beberapa orang menyahut kompak. Ngadiroen mengangguk.


"Apakah mogok kerja harus selalu datang ke pabrik?," tanya lagi Abutalas.


Tak ada yang menjawab. Ada yang menggeleng, ada yang mengangguk. Abutalas tersenyum.


"Jika mogok nasional adalah gak kerja bareng-bareng seluruh buruh di seluruh kerajaan, terus ngapain pergi ke pabrik? Di rumah saja, seperti yang saya instruksikan ke anggota serikat Kirim-Kirim yang jutaan jumlahnya."


Hadirin memandangnya sambil melongo. Abutalas tak peduli tatapan orang-orang, ia melanjutkan.


"Saya instruksikan mereka, jika instruksi Mogok Nasional muncul, gak usah berangkat ke pabrik, diam di rumah, di kontrakan-kontrakan, di kost-kost-an, ngapain buang tenaga berantem dengan preman? baku hantam dengan ponggawa kerajaan yang peralatannya lebih komplit?," papar Abutalas menggebu-gebu.


Para hadirin masih tak bersuara, beberapa mulai mengangguk -angguk.


"Lahhhh! Bilang aja kau takut!," teriak Gendoer meremehkan.


Abutalas menatap Gendoer dengan tajam. Rahangnya bergetar. 


"Gak ada kamus takut dalam hidup saya! Kau kira siapa yang menghancurkan sarang preman kalau bukan anggota serikat kami saat pendopo buruh luluh lantak diserbu mereka? Kau kira siapa yang menjadi martir menahan gelombang pasukan ponggawa agar buruh-buruh lain termasuk anggotamu, dan pabrikmu selamat dari amukan mereka? Saya dan anggota saya! Dan di mana kalian saat itu?? Saat anggota saya mampus dipukuli oleh aparat dan preman? Sampai beberapa orang sekarat hampir mati! Hah!?." 


Gendoer terdiam. Abutalas masih bergetar badannya karena emosi yang diluapkannya barusan. Tak terima dibilang takut. Ngadiroen masih menghisap bakonya, memperhatikan kelanjutannya.


MOGOK NASIONAL BURUH


"Itulah yang saya maksud. Ngapain mengorbankan anggota untuk berperang dengan mereka? Jika masih ada cara yang cukup efektif untuk melakukan mogok kerja. Toh, sama saja. Mesin-mesin berhenti meraung. Kain akan tetap menjadi kain. Pabrik sepi seperti gedung mati. Kecil kemungkinan resiko anggota kita bentrok dengan mereka." 


Semakin banyak yang mengangguk-angguk. Mereka memandang Abutalas dengan kagum. Tak ada lagi tatapan aneh.


"Dan kita sebagai pimpinan yang ambil resiko itu! Kita undang pihak kerajaan untuk diskusi. Jika tak mau, lanjutkan mogok itu. Dan kali ini, gak usah tanggung-tanggung, kita mogok hingga tuntutan kita mereka kabulkan!," kata Abutalas dengan semangat makin menjadi-jadi.


Beberapa orang bertepuk tangan sambil bersorak sorai, setuju dengan usulnya. Kemudian suasana kembali hening, Abutalas tak lagi berbicara, ia sudah kembali ke sudutnya. Semua mata kini memandang Ngadiroen yang tiba-tiba dianggap sebagai pimpinan di situ.


Ngadiroen merenung.  Tak semudah itu pikirnya. Lalu kembali mengisap bako murahnya dalam-dalam. Lama sekali. Kemudian menghembuskan asapnya ke atas. Ke langit-langit, tempat para Langitan berada.


*********


END


Note:

Republik Madagaskar, adalah sebuah negara pulau di Samudra Hindia, lepas pesisir timur Afrika. Pulau Madagaskar adalah pulau terbesar keempat di dunia. Selain pulau utama, beberapa pulau kecil di sekitarnya juga menjadi klaim republik ini, yaitu Pulau Juan de Nova, Pulau Europa, Kepulauan Glorioso, Pulau Tromelin Island, dan Bassas da India. Dan cerita di atas gak ada hubungannya sama sekali dengan pulau-pulau itu. Kesamaan nama dan tempat hanya khayalan ane karena mabok kebanyakan ngopi. Piss!


_________________
Penulis: Yous Asdiyanto Siddik 
Sabtu, 22 Februari 2020


comments

Lebih baru Lebih lama