LIDAH

LIDAH fiksi depresi

“Waaahhhh.... ibu kelihatan cantik sekali... lebih muda 10 tahun, deh.... gaunnya cocok banget... coba lihat belakangnya... tuh.. perfecto, bu... gak nyesel kalo ibu ambil yang ini...” Puji Nanik kepada seorang wanita paruh baya berdandan menor di depannya. Perempuan yang jauh dari langsing itu melenggak lenggok di ruang ganti dengan sebuah terusan mahal yang sedikit nge-press di badan gemuknya. Sambil sesekali membelakangi cermin besar di ruangan itu.

“Aaah, masa sih? Agak ngepass tapi Mbak...” Ucapnya kurang yakin.

“ Ibu habis makan malam kan?” Tanya Nanik tak kehabisan akal.

“ Iyyaa... sih...” Jawab si perempuan.

“Lha... itu, jadi agak kelihatan nge-pass...” Ujar Nanik. “Pesta nya kapan, Bu??” selidiknya lagi.

“Minggu depan sih...” Jawab si Ibu.

“Nnnahhh, masih punya 5 hari bu, mulai besok ibu diet saja, gak usah makan malam. Baju nya bagus  sekali, lho.Kelihatan eksklusif, mewah dan berkelas. Sayang kalo nanti di pesta ada yang pakai... padahal ibu sudah oke sekali dengan gaun ini... mmm gini deh, spesial nih, saya kasih diskon 10% deh, gimana..?” Nanik berusaha meyakinkan.

“Aduh,gimana ya.... budgetnya kan gak segitu, nanti saya gak bisa beli sepatu dan tas nya dong...” Jawab perempuan itu.

Mata Nanik terbelalak, “Ooooh, kalau begitu sekalian aja deh, nanti saya carikan tas dan wedges yang cocok buat gaun ini... saya kasih diskon 15%, gimana...? Mmmm, ada tas tangan limited edition nih dari merk Prada.... Cuma ada 200 pcs di dunia, bener lho. Di Indonesia cuma butik kita yang punya.Wedges-nya dari Burgundy.....bla....bla.....” 

Nanik menggamit lengan perempuan yang menjadi sasaran nya untuk mendapat bonus mingguannya pekan ini. Lumayan buat tambahan bayar kartu kredit yang sudah jatuh tempo 2 hari lalu. Dengan mengerahkan keahliannya merayu dan membujuk customer yang datang di butik tempatnya bekerja.

Malam itu sebelum closing, transaksi di tutup dengan pembayaran kartu kredit perempuan paruh baya yang membeli gaun pesta yang kurang pas dengan ukuran tubuhnya, tas tangan KW 1 dari produk kenamaan dunia yang di bandrol dengan harga original, serta sepasang wedges yang sama sekali tak disarankan di pakai perempuan setengah uzur dengan penyakit rematik di kakinya. 

Tapi semua itu bukan urusan wanita tenaga marketing sebuah butik yang membuka gerai di Mall ternama, yang harga sewanya berharga 1 buah rumah kelas menengah. Yang jelas, bonus mingguan yang menjadi haknya sudah terbayang di depan mata, tak peduli dengan cara yang tidak mulia, pokoknya barang sudah berpindah tangan. Itu saja.

Nanik, wanita seksi 29 tahun, yang bekerja di sebuah butik mewah itu membuka pintu rumah, ia menghempaskan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu. Matanya terpejam pelan, penat melanda, kepalanya seperti berputar, terbayang betapa kacaunya kondisi keuangan keluarganya. Sejak sang suami di PHK 2 tahun yang lalu, dan mereka bercerai karena tak kuat menanggung cobaan hidup, Nanik memutuskan untuk bekerja. 

Sebelumnya, ia sempat menjadi sales force beberapa buah produk, dari alat-alat rumah tangga, kosmetik, peralatan senam, aksesoris, bahkan sandal buatan lokal. Pengalaman pertamanya menjadi seorang tenaga sales door to door, unforgettable-lah. Masih lekat benar dalam ingatanya bagaimana sikap orang-orang yang didatanginya. Ada yang menolak secara halus, ada yang buru-buru masuk ke dalam rumah melihat kedatangannya dari kejauhan, ada yang membanting pintu, sampai ada yang pura-pura baik, menyuruhnya masuk ke dalam rumah, lalu berusaha melakukan perbuatan tak senonoh padanya. 

Nanik jadi pandai sekali memainkan lisannya untuk berbohong. Bahkan hampir tanpa rasa bersalah, bahwa kebohongannya itu berakibat buruk pada orang lain

Ah, namun semuanya menjadikan Nanik piawai dalam hal membujuk orang, di samping karena belajar dari pengalaman, dalam setiap kesempatan, perusahaan tempat ia bekerja selalu membekali para salesnya itu dengan segudang teori bagaimana cara orang agar terpikat dan membeli barang yang ditawarkan. 

Dan hasilnya, Nanik hampir selalu sukses membujuk para pengunjung untuk membeli barang di toko. Namun, dari proses yang ia jalani, ada satu perubahan yang sebenarnya sangat tidak terpuji, Nanik jadi pandai sekali memainkan lisannya untuk berbohong. Bahkan hampir tanpa rasa bersalah, bahwa kebohongannya itu berakibat buruk pada orang lain. 

Tapi ia tak peduli,yang penting, jualannya laku. Ia dan keluarganya bisa makan. Sekarang ia harus menanggung hidup seorang anak buah pernikahannya dengan mantan suami, 2 orang adik dan seorang ibu yang kebutuhannya tak pernah ada habisnya. 

Nanik sadar betul, bila ia keluar dari pekerjaannya, 2 adiknya tak bisa lagi meneruskan sekolah, dan anaknya? Ah, sekecil itu tapi banyak betul keinginannya. Lalu sang Ibu, yang bolak-balik ke dokter karena nyeri pinggang dan diabetes yang kerap kambuh tak kenal situasi.

***

“Bunda, nanti Evan beli-in mobil remote yang kayak Riyan ya... yang gede, ada lampunya.” Celoteh anak semata wayangnya di meja makan ketika mereka sarapan. 

“Iya sayang, nanti Bunda belikan,” ucap Nanik semanis mungkin sambil mengoleskan roti dengan selai.

“Teh, tas Prada yang oren di butik, udah laku belum? Aku masih pengen nih,” rajuk Tami adiknya.

“Kayaknya udah Neng, soalnya kemarin waktu stock taking udah ga ada,” Jawab Nanik santai.

“Iiiih, gantian napa, masak teh Tami mulu sih, kemaren kan dia udah ganti laptop. Sekarang aku dong,” Kilah si bungsu, Euis.

“Emang kamu mau tas juga?” Tanya Nanik.

“ Engga teh, Euis pengen jam tangan, yang kayak di pake Jessica di televisi.”

“iya deh, nanti ya,” jawab Nanik.

“Ihh, kapan teh, minggu depan, Euis kan ulang tahun, buat kado Euis aja atuh.”

Nanik tertawa renyah,’Oh iya, boleh deh kalo begitu.”

“Nik, uwa Hamid mau sunatan si Arif, anak si Hasan. Emak disuruh pulang kampung hari Jumat.” Emaknya muncul dari dapur.

“Oh jadi Mak? Emak mau pulang sama siapa? Nanik ga bisa anter, soalnya kalo akhir pekan, butik rame Mak, mana tanggal muda lagi,” kawab Nanik sambil meneguk kopi terakhirnya di cangkir.

“Ga papa Emak pulang sendiri, kan naik bis cuma sekali, nanti di terminal, si Ujang ditelepon aja suruh jemput Emak. Tapi anter Mak sampe terminal bis ya,Nik.”

“Oke deh Mak,” jawab Nanik sambil beranjak meninggalkan meja makan.

Dalam mobil Nanik memutar otak, bagaimana ia bisa menyediakan uang begitu banyak dalam waktu sesingkat ini. Gajiannya masih jauh dari pelupuk mata, bonusnya... aha, kartu kreditnya mungkin harus menunggu sampai bulan depan. Cicilan mobil... cicilan rumah... cicilan motor Tami... ahh... 

mawar hitam gugur fiksi depresi

Lalu, sudah berapa kah uang butik yang ia tidak setor ke pemiliknya karena habis ia pakai? Nanik juga bingung, bagaimana ia selalu tak mampu menolak keinginan anak dan kedua adiknya, meskipun permintaan mereka tidaklah penting. Bahkan, seringnya menjadi suatu kemubaziran belaka? Lalu darimana ia bisa membayar semua tagihan yang rata-rata sudah tertunggak dalam bilangan bulan.?

Mobil Nanik, hampir menabrak avanza di depannya, adduuuhh, that's close, hatinya berdebar lebih keras. Perlahan keringat dingin mengalir dari dahinya dalam mobilnya yang ber AC. Tangannya seolah menegang.

“Kamu tak pernah mengajarkan hidup sederhana dalam keluargamu, itu sebabnya mereka menjadi sangat konsumtif sekali, mereka semakin menjadi beban buat hidupmu.” 

Sebuah suara seakan bergema dalam mobil. Nanik melemparkan pandangan ke sekeliling mobil, hanya ada dia seorang di sini, lalu siapa yang bicara barusan ? Suaranya jelas sekali terdengar.

“Ssssiiappa?” tanya Nanik pucat.

“Eh ini aku, lidah mu yang berbicara.” jawab suara itu

Nanik menyapu seluruh pandangannya ke seluruh mobil. Benaar tak ada siapa-siapa. Setengah ngebut Nanik memacu mobil ke butik. Sampai di parkiran, Nanik bergegas. Langkahnya setengah berlari. Tak dihiraukannya ucapan salam dari sekuriti dan pegawai Mall seperti biasa. Keringat dingin membasahi tangannya yang terasa lebih dingin.

“ Pagi, Mba Nanik...” Suara Selvi di balik meja resepsionis.

Nanik terkesiap, ia segera sadar. Ia sudah sampai di butik. Diperbaikinya tatanan rambutnya. Lalu sekilas ia melihat di kaca toko, make-up sudah harus diperbaiki. “ Pagi Selvi.” jawabnya sambil tetap berjalan menuju ruangannya.

“Mbak,tadi Ibu Jocelyn pesan, kalau Mba Nanik sudah datang, di suruh menghubungi beliau. Terus juga ada telepon dari Bank BHG tentang kartu kredit Mbak.” Lanjut Selvi.

“Ooh..iya, nanti saya hubungi mereka. Maaf, soalnya tadi HP saya silence, tak baik kalau terima telpon sambil setir mobil,berbahaya.” Ucapnya datar dan dengan senyum tentunya. Selvi mengangguk dan ikut tersenyum.

“Mbaak... maaf...” dari dalam ruang ganti, Amel, muncul.

“Ya, ada apa Mel?” Tanya Nanik tenang.

“Bonus  saya pekan lalu bisa diambil sekarang ga? Saya butuh sekali Mbak, bapak saya mau melanjutkan operasinya lagi. Uangnya masih kurang Mbak.”

Ya, seharusnya bonus Amel dan dua karyawan lainnya itu sudah ia bayarkan,” Oke, begini, sekarang kan kamis, nanti akhir pekan biasanya toko ramai Mel, besok juga ada barang baru yang masuk dari bu Jocelyn, barusan saya disuruh menghubungi beliau. 

Bonusnya dibayar hari Senin saja ya? Sekalian 2 pekan, jadi tambah banyak kan? Bagaimana?” bujuk Nanik, persis seperti layaknya ia lakukan kepada pengunjung toko. Dilihatnya senyum Amel mengembang. Ya, rayuannya berhasil. Dengan senyum lebar Nanik meninggalkan ruang depan.

sedih fiksi depresi

Di dalam ruangan stok, Nanik terdiam. Bu Jocelyn bukan menyuruhnya menghubungi untuk membicarakan re-stok barang, tapi hampir dipastikan beliau menanyakan uang setoran butik yang sudah hampir 1 bulan tak ia bayarkan. Jumlahnya hampir 56 juta rupiah, termasuk bonus 3 karyawan butik. Dalam brankas toko masih ada 15-an juta lagi. 

Lalu HP-nya yang sudah 2 hari dimatikan, menghindari telepon dari bank menagih tunggakan kartu kreditnya, cicilan rumah yang sudah 4 bulan diabaikan. Mobil yang tinggal menunggu waktu diambil paksa oleh debt kolektor dari kantor leasing. Kembali suasana mencekam seperti dalam mobil pagi tadi.

“Apa yang hendak kau katakan kepada pemilik butik, Nanik? Mengatakan bahwa pengunjung sepi seperti yang sudah-sudah? Agaknya kamu harus mencari alasan yang lain,karena Jocelyn sedikit mulai curiga kepadamu.”

Aaahh, suara itu lagi... Nanik berputar mengelilingi ruangan, hanya ada sekumpulan pakaian-pakaian bisu di sana. Lalu matanya mengarah kepada tumpukan tas di sudut ruangannya, merekakah yang bicara.?

“Bukan Nanik, ini aku yang bicara,” kata suara itu lagi.

Nanik meremas rambutnya, setengah berlari ia menuju toilet. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat bayangan wajahnya di cermin, sebuah lidah keluar dari mulutnya, menjulur keluar lebih panjang dari seharusnya. Lidah itu hampir menutupi seluruh wajah cantiknya yang dihiasi make-up tebal mempertegas kecantikannya.

Nanik berusaha menarik lidah itu. Tangannya menggapai-gapai ke semua arah. Lehernya tercekat. Suaranya mengerang parau. Tidak... Nanik tak mau seperti ini. Lalu berkelebatan bayangan Evan yang sedang riang bermain helikopter dengan remote control seharga 1,5 jt. Euis yang berlenggak lenggok dengan jeans mahal seharga 800 ribu, Tami yang melangkah ceria dengan tas Gucci seharga 4 jt. 

Lalu ia mendengar teriakan seorang ibu separuh baya yang jatuh dari lantai dua sebuah ruang pesta karena wedges-nya patah saat akan menuruni tangga, bajunya koyak di bagian perut. Dan perlahan terdengar suara rintih seorang wanita pengusaha warteg yang terluka bakar akibat regulator gas yang dibelinya dari Nanik tidak sebagus yang dipromosikannya.

Aahhh, Nanik akhirnya dapat memegang lidahnya... dicengkeramnya lidah itu... matanya liar mencari-cari... ah, itu dia... ia berlari ke sudut kotak rias, diambilnya sebuah gunting, lalu, kress.... 

Nanik memotong lidah itu dengan gunting. Ia tertawa puas.... darah mengucur deras dari mulutnya, ia berteriak.... aahhh.... dan berlari keluar toilet... keluar toko... tak dipedulikannya lagi teriakan Amel dan Selvi memanggil-manggil namanya.

Nanik berlari dan berlari.. lalu dilihatnya sebuah sungai, airnya jernih, banyak terlihat ikan yang berenang kian kemari di sana.... ahh, tiba-tiba Nanik merasa ingin menjadi seperti ikan. Ditatapnya sungai yang berair jernih di hadapannya, lalu Nanik pun melompat... ia ingin berenang bersama ikan-ikan itu.

Headline surat kabar sore. ”Seorang wanita muda pekerja butik ternama tewas setelah melompat dari lantai 4 sebuah Mall di Jakarta. Wanita itu ditemukan tewas dengan lidah yang terpotong.”


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Penulis: Sri Suharni Maks


komentar

Lebih baru Lebih lama