Air Mata Bapak

Air Mata Bapak
Anakku, pertama kali kau mendengar suara adalah suaraku. Pertama kali kau merasakan dekapan adalah dekapanku. Maka saat kau berduka, biar aku yang pertama kali mengobatinya.
"Bapak kangen kamu nak. Makanya bapak datang buat jemput. Bawa dua anakmu juga." lelaki tua itu tersenyum. Namun matanya meredup. Mungkin berkendara sendirian selama 12 jam membuat ia lelah.

Nina tersenyum, "Pak, Nina nunggu Mas Rian dulu. Dia baru pulang besok. Lagian, Kakak Bila baru sekolah dua minggu."

Lelaki tua itu menghembuskan nafas, sambil tetap tersenyum, "Bapak sudah bicara sama Rian, Nak. Rian mengizinkan kamu pulang sama bapak sore ini juga."

Nina melihat layar HP-nya. WA sang suami di privat keaktifannya. Pesan Nina sejak dua hari lalu hanya ceklis 1. Telponnya pun tak diangkat. Akun Facebook sang suami pun menghilang. Sesungguhnya Nina sedang dalam keadaan resah. Pasca kepergian suaminya untuk dinas luar kota 5 hari lalu, Nina kehilangan kontak sama sekali. Airmata Nina menitik. 

Sang ayah memeluknya hangat. Membelai kerudung biru Nina dengan penuh kasih sayang. Ada getar dalam sentuhannya. 

"Mari pulang bersama Bapak, Nin." Ditatapnya gadis kecilnya dulu yang telah 6 tahun diperistri seorang insinyur lulusan Singapura, Ananto Riansyah. 

Nina mengangguk. Rasa cinta dan rindunya pada suasana kampung halaman, dekat dengan bapak dan ibu yang menyayanginya mengalahkan kebimbangan Nina. Ia segera berkemas. 

Lelaki itu berulang kali melirik kaca spion, dilihatnya putri bungsu yang amat dicintainya itu terlelap tidur di jok belakang. Bersama anak bungsunya dalam pangkuan, Raka yang baru berusia 8 bulan. Sementara Nabila, lelap di kursi depan di sebelahnya, sambil memegang botol susu yang sudah kosong.
Mata lelaki itu basah, teringat telpon sang menantunya 5 hari lalu.

"Maafkan saya, Pak. Saya sudah tak lagi mencintai Nina. Saya akan kembalikan Nina pada bapak dalam waktu dekat ini."

"Mas, biar bapak yang jemput Nina. Jangan bilang kalau kamu sudah tak.mencintainya lagi, dan ingin menceraikannya. Bapak yang akan memberitahu Nina nanti. Beri Bapak waktu beberapa hari lagi. Nanti bapak jemput Nina."

Airmatanya menetes. Hatinya gerimis. 

Anakku, pertama kali kau mendengar suara adalah suaraku. Pertama kali kau merasakan dekapan adalah dekapanku. Maka saat kau berduka, biar aku yang pertama kali mengobatinya.

Malam kian kelam. Airmata lelaki itu kian menderas.

Penulis: Sri Suharni Maks



Terbaru Lebih lama

Artikel Lainnya:

Posting Komentar

Berlangganan Via Email