Ujian Fisik dan Mental itu bernama Pandemi Covid-19

Ujian Fisik dan Mental itu bernama Pandemi Covid-19

Bismillah....

Beberapa bulan lalu dan (entah) berapa bulan lama lagi merupakan bulan-bulan yang berat bagi para nakes (tenaga kesehatan), semenjak Covid-19 merambah dan mengeksiskan dirinya di jagad raya. 

Mereka memang telah terbiasa sibuk dengan adanya penyakit di muka bumi, baik itu penyakit betulan ataupun penyakit jadi-jadian, tetapi dengan bertambahnya 1 jenis virus ini yang begitu cepat meregenerasi dirinya jelas telah menambah kesibukan mereka. 

Ketika pandemik ini menyerang Indonesia, banyak  hal yang tidak pernah menjadi agenda harian para nakes harus menjadi agenda harian mereka, salah satunya dengan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri). Bukan  juga tanpa masalah dengan hal yang satu ini, sempat pula terjadi riak oleh nakes sendiri karena kurang tersedianya APD untuk mereka. 

Tidak berhenti sampai di situ, seiring waktu para nakes satu persatu tumbang, hal itu pun diriuhkan sebagai pahlawan karena pengorbanan mereka sebagai garda di depan dalam hal menyelamatkan para pasien Covid-19, mengorbankan waktu santai untuk keluarga mereka, memasang badan mereka untuk membantu para pasien-pasien mereka. 

Para nakes telah menyuarakan perasaan mereka dengan mengimbau masyarakat tetap di rumah. Alih-alih masyarakat mendengarkan imbauan itu, malah sebagian besar lebih memilih untuk tetap berada di jalan, dengan berbagai alasan. Baik alasan perekonomian ataupun alasan yang paling simpel, namun membuat telinga para nakes memerah, yaitu bosan di rumah

Miris, karena mengingat para nakes yang merasa tidak dihargai pengorbanannya. tetapi masyarakat juga butuh makan, dan pemerintah belum siap untuk menafkahi seluruh  masyarakatnya, seperti negara-negara maju lainnya. Walaupun bantuan digelontorkan baik berupa BLT maupun sembako. 

Negara kita ini memiliki warga negara yang jumlahnya tidak sedikit. Layaknya roti yang dibagi terlalu sedikit dibandingkan jumlah masyarakatnya sendiri. Riak kembali terjadi di dalam masyarakat karena banyaknya bantuan yang tidak tepat sasaran. Tetapi setidaknya bantuan yang walaupun sedikit dapat lah membantu sedikit beban masyarakat negara yang masyarakatnya masih banyak di bawah garis kemiskinan. 
Bersyukurlah karena masyarakat yang merasa mampu masih banyak yang punya rasa empati terhadap masyarakat lainnya yang kurang mampu.
Ujian Fisik dan Mental itu bernama Pandemi Covid-19
Di tengah pandemik, dan segala problematikanya muncullah rumor adanya konspirasi besar-besaran yang dibuat oleh pihak yang dianggap mendapatkan keuntungan besar dengan adanya pandemik Covid-19 ini. Entah ini benar ataupun hanya hoax, yang jelas dalam penanggulangan pandemi ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  

Hampir semua anggaran dialokasikan untuk penanggulangan pandemik Covid-19.  Anggaran dipotong secara besar-besaran dalam rangka dialokasikan kepada seluruh biaya-biaya yang ditujukan guna menanggulangi pandemik ini, tidak sedikit pihak yang merasa dirugikan, tapi untuk hal yang lebih urgen bagi banyak orang, mungkin itulah yang terbaik.

Di mana peruntukan pembiayaan pasien Covid-19, juga tidak lepas dari sasaran hujatan masyarakat, dengan kebebasan bersosial media masyarakat bebas mengaktualisasikan apa yang terjadi terhadap mereka, walaupun menurut saya pribadi hal ini masih perlu diteliti lebih jauh kebenarannya. 

Berita di media massa dan di sosial media menjadi lahan empuk untuk menyerang dan menjatuhkan siapa saja. 

Malah terkadang banyak berita di media mainstream dan sosial media adalah berita pesanan dengan tujuan tertentu. Dan untuk mencuci mindset masyarakat yang membacanya.

Pemerintah juga sudah memberikan kode keras  bahwa seluruh  pembiayaan Covid-19 kelak akan diperiksa secara detail keabsahannya, untuk menghindari adanya korupsi secara masif.

Pandemi Covid-19 ini memang mengguncang banyak pihak, apalagi yang tidak siap secara mental, sehingga menjadi brutal dan melupakan apa hakikat hidup kita di dunia. Pandemik mengguncang kantong-kantong perekonomian masyarakat walaupun ada juga yang tetap bisa bertahan secara ekonomi karena kreatifitasnya untuk bertahan hidup. 

Saat ini saling harga menghargai, saling bantu, dan saling memahami dalam hal positif adalah kunci kita dapat saling menguatkan untuk bertahan hidup. Karena pandemi ini menguji kekuatan bukan hanya secara fisik tetapi juga (terlebih) mental kita sebagai manusia. Tak lupa seraya senantiasa menghambakan diri ke hadapan Allah yang Maha Kuasa. 

Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah yang Maha Besar.

Mamuju, 03 Juni 2020
Penulis: Anna Raehana

Artikel Lainnya:

4 komentar

  1. Halo Mba, pertama kali berkunjung ke sini.

    Penanganan pandemi di Indonesia menurut saya yang paling runyam. Kalau di Arab sana, dari WNI yang tinggal di sana, penduduknya pada nurut sama pemerintahnya, mereka aga banyak komen apalagi menyebar hoax, sehingga kasusnya terkontrol. Kalau di Indonesia saya sudah dalam taraf "mbuh" lah. Apalagi keluarga suami banyak yg nakes, suami juga seorang nakes. Saya tau banget g ada sepeserpun dapat keuntungan dari wabah ini. Yang ada malah keluar biaya sendiri buat APD. Sempet nangis denger fitnahan yang mengatakan covid hoax, konspirasi buat menguntungkan RS. Kayanya mainnya kurang jauh.

    Salam kenal ya Mba. Maaf numpang curhat di sini jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demikianlah mbak :) mungkin akibat rendahnya kualitas pendidikan sehingga sulit bagi sebagian warga membedakan hoax atau berpikir logis, mereka lebih mempercayakan kepada tokoh panutannya, sayang sang tokoh kadang bicara di luar kapasitas sehingga justru membingungkan :D

      Hapus
  2. Bener banget mas, ngga cuman kesehatan aja yang terdampak. Hampir semua sektor kena. Semoga lekas pulih bumi ku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, lumpuh semua. Semoga lekas pulih dari Covid. Amiin

      Hapus

Posting Komentar

Berlangganan Via Email