NYAMANNYA BERHIJAB KARENA-MU

NYAMANNYA BERHIJAB KARENA-MU
Foto ilustrasi: Instagram @dienanshafyah 

Yaahh.. saya bangga menjadi wanita muslimah, saya bangga mengenakan jilbab sebagai identitas dan sekaligus gaya fashion saya. Walau masih terus dan terus belajar, tapi saya bersyukur sudah bisa menutupi diri saya dengan hijab sejak 2002 silam (pada bulan Maret tepatnya). Walau tentu saja tak semudah itu perjalanan hidayah saya berhijab.

Dulu ketika masa remaja masih menjadi kehidupan saya, saya pernah merasakan jatuh cinta pertama kali pada seorang lelaki (remaja juga tentunya). Tak seperti kebanyakan remaja pada umumnya, di usianya yang menginjak bangku SMA sang kakak X ini telah mempraktekkan sunnah Isbal. 
Jadi tentu saja dia adalah orang yang amat sangat jauh dari pergaulan saya. 

Meskipun demikian, sebenarnya kami cukup dekat karena kami mengikuti satu kegiatan yang sama. Dengan jarak usia 3 th, dia memang menganggap saya adik pada mulanya. Walau dari bahasa tubuh, gaya bicaranya, saya sepertinya tahu bagaimana perasaan hatinya.

Dan memang ketika saya menginjak bangku SMA dan sang kakak X telah kuliah di kota lain, kami tetap menjalin pertemanan/persahabatan/hubungan kakak-adik dengan cara kuno 'korespondensi'. Ketika masa liburan, dia masih menyempatkan bertemu dengan saya, dan ketika bertemu inilah mulailah mengalir ajakan-ajakan, saran-sarannya mengenai hijab ini. Yah, memang dari kakak X inilah saya mulai "agak-merasa-tertarik" dengan JILBAB.

Tapi mana mungkin saya langsung berjilbab saat itu juga jika saya hanya merasa tertarik semata? Tak ada panggilan, kekuatan dan keinginan yang benar-benar kuat untuk benar-benar berjilbab. 
NYAMANNYA BERHIJAB KARENA-MU
Foto ilustrasi: intim-adventure.blogspot.com

Saya sendiri berpikir mungkinkah saya "agak-merasa-tertarik" berjilbab hanya karena petuah dari kakak X yang padanya saya menaruh perasaan sangat kuat? 
Hanya karena saya tahu bahwa dia (memang) suka dengan perempuan berjilbab, akankah saya menukar kehidupan remaja saya dengan mulai berjilbab? 

Saya tak berani menjawabnya. Dan saya tak punya nyali untuk memulainya.

Meski demikian, bukan berarti saya tidak tertarik berjilbab. Mungkin saja saya tak berani memulainya, tapi keinginan itu tetap menyelip di hati saya yang terdalam. Hingga suatu kejadian dahsyat membuat saya merasakan kepasrahan total dengan bersimpuh kepadaNya, penuh uraian air mata dan penyesalan mendalam. 

Saya merasakan keputusasaan, batin penuh gugatan kepada sang Ilahi.. dan menangislah saya untuk waktu yang cukup lama. 

Dan ketika semua itu selesai, tiba-tiba saja hidayah itu datang.. entah bagaimana.. saya merasakan keinginan kuat untuk segera berhijab. Dan dengan membaca bismillah, hanya niat kepadaNya.. saya mengubah penampilan saya.

Ketika itu, di keluarga saya masih bisa dihitung yang sudah berjilbab. Ketika saya mengubah penampilan saya, mereka cukup senang dan mendukung, walau tentu saja kaget pada awalnya. Saya berusaha konsisten dengan penampilan baru saya, tak pernah sekalipun saya keluar rumah tanpa mengenakan jilbab saya. Walau pada mulanya saya sendiri merasa panasnya udara dengan balutan busana dan jilbab yang menutup seluruh tubuh.. tapi itu tak lama.. berganti dengan kedamaian hati yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Tak terasa sudah sekian tahun saya berhijab. Saya bersyukur dengan hidayah ini, dan semoga saja saya bisa terus belajar untuk menjadi muslim yang baik, walau tentu saja masih jauh dari sempurna.

29 Januari 2010
Penulis: Retrispur 

Baca juga: Kerudung, Jilbab dan Khimar

komentar

Lebih baru Lebih lama