MAK NUR


- MAK NUR -

Nur tergugu. Keringat jagung mulai menitik satu per satu dari dahinya. Menderas juga di leher dan sebagian tubuh. Tangan kirinya sudah terlalu biasa membersihkan kotoran dengan merogoh lubang dubur jenazah. Hafal benar ia walau tanpa melihat di mana letaknya, bentuk kotorannya. Wajar, keras bahkan cairan semua dibersihkan tuntas. Tanpa sisa. 

"Biar kain kafannya bersih dan tetap wangi. Aib jenazah dijaga." 

Begitu alasan yang selalu Nur ungkapkan setiap anggota tim lain bertanya mengapa Nur harus bersusah payah saat kerap memandikan jenazah. Berlama betah membersihkan sampai tuntas. Bahkan mengeceknya dengan memasukkan kapas lalu mengeluarkannya lagi berulang sampai kapasnya tak bernoda sama sekali. 


Mak Nur telah 25 tahun menjalani "kegemarannya" ini. Mau dibilang profesi kok gak tega, sebab Mak Nur tak mendapat bayaran sepeser pun dari jasanya ini. Kapan pun dibutuhkan ia selalu siap sedia. Pun di tengah malam buta, kadang sendiri kadang bersama tim yang dibentuknya. Timnya tersebar di mana-mana, sampai ke desa tetangga. Mak Nur mau, semua orang yang mengaku Islam bisa memandikan dan mengkafankan jenazah. 

"Itu fardhu kifayah. Berdosa kalo kita ndak bisa," Begitu celotehnya santun.

Mak Nur memberi isyarat kepada Rodiah yang berdiri di depannya untuk mengambilkan kapas. Rodiah dengan sigap menyodorkan gumpalan-gumpalan kapas yang dia telah persiapkan dari kantong bajunya satu per satu. Berarti sebentar lagi selesai. 


Semenit...dua menit... Mak Nur masih terlihat asyik sendirian di balik kain penutup jenazah. Terlihat lama terdiam. Biasanya, setiap membersihkan bagian belakang atau depan, Mak Nur pasti komat kamit berbicara dengan jenazah. Meminta maaf dan nyuwun sewu, sebelum dan selama membersihkan. 

Rodiah dan dua rekannya mulai gelisah. Ingin bertanya namun sungkan. Perempuan sepuh macam Mak Nur, modin kampung di pinggiran ibukota memang di-"luhurkan" di kampung ini. Orangnya santun dan murah hati pula. 

Tetiba ia terkesiap demi melihat sekilas di bawah kaki jenazah terlihat air dari kran mengalirkan rona merah. Darah ! Matanya memandang Mbak Intan rekannya yang mukanya telah pucat ternyata telah lebih dulu melihat kejanggalan itu. Kesenyapan menyergap. Hanya suara aliran air yang keluar dari selang mengisi riak-riak kebingungan. Mak Nur berjibaku sendirian. 


Segumpal kapas berukuran lebih besar dari biasanya menghilang di balik kain penutup. Mak Nur menuntaskan prosesi. Dia memberi isyarat untuk mengganti kain penutup lalu mewudhukan jenazah untuk yang terakhir kalinya sebelum jenazah dikafankan. 

Tak seperti biasanya, Mak Nur bekerja tanpa suara. Hanya nafasnya yang sesekali tersengal. Entah bagaimana ekspresinya, sebab selama bekerja wajah Mak Nur tertutup masker seperti biasa. Kelopak matanya samar terhalang keringat yang menderas. Mengepang rambut, merunut lapis demi lapis kain kafan berjumlah tujuh lembar. Sigap, berbanding terbalik dengan usianya yang senja. 

Rodiah dan rekan-rekannya ikut senyap. Tak berani membuka suara. Sampai selesai jenazah tertutup sempurna. Mak Nur berbenah. Menggamit seluruh tim lalu pamitan ke keluarga jenazah. Cepat dan dingin. Jauh dari kebiasaan Mak Nur yang hangat penuh keramahan. 

Rodiah dan rekan-rekan bergegas. Ia yang rumahnya searah dengan Mak Nur, kebagian membonceng Mak Nur dan mengantarnya sampai ke rumah. Sebuah kontrakan bedeng dengan lorong sempit. 

"Di sini aja, Wat." 

Tepuk Mak Nur lembut di bahu Rodiah. Depan sebuah masjid sekitar 500 M dari gang tempat Mak Nur mestinya diturunkan. Mak Nur memang biasa memanggil Rodiah dengan nama anak sulungnya.

" Di sini, Mak ?," Rodiah mendadak kelu.

"Saya mau sholat," ucap Mak Nur singkat. Lalu meninggalkan Rodiah dengan tanya yang kian bergelayutan. 

***


"Mak... bisa mandikan jenazah ke kampung sebelah?," Tanya Pak Ketua RT tadi pagi. 

"Insyaa Allah bisa," jawab Mak Nur ramah. Wajahnya yang segar menyembul dari balik jendela bedeng kontrakannya yang pengap.

"Yang wafat tamunya Pak Komar, Mak. Dari Semarang," ujar Pak RT. 
"Wong baru dua hari di Jakarta, tadi malam meninggal," lanjutnya. 

"Namanya siapa?," tanya Mak Nur tak seperti biasa. 

" Jumirah." 

Entah kenapa darah Mak Nur berdesir pelan. 

***


"Maafkan aku, Jeng...," ungkap lelaki itu pias. Bersimpuh di depan perempuan hitam manis yang duduk terdiam dengan wajah menunduk dalam. 

"Kamu gak perlu seperti ini, Mas. Gak elok..," Perempuan muda berkerudung sampir itu menggeser kakinya. Risih diperlakukan seperti itu oleh lelaki 36 tahun yang telah 12 tahun menikahinya. 


"Aku minta maaf diajeng. Aku khilaf...," ungkap lelaki itu memelas sambil berusaha memeluk kaki istrinya itu.

Perempuan itu beringsut.
"Kalo kamu bilang baik-baik, Mas, aku pasti mengizinkan kok. Aku tau Mas pingin punya anak, punya keturunan, tapi ndak begini caranya. Ini namanya berzina, Mas. Laknat njenengan," tangis yang ditahannya pecah.

Sejak itu tak ditemuinya lagi suaminya pulang ke rumah mereka. Tak tahan menanggung aib, perempuan yang saat itu masih berusia 30 tahun hijrah ke Jakarta. Nur Asiyah, hidup menyendiri selama lebih dari 25 tahun di belantara ibu kota tanpa sanak keluarga. 

Nur Asiyah, anak kepala desa dari istrinya yang ketiga, yang seorang modin kampung. Tak ada keinginan untuk tau siapa perempuan yang telah merenggut sang suami yang sangat dicintainya dari sisinya. 

Hanya satu nama yang ia tahu dan sempat terucap sumpah dari batinnya yang terluka. Saat itu, jiwa mudanya masih begitu mudah dikuasai emosi yang membara. Memuncak dan menyesakkan dada. Yang menyematkan noda hitam dalam putihnya perjalanan hidup seorang Nur Asiyah.

"Jumirah, di mana pun kau berada, kamu yang akan menghampiriku untuk kumandikan jenazahmu saat kau mati. Dan sumpah suamiku! kalau kalian tidak berzina, akan aku buktikan sendiri." 

Pandangannya nanar, berlarian mengejar bayangan sawah di balik jendela kereta api. Air matanya menitik. 


#maks


Penulis: Sri Suharni




Baca Juga

Artikel ini memiliki 2 Komentar

  1. Jumirah...dari semarang.



    Aku asli semarang mak, tapi ga kenal jumirah

    BalasHapus